MALANG KOTA- Isu tentang biaya pendidikan terus menjadi polemik yang tak habis-habis.
Setiap tahun ajaran baru selalu menjadi perdebatan.
Yang terbaru menyangkut uang kuliah tunggal (UKT) di perguruan tinggi.
Menurut guru besar Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr Djoko Saryono MPd, polemik tahunan itu tak terlepas dari jargon pendidikan gratis yang kerap didengungkan para politisi untuk meraih simpati.
“Janji pendidikan gratis ternyata tidak didukung oleh hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya. Dalam hak-hak ekonomi dan sosial budaya, tidak ada jaminan bahwa pendidikan tinggi itu gratis,” ujarnya saat berbicara dalam Roadshow Festival Literasi yang digelar di Galeri Literasi Toko Buku Togamas Jl Dieng, Kota Malang, Jumat (19/7).
Djoko mengatakan, komersialisasi pendidikan dan pendidikan gratis selalu menjadi perdebatan di kalangan aktivis.
“Setiap tahun lolongan tentang biaya pendidikan yang mahal, biaya pendidikan yang tidak terjangkau, dan komersialisasi terus bergema. Apakah kita akan terus berbicara tema ini?”
Di depan puluhan peserta yang memenuhi Galeri Literasi Toko Buku Togamas, Djoko menuturkan, lebih penting dari itu adalah mempertanyakan mana yang lebih menjadi prioritas dari negara ini.
Ekonomi dulu atau pendidikan dulu. Sebab, hal itulah yang menjadi dasar dan menentukan arah kebijakan tentang pendidikan di negara ini.
“Oke, ekonomi harus diprioritaskan sebelum pendidikan, tapi harus disesuaikan dengan kebutuhan. Pendidikan yang baik akan berdampak positif pada ekonomi dan keuangan,” tandas guru besar pendidikan bahasa dan sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) itu.
Djoko juga mengkritik fenomena masifikasi pendidikan yang terjadi saat ini di mana pendidikan semakin menjadi barang dagangan.
Jika dulu orang bersekolah untuk mencari ilmu, sekarang orang bersekolah untuk mendapatkan ijazah demi bekerja.
“Tujuannya sudah berbeda,” kritiknya.
Untuk diketahui, Roadshow Festival Literasi itu digelar selama empat hari sejak 18-21 Juli 2024.
Selain orasi dari Prof Djoko Saryono, ada pula workshop kepenulisan yang dipandu oleh penulis Eko Prasetyo yang dikenal dengan buku-bukunya yang mengkritik praktik pendidikan di Indonesia. (*)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana