Radar Malang Logo

Eko Siswanto, Dosen UB Kembangkan Motor 6-Tak

Anda mungkin sudah tidak asing dengan jenis mesin 2-tak maupun 4-tak. Tapi bagaimana dengan mesin 6-tak? Teknologi yang tengah dikembangkan Laboratorium Proses Manufaktur Universitas Brawijaya (UB) ini disebut-sebut lebih bertenaga dan ramah lingkungan.

WARTAWAN: KISNO UMBAR

SEBAGAI seorang akademisi, aktivitas harian Eko Siswanto tergolong padat. Selain disibukkan dengan agenda mengajar di kelas dan bimbingan skripsi, Eko ber tanggung jawab atas Laboratorium Proses Manufaktur I (dulu dikenal sebagai la boratorium teknik mekanik) di kampus UB. Seperti yang terlihat Rabu siang (19/4). Seusai membimbing tugas akhir mahasiswa Teknik Mesin Fakultas Teknik UB, Eko bergegas menuju laboratorium.

Di tempat itulah, Eko mengaplikasikan ilmu yang didapatkan selama ini. Termasuk, ilmu yang dia peroleh di Yamaguchi University, Jepang. Empat tahun belakangan ini, atau terhitung sejak 2013, Eko mengembangkan mesin 6-tak (atau enam langkah). Mesin tersebut masih berwujud prototipe. Eko memodifikasi mesin motor 4-tak Honda CB 125 cc keluaran tahun 1970-an.

Sekilas, kelihatannya tidak ada perubahan besar dari mesin itu. Meski sebenarnya, Eko sudah mengubah cylinder head mesin tersebut sedemikian rupa, hingga berkapasitas 6-tak. Pria 47 tahun ini me ngungkap kan, mesin 6-tak harusnya sudah bisa menggantikan keberadaan mesin 2-tak maupun 4-tak. Mesin teknologi lama itu dianggap boros bahan bakar. Di dunia permesinan, mesin 6-tak sebenarnya bukan hal yang asing. Sejumlah ilmuwan dari berbagai negara juga tengah mengembangkan mesin 6-tak.

Tapi, mesin yang dikembangkan oleh dosen Teknik Mesin UB ini berbeda. ”Mesin 6-tak yang sudah lebih dulu dikembangkan, yakni mesin generasi pertama masih boros bahan bakar. Sebab, belum memanfaatkan teknologi injeksi,” ujar bapak tiga anak tersebut. Selain itu, mesin yang banyak dikembangkan di luar negeri menggunakan dua bahan bakar. Yakni solar dan air. Sementara, mesin yang dikembangkan Eko hanya menggunakan satu jenis bahan bakar, yakni bensin. ”Penemuan mesin 6-tak UB ini sudah menggunakan satu jenis energi, tidak memerlukan proses sinkronisasi. Sehingga, mesin bisa bekerja dengan baik. Penggunaan bahan bakarnya juga bisa efisien sekitar 20 persen,” ungkap pria kelahiran 17 Oktober 1970 itu.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar