JawaPos.com – Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini resmi menjabat sebagai Presiden United Cities and Local Goverment Asia Pacific (UCLG ASPAC), Jumat (14/9). Langkah awal, Risma akan mulai menyusun serangkaian program pembangunan kota negara Asia Pasifik Oktober mendatang di Korea Utara.

Risma tidak menyebut secara rinci apa dan bagaimana programnya. Dia hanya mengaku, sudah menyiapkan sejumlah program sebagai solusi atas beberapa permasalahan yang ditemui.

Dia akan memaparkan programnya itu, pada rapat anggota UCLG ASPAC pertamanya Oktober mendatang di Korea Utara. Pertama, ia akan memaparkan soal perubahan iklim (climate change) yang berkaitan dengan pemanasan global dan pembangunan sumber daya manusia.

“Pada akhir masa jabatan (sebagai Wali Kota Surabaya), saya ingin berbagi dengan kota di negara lain. Terutama dampak global warming. Karena beberapa kota di Asia Pasifik ini rentan terhadap itu,” kata Risma di Dyandra Convention Center, Surabaya, Jumat (14/9).

Masa jabatan Risma yang kurang lebih tinggal dua tahunan memang menjadi alasan utama. Dirinya menganggap, permasalahan yang diangkat tersebut menjadi hal yang paling urgent.

“Saya juga akan berbagi pengalaman menciptakan kota ramah anak. Karena ada beberapa wilayah kota di negara anggota UCLG ASPAC yang masih rawan tindak trafficking,” kata Risma.

Selain itu, Risma menjelaskan, mengembangkan; memajukan dan mengelola kota butuh waktu lama. Karena tiap kota punya kondisi dan permasalahannya masing-masing. Terutama soal wilayah kota dengan kasus human trafficking dan tingkat kemiskinan yang tinggi.

Oleh sebab itu, butuh penanganan dan peran langsung dari pemerintah kota masing-masing negara. “Jadi, enggak bisa saya beri solusi pada semua masalah. Lha saya ngurus Surabaya saja 8 tahun,” katanya.

Sementara itu, Sekjen UCLG ASPAC, Bernardia Irawati menyatakan optimismenya atas terpilihnya Risma. Menurutnya, kinerja Risma di Surabaya sudah terbukti baik.

“Kota Surabaya yang dulu kotor dan panas sekarang sudah hijau. Selain itu, Surabaya selama kepemimpinan Risma banyak meraih penghargaan,” kata Bernardia.

Selain itu, apa yang sudah diterapkan di Surabaya juga dapat diterapkan di banyak kota. Padahal APBD Surabaya juga terbatas. Tapi tetap bisa berinovasi dan berkreasi.

“Nah, itu tantangannya. Karena kunci kekuatan kota juga ada partisipasi dari masyatakatnya,” tuturnya.

Terkait pemilihan Risma sebagai Presiden UCLG ASPAC, Bernardia menegaskan bahwa, memang tidak ada proses voting atau pemungutan suara oleh anggota UCLG ASPAC lainnya. Selain karena hanya Risma kandidatnya, negara di Asia Pasifik memang berbeda demgan UCLG di level dunia.

“Pernah ada voting saat kandidatnya Pakistan dan India. Itu terjadi pada 2012 lalu. Tapi untung hanya ibu Risma kandidatnya. Jadi, memang tidak ada voting. Berbeda dengan UCLG tingkat dunia,” katanya.

JawaPos.com – Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini resmi menjabat sebagai Presiden United Cities and Local Goverment Asia Pacific (UCLG ASPAC), Jumat (14/9). Langkah awal, Risma akan mulai menyusun serangkaian program pembangunan kota negara Asia Pasifik Oktober mendatang di Korea Utara.

Risma tidak menyebut secara rinci apa dan bagaimana programnya. Dia hanya mengaku, sudah menyiapkan sejumlah program sebagai solusi atas beberapa permasalahan yang ditemui.

Dia akan memaparkan programnya itu, pada rapat anggota UCLG ASPAC pertamanya Oktober mendatang di Korea Utara. Pertama, ia akan memaparkan soal perubahan iklim (climate change) yang berkaitan dengan pemanasan global dan pembangunan sumber daya manusia.

“Pada akhir masa jabatan (sebagai Wali Kota Surabaya), saya ingin berbagi dengan kota di negara lain. Terutama dampak global warming. Karena beberapa kota di Asia Pasifik ini rentan terhadap itu,” kata Risma di Dyandra Convention Center, Surabaya, Jumat (14/9).

Masa jabatan Risma yang kurang lebih tinggal dua tahunan memang menjadi alasan utama. Dirinya menganggap, permasalahan yang diangkat tersebut menjadi hal yang paling urgent.

“Saya juga akan berbagi pengalaman menciptakan kota ramah anak. Karena ada beberapa wilayah kota di negara anggota UCLG ASPAC yang masih rawan tindak trafficking,” kata Risma.

Selain itu, Risma menjelaskan, mengembangkan; memajukan dan mengelola kota butuh waktu lama. Karena tiap kota punya kondisi dan permasalahannya masing-masing. Terutama soal wilayah kota dengan kasus human trafficking dan tingkat kemiskinan yang tinggi.

Oleh sebab itu, butuh penanganan dan peran langsung dari pemerintah kota masing-masing negara. “Jadi, enggak bisa saya beri solusi pada semua masalah. Lha saya ngurus Surabaya saja 8 tahun,” katanya.

Sementara itu, Sekjen UCLG ASPAC, Bernardia Irawati menyatakan optimismenya atas terpilihnya Risma. Menurutnya, kinerja Risma di Surabaya sudah terbukti baik.

“Kota Surabaya yang dulu kotor dan panas sekarang sudah hijau. Selain itu, Surabaya selama kepemimpinan Risma banyak meraih penghargaan,” kata Bernardia.

Selain itu, apa yang sudah diterapkan di Surabaya juga dapat diterapkan di banyak kota. Padahal APBD Surabaya juga terbatas. Tapi tetap bisa berinovasi dan berkreasi.

“Nah, itu tantangannya. Karena kunci kekuatan kota juga ada partisipasi dari masyatakatnya,” tuturnya.

Terkait pemilihan Risma sebagai Presiden UCLG ASPAC, Bernardia menegaskan bahwa, memang tidak ada proses voting atau pemungutan suara oleh anggota UCLG ASPAC lainnya. Selain karena hanya Risma kandidatnya, negara di Asia Pasifik memang berbeda demgan UCLG di level dunia.

“Pernah ada voting saat kandidatnya Pakistan dan India. Itu terjadi pada 2012 lalu. Tapi untung hanya ibu Risma kandidatnya. Jadi, memang tidak ada voting. Berbeda dengan UCLG tingkat dunia,” katanya. 

(HDR/JPC)