Empat kali menjadi juara pertama sejak 2017 sampai 2023, tahun ini Tim Reog Brawijaya harus legawa menempati posisi kedua di Festival Grebeg Suro Ponorogo. Penampilan mereka yang mengusung tema khusus sukses menghibur penonton.
Setiap tahun, Tim Reog Brawijaya mengusung tema khusus saat mentas di Festival Grebeg Suro Ponorogo.
Setelah tahun lalu membawakan tema Hasta Brata, pada event tahun ini yang digelar 5 Juli lalu, mereka membawa tema Kidung Condrowati.
Kidung memiliki arti merupakan doa atau harapan.
Baca Juga: 970 Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang Mengabdi di 70 Desa
Sedangkan condrowati merupakan pemerintahan. Pesan yang ingin mereka sampaikan yakni setelah proses pemilihan presiden bulan Februari lalu, ada doa dan harapan agar pemerintahan selanjutnya berjalan dengan baik.
”Tahun lalu konsep Hasta Brata itu tentang sosok yang ideal untuk kepemimpinan, bertepatan dengan sebelum pemilu. Saat ini pemilu sudah selesai, dan kami memiliki harapan untuk pemerintahan yang baru,” kata Pembina Tim Reog Brawijaya Denny Widhiyanuriyawan.
Harapan dan doa kepada pemerintahan yang baru itu digambarkan melalui tokoh yang ada dalam cerita Reog Ponorogo.
Seperti tokoh klono sewandono, yang biasa dimainkan pria dengan mengenakan topeng merah.
Klono sewandono diceritakan merupakan raja dari Kerajaan Bantarangin.
”Klono pada penampilan kami digambarkan sebagai pemimpin yang bisa mengayomi, pemimpin bijaksana dan bisa memahami apa yang dikehendaki masyarakat,” jelas Denny.
Kemudian tokoh lainnya yakni warok tua.
Tokoh itu diperankan oleh laki-laki yang memiliki jenggot dan kumis panjang.
Serta badannya yang gemuk.
Warok tua pada tema Kidung Condrowati digambarkan sebagai penasihat kerajaan.
Fungsinya sebagai kontrol kepada pemerintahan.
Harapannya agar ada satu pihak yang bisa memberikan pengawasan atau nasihat jika ada kebijakan dari pemimpin yang kurang tepat.
Baca Juga: UKT Mahal, Ini 4 Pilihan Beasiswa untuk Kamu yang Kuliah di Universitas Brawijaya
”Kalau warok muda, jathil (kuda) dan bujang ganong lebih memberikan spirit kepada masyarakat. Khususnya kepada generasi muda untuk memajukan bangsa,” jelas Dosen Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) itu.
Diselipkannya tema di setiap pementasan itu dilakukan agar penonton tidak bosan.
Meski begitu, Tim Reog Brawijaya tetap mengikuti pakem yang ada.
Mereka hanya menguatkan karakter dan filosofi dari setiap tokoh.
”Tema ini yang belum dimiliki tim lain, kalau pakem ceritanya semua sama. Prabu klono dan singo barong berebut dewi songgo langit. Penambahan tema itu yang membuat kami berbeda,” sambung Denny.
Hasilnya, dalam sembilan kali keikutsertaan di Festival Grebeg Suro Ponorogo, Reog Brawijaya sudah menyabet empat kali predikat juara.
Tiga di antaranya secara tiga tahun berturut-turut. Mulai 2017 hingga 2019.
Kemudian satu juara lainnya diraih pada tahun 2023.
Pada tahun 2024, Reog Brawijaya harus puas di posisi kedua.
Juara pertama diraih Reog Gajah Manggolo dari SMAN 1 Ponorogo.
”Meskipun tidak juara kami sudah menampilkan yang terbaik. Reog Brawijaya ini tidak mengincar kejuaraan semata, kami memiliki misi untuk pelestarian budaya,” kata Denny.
Dalam pelestarian budaya, kiprah Tim Reog Brawijaya memang tak perlu diragukan.
Pada 2019 lalu, mereka diminta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Madagaskar untuk tampil dalam event pertukaran budaya.
Selanjutnya, pada tahun 2023 Tim Reog Brawijaya kembali dipercaya untuk tampil di luar negeri.
Baca Juga: Ratusan Lowongan Kerja Tersedia di Brawijaya Career Expo 2024
Pada tahun lalu, mereka perform di hadapan masyarakat Thailand.
Tahun depan, Reog Brawijaya sudah dipesan KBRI China agar tampil di event pertukaran budaya.
”Saat tampil di Madagaskar, kami tinggal satu barong di sana. Kami melihat beberapa waktu lalu, barong dari Reog Brawijaya dipakai dalam salah satu event.
Itu kebanggaan tersendiri bagi kami,” beber pria asli Ponorogo itu.
Selain pelestarian budaya ke pihak eksternal, Tim Reog Brawijaya juga aktif melakukan sosialisasi di dalam kampus UB.
Sebab, belakangan minat kaum laki-laki untuk menjadi penari cukup menurun.
Sehingga, perlu regenerasi yang baik untuk menjaga nama Reog Brawijaya tetap eksis.
”Problem kami sekarang regenerasi, banyak penari yang sudah lulus, tapi penggantinya belum banyak. Kekurangan penari laki-laki tidak hanya di UB saja, di tempat lain juga kekurangan,” keluh Denny. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana