Radar Malang Logo

Orok yang Dijaga Kawanan Anjing
BERITA TERKAIT

Ketika kamu ingin mengumbar kenikmatan, ingatlah tangis kelaparan orok yang berasal dari tengah hutan. Suara menyayat itu selalu mengusik orang-orang yang tinggal di pinggir hutan. Selalu sesudah itu, diikuti lolongan anjing yang bersahut-sahutan. Dan menjadi senyap ketika kokok ayam menjelang fajar mulai kumandang. Awalnya orang pinggir hutan selalu bertanya: benarkah itu suara orok?

Mereka bergerombol di pos-pos kamling, sambil memasang telinga sepeka mungkin. Ada juga yang berada di atas kasur, menenggelamkan tubuhnya dalam selimut, tetapi matanya berkejap-kejap. Pendengarannya juga terpasang agar suara itu terdengar jelas. Setelah perdebatan berhari-hari, hasil pendengaran bermalammalam, mereka memastikan suara itu memang berasal dari mulut mungil keturunan manusia. Bukan berasal dari embik kambing atau lenguh kerbau. Awalnya, orang pinggir hutan juga selalu bertanya; suara anak siapakah yang berasal dari tengah hutan? Mereka bersama-sama memeta hutan itu. Di antaranya ada yang mencoret-coret dengan pecahan genting pada permukaan tanah di halaman rumah.

Terbentuklah gambar lapisan-lapisan hutan mulai dari pinggir hingga ke tengahtengah. Mereka yang terbiasa mencari ranting kayu bakar, memastikan tak pernah menjumpai ada rumah berdiri di sepanjang hutan. Sekalipun sekadar gubuk dari klaras daun pisang. Hutan itu hanyalah dipenuhi kayu-kayu liar dan pohon-pohon perdu yang berduri. Sepanjang jalan setapak yang dia lintasi tak ada tanda pernah diinjak manusia selain dirinya. Rumput-rumput selalu silang melintang yang butuh dia babat agar dapat menembus belantara. Di dalam hutan itu, tidak pernah kelihatan ada asap yang membumbung, sebagai pertanda ada aktivitas kehidupan manusia di dalamnya. Buah-buahan yang ranum tetaplah bergelantungan sampai codot-codot menyantap, dan meninggalkan secuil di tangkainya. ”Lantas, orok itu tinggal di mana? Dan suara-suara anjing itu?” seseorang di antaranya tertegun.

Orang pinggir hutan yang lain sudah buntu pikiran. Sudah tidak ada lagi gambaran yang masuk akal, perihal tempat tinggal orok itu. Sementara, tiap malam tangis orok kelaparan itu tetap mengudara dan lolongan anjing itu membuat seluruh kampung menjadi terasa senyap. Di antara mereka ada yang pemberani. Si pemberani itu adalah pencari ranting kayu bakar. Si pemberani itu adalah orang yang paling rutin berjaga di pos kamling. Dia memutuskan untuk menjelajahi hutan ketika orok itu mengeluarkan tangisnya.

Di antara mereka, yang lain, juga ada yang bertekad mengikuti si pemberani, meskipun dia tidak seberani si pemberani. Dia akan merasa berani berada di belakang si pemberani. Ketika suara tangis orok itu mulai terdengar, mereka beranjak ke dalam hutan. Mereka tidak hanya berdua, ada sederet orang bergerak selajur. Ada tujuh orang. Mereka berjalan berbaris sambil tangannya mengangkat obor. Barisan obor itu, dari kejauhan, seperti ular api yang ditelan kegelapan ketika mulai memasuki hutan. Si pemberani berada pada barisan terdepan.

Karena hanya dia yang lebih paham lekuk liuk jalan setapak di hutan. Dia juga orang yang paling peka pendengarannya. Jalannya mengikuti arah suara tangis orok yang telah bersahut-sahutan dengan lolong anjing. ”Betulkah itu suara tangis orok?” orang di barisan ketiga mulai ketakutan. ”Bukankah itu suara anak kuntilanak?” orang di barisan kelima menimpali. Si pemberani tidak menghiraukan keluhan orang yang mengekornya. Dia mulai membabati jalan setapak yang mengarah pada suara tangisan di tengah hutan. Pada pertigaan jalan setapak, si pemberani menghentikan langkahnya. Suara itu terdengar mengarah pada cabang jalan setapak yang makin menyempit. Dia mengikuti jalan yang ujungnya hanya dihubungkan dengan lorong seperti mulut gua yang dibentuk oleh tanaman perdu berduri. Dia memasuki lorong itu dengan merangkak. Diikuti orang yang di belakangnya. ”Bolehkah saya menunggu di sini?” kata orang di barisan keempat. Tidak ada jawaban dari kepala ular api. Dia terus menerobos lorong itu. Orang kelima, keenam, dan ketujuh tetap mengikutinya.

1
2
3

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar