Radar Malang Logo

Romo Pencinta Kaum Papa Itu Berpulang

MALANG KOTA – Kabar duka datang dari umat Katolik Malang Raya. Romo Paulus Hendrikus Janssen CM, pendiri Yayasan Bhakti Luhur, berpulang kemarin (20/4) siang setelah sempat dirawat di Rumah Sakit RKZ (Panti Waluya) di Jalan Nusakambangan, Kecamatan Klojen. Jenazah rencananya bakal disemayamkan hari ini (21/4) di Yayasan Bhakti Luhur, Jalan Dieng, Kecamatan Klojen

Rencananya, jenazah juga akan dimakamkan di sana. ”Soal kapan waktunya dimakamkan masih belum ditentukan,” tutur Paulus Mudjijo, kerabat dekat Romo Janssen. Menurut Paulus, Romo Janssen mengembuskan napas terakhir setelah sebelumnya dirawat di rumah sakit selama satu minggu. Dia mengeluh sakit pada tenggorokan dan batuk. ”Tapi sebelumnya sempat dirawat keluar masuk rumah sakit juga,” kata Paulus.

Dia melanjutkan, Romo Janssen lahir di Belanda pada 29 Januari 1922. Dia diutus oleh Gereja Katolik untuk berdakwah di wilayah Indonesia. ”Dia awalnya ditempatkan di daerah pedalaman Kediri setelah masa kemerdekaan,” ujar dia. Paulus menceritakan, Romo Janssen sengaja memilih daerah pedalaman di hutan, bukan di daerah perkotaan yang sudah memiliki fasilitas lengkap.

Saat itu, kata dia, Romo Janssen sangat menyayangi orang-orang yang terpinggirkan. Seperti mereka yang menyandang cacat, miskin, dan orang-orang yang ter pinggirkan oleh keadaan. ”Dan itu tanpa memandang agamanya apa. Baik Islam maupun Khonghucu dilayani sama,” tutur dosen pastoral di Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Malang ini. Paulus melanjutkan, orang-orang terpinggirkan tersebut dianggap sama oleh Romo Janssen, dari segi martabat maupun hak asasi manusia. ”Beliau tidak pernah membeda-bedakan,” kata bapak tiga orang anak ini.

Lantaran kecintaan Romo Janssen pada orang-orang yang terpinggirkan itu, dia kemudian mendirikan Yayasan Bhakti Luhur sekitar tahun 1959. Yayasan ini menerima semua anak yang tidak diterima oleh keluarganya, baik karena cacat fisik atau dianggap nakal yang orang tuanya tidak sanggup mengasuh. ”Beliau mampu menerima dengan sepenuh hati. Padahal, umumnya orang kan suka dengan yang sehat atau cantik. Tetapi, beliau tidak. Karena itu, lebih tepat disebut sebagai bapaknya orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik,” jelas Paulus.

Di samping mendirikan yayasan, Romo Janssen juga sangat peduli dengan dunia pendidikan. Sehingga, dia kemudian mendirikan STP Malang pada 1968. ”Beliau orangnya pekerja keras. Bahkan, dua tahun sebelum meninggal, dia masih mengajar,” tukas Paulus. (zuk/c4/lid)


BERITA LAINNYA
Tulis Komentar