JawaPos.com – Mantan Ketua PP Muahammadiyah Amien Rais menghadiri Milad ke 106 Muhammdiyah di Islamic Center, Surabaya, Selasa (20/11). Pada kesempatan itu, Amien menegaskan bahwa Muhammadiyah harus punya sikap pada Pemilihan Presiden (Pilpres). 

Artinya Amin menginginkan, Muhammadiyah harus menentukan pilihan atau menyatakan mendukung salah satu kubu. Meskipum tidak harus terang-terangan menyebut nama salah satu pasangan capres atau cawapres. 

Ia mencontohkan, sebut saja memilih Capres dan Cawapres yang menentang kriminilisasi ulama atau yang tidak suka ingkar janji. “Jadi, misalnya Ketua PP Muhammadiyah mengatakan terserah, tentu akan saya jewer. Itu nggak betul,” kata Amien di Islamic Center, Surabaya, Selasa (20/11). 

Menurut Amien, Pilpres hanya menyediakan satu kursi untuk satu Presiden dan Wakilnya. Kecuali, lanjutnya, sikap Muhammadiyah terhadap kontestasi Pileg. 

Amien memaklumi jika Muhammdiyah yang demokratis membebaskan kadernya dalam memilih caleg. Dia menyadari jika Muhammadiyah juga ada di beberapa partai antara lain, PKS; PAN; GOLKAR; dan PPP.

“Kalau Pileg saya bisa paham. Monggo, tapi kalau Pilpres itu hanya satu kursi dan sangat menentukan. Karena, kita kabinet presidensial,” tegas Amien. 

Selain ketegasan sikap, Amien juga mengingatkan, jangan sampai ada kader Muhammadiyah siapapun yang menggunakan istilah kasar, misalnya sontoloyo. 

Amien menganggap, hanya kader Muhammadiyah yang salah hingga melontarkan ujaran tersebut. Sebab, dikatakan olehnya, istilah sontoloyo berasal dari kosakata yang pernah digunakan mantan Presiden RI Soekarno untuk menyebut orang Indonesia takut melawan penjajah. 

“Itu Muhammadiyah yang enggak bener. Saya mengatakan, Muhammadiyah enggak boleh sontoloyo. Tapi, itu enggak usah dibesar-besarkan. Tampang Boyolali dan genderuwo, enggak usahlah itu,” katanya.

(HDR/JPC)