Sudah lebih dari 24 hari ini, Mevlan Savero Suhariyanto terbaring lemah di ruang perawatan Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. Bocah berusia enam tahun ini mengidap penyakit kanker darah langka, Juvenile Myelomonocytic Leukemia (JMML).

 

MIFTAHUL HUDA

 

Aprilia Mayariska terlihat muram begitu keluar dari ruang high care unit (HCU) RSSA. Sudah lebih dari tiga minggu, Aprilia mau tak mau harus mengakrabi ruang itu. Bergantian dengan suaminya, menunggui sang putra, Mevlan Savero Suhariyanto.

Selama menjalani perawatan, Mevlan jarang tersenyum. Lebih banyak mengeluh badannya yang terasa sakit. Keseharian Mevlan hanya diisi dengan berbaring di kasur rumah sakit, memandangi pintu, atau langit-langit kamar yang tidak berubah.

”Biasanya, dia ceria. Entah kenapa akhir-akhir ini kondisinya sering drop,” papar Maya–sapaan akrab Aprilia Mayariska.

Maya menceritakan, Mevlan kali pertama mengeluh  perut bagian kanan bawahnya sakit pada 2014 lalu. Kala itu, Mevlan masih berusia 1,5 tahun.

 

 

”Ketika saya cek, ternyata ada usus yang menonjol. Kemudian, dia divonis terkena hernia,” terang dia.

Tak lama, kaki Mevlan acap kali lebam-lebam. Mevlan pun harus menjalani operasi. ”Saat itu, Mevlan harus operasi untuk hernianya. Kemudian, dia  dinyatakan sembuh dan kembali pulang,” papar dia.

Seusai operasi, lebam-lebam di tubuh Mevlan tak kunjung hilang. Bahkan, bertambah parah. Sampai suatu ketika, wajah Mevlan pucat dan harus kembali ke rumah sakit.

”Satu tahun kemudian, Mevlan divonis terkena anemia aplastik. Ketika dibawa ke UGD, kondisinya drop, Hb (Hemoglobin) tinggal 3,5 (gram/dl) dan trombosit tinggal 10 ribu (per mikroliter),” jelas perempuan berkacamata ini.

Pada kondisi normal, anak seharusnya memiliki 11–13 gram/dl Hb. Sementara trombosit normal antara 150 ribu–400 ribu per mikroliter.

Anemia aplastik adalah kelainan darah yang serius. Sejak saat itulah, Mevlan harus dirawat secara intensif. Setiap empat hari sekali, Mevlan harus melakukan transfusi darah.

”Kami tidak berani membawa Mevlan pergi jauh-jauh dari rumah sakit. Meski kondisinya sempat membaik, kami harus terus mengawasi,” kata dia.

Ketika baru dinyatakan mengidap anemia aplastik, lagi-lagi Mevlan harus menahan sakit yang lain. Dia harus menjalani operasi hernia yang kedua. ”Saat itu, bagian tubuh sebelah kirinya yang kena, akhirnya harus operasi lagi,” imbuhnya.

 

Setelah melakukan perawatan panjang, diagnosis dokter terhadap penyakit Mevlan berubah. Setelah dilakukan tes, dia ternyata menderita Juvenile Myelomonocytic Leukemia (JMML). ”Sampai saat ini, kami tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Datangnya tiba-tiba,” kata Maya lirih.

Bulan Maret 2019, tubuh Mevlan kembali drop. Dia mengalami pembengkakan jantung dan juga limpa. Bahkan, bagian kaki juga tidak bisa digerakkan. ”Entah kenapa kondisinya terus seperti ini. Rasanya saya tidak tega,” ujar dia sambil berkaca-kaca.

Kalaupun ada yang membuat Maya masih bisa tersenyum itu adalah Mevlan tergolong bocah yang tidak rewel. Setiap hari, dia makan teratur dan mengonsumsi obat-obatan. Baik obat yang diminum maupun yang melalui infus.

”Makannya banyak banget. Ini tadi, sebelum jam makan siang, dia sudah minta makan lagi. Tapi badannya kecil, hanya 19 kg,” kata Maya.

Lebih lanjut, Maya mengungkapkan, satu-satunya cara untuk membuat Mevlan sembuh adalah dengan menjalani operasi sumsum tulang. Tentunya, membutuhkan biaya yang sangat mahal. Apalagi, operasi tersebut hanya bisa dilakukan di Singapura, Malaysia, Thailand, atau India.

”Dokter menyarankan, operasi dilakukan di Singapura atau di Thailand, tapi mahal sekali,” ujar dia.

Adapun, untuk perawatan Mevlan selama ini, Maya mengandalkan BPJS Kesehatan. Selain itu, ada pula bantuan dari keluarganya.

”Saya ibu rumah tangga, anak saya ada tiga, Mevlan dan dua adiknya. Sesekali juga jualan online shop. Sementara, suami bantu goreng kerupuk di usaha milik saudara. Namun, kalau waktunya jaga anak, ya, ditinggal. Menyesuaikan sama anak aja,” terang dia.

Tak pernah pupus harapan Maya untuk melihat anaknya sembuh. Selama ini, Maya juga sudah berupaya mengumpulkan donasi.

Di tengah upayanya itu, ujian selalu saja datang. ”Satu bulan sebelum Mevlan sakit, suami saya di-PHK. Banyak yang mau amal, tapi urung melakukannya setelah melihat rumah yang kami tinggali. Padahal, itu milik saudara, saya hanya numpang. Katanya kami terlalu berlebihan,” kata dia sambil menangis.

Perempuan berusia 27 tahun ini menambahkan, saat ini, dia masih mempertimbangkan terapi khusus untuk Mevlan. ”Selama ini, dia hanya melakukan fisioterapi saja. Sebenarnya, harus kemoterapi, kami masih mikir dulu. Kalau Mevlan jadi kemo, rambutnya akan rontok. Saya dan suami mau ikut gundul, supaya Mevlan tidak merasa sendirian,” ujar dia sambil berlinang air mata.

Pewarta               : *
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Indra Mufarendra