Radar Malang Logo

Krisis Guru Belum Ada Solusi

KEPANJEN – Problem kekurangan guru yang terjadi pada banyak sekolah di Kabupaten Malang tampaknya masih akan berlanjut. Di saat pengangkatan tenaga honorer kategori dua (K2) yang tak jelas kapan dilakukan, jumlah guru yang pensiun pun terus bertambah. Menanggapi hal itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Mendikbud RI) Muhadjir Effendy belum memiliki solusi yang tepat dari sisi kebijakan secara nasional. ”Itu terjadi di mana-mana, tidak hanya di Malang,” ujarnya di sela-sela kunjungan ke SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi Jumat siang (14/4).

Saat disinggung sampai kapan moratorium pengangkatan guru bakal berlangsung, dia melempar pernyataan yang dilematis. ”Tidak ada moratorium, cuman tidak ada pengangkatan saja,” ujar mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.

Menurut Muhadjir, tahun ini pemerintah pusat tetap melakukan pengangkatan guru honorer. Namun, kebijakan tersebut diprioritaskan untuk daerah yang masuk ketegori 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal). ”Ada 6.300 tenaga honorer yang akan diangkat tahun ini untuk guru di daerah terpencil,” tambahnya. Saat ditanya apakah Kabupaten Malang masuk di dalamnya, Muhadjir memastikan tidak.

Sebelumnya, kebijakan moratorium pengangkatan guru honorer K2 sempat disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang Abdul Malik, beberapa waktu lalu Dia menyatakan, Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara (Kemen PAN) RI lebih mendahulukan pengangkatan tenaga honorer di bidang kesehatan. ”Selanjutnya, bakal memperhatikan tenaga honorer di bidang pendidikan,” ujar Malik saat menghadiri perayaan hari jadi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-71.

Berdasarkan data yang dihimpun koran ini, kekurangan jumlah guru di Kabupaten Malang mencapai 4.212 orang. Kekurangan paling banyak terjadi di sekolah dasar (SD), mencapai 3.438 guru. Duduk di posisi kedua, kebutuhan guru SMK yang mencapai 416 guru, disusul SMP sebanyak 227 guru, dan SMA kekurangan 131 tenaga pengajar.

Upaya mengurangi angka kekurangan itu sempat dilakukan pada 2016 lalu. Saat itu, ada 423 guru honorer K2 yang diangkat menjadi aparatur sipil negara (ASN). Namun, jumlah itu masih belum bisa berkontribusi nyata. Sebab, tahun lalu, ada 435 guru yang pensiun. ”Rata-rata tiap tahun memang ada 300–500 guru yang pensiun,” terang Kabid Tenaga Teknis Kependidikan dan Non Kependidikan Disdik Kabupaten Malang Suwandi. Krisis guru tidak hanya terjadi di lingkung Disdik Kabupaten Malang.

Di Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Malang, problem itu juga terjadi. Dari data yang masuk hingga Desember 2016 lalu, tercatat ada kekurangan guru Agama sebanyak 480 orang. Sama seperti pernyataan Muhadjir, Kepala Kanwil Kemenag Kabupaten Malang Imron menilai, problem itu terjadi merata di semua tempat. ”Sebenarnya, tidak hanya di Kabupaten Malang, tapi Kota pun juga,” kata dia. Penyebabnya pun serupa, yakni tidak sebandingnya jumlah guru yang pensiun dengan jumlah guru yang diangkat. (by/c3/nay)


BERITA LAINNYA
Tulis Komentar