MALANG KOTA – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) resmi berganti nama menjadi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) pada 2025.
Tak hanya berganti nama, jalur penerimaan juga mengalami sedikit perubahan.
Empat jalur penerimaan yang dibuka masih tetap meliputi domisili, afirmasi, mutasi, serta prestasi.
Persentasenya yang bisa dibuat berbeda.
”Saat ini sedang kami siapkan skemanya. Namun untuk sementara ada perubahan persentase,” kata Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Muflikh Adhim kemarin.
Yang pertama, persentase jalur domisili untuk SPMB SMP.
Pada tahun ajaran sebelumnya, persentasenya sebesar 50 persen.
Ke depan rencananya dibuat menjadi 40 persen.
Kemudian pada jalur afirmasi akan ditambah dari yang sebelumnya 15 persen menjadi 25 persen.
Sedangkan jalur mutasi atau murid yang orang tuanya pindah tugas tetap lima persen.
Untuk jalur prestasi prestasi akademik tetap 20 persen seperti tahun lalu.
Sementara prestasi non-akademik, dari 5 persen rencananya ditingkatkan menjadi 10 persen.
“Jadi total untuk jalur prestasi sebesar 30 persen,” imbuh pejabat eselon III B Pemkot Malang tersebut.
Untuk SPMB SD, persentasenya relatif tidak ada perubahan.
Namun, seluruh skema masih dimatangkan.
”Insya Allah akan kami umumkan Maret mendatang. Sebab, pada April ada uji kompetensi dasar (UKD) dan Mei pelaksanaan SPMB,” jelas Adhim.
Ditanya terkait siswa yang tak lolos SPMB 2025, Adhim menjawab masih ada sekolah swasta yang bisa menjadi pilihan.
Apalagi sekarang ada Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda) untuk siswa di sekolah swasta.
Bosda bisa mendukung sekolah swasta untuk pembelajaran siswa kurang mampu.
“SD, SMP, MI, maupun MTS bisa dapat Bosda sebesar Rp 65 ribu per siswa yang disalurkan setiap bulan,” terang Adhim.
Namun, pemberian Bosda disesuaikan dengan kemampuan daerah masing-masing.
Pada 2025 lalu ada pengurangan jumlah siswa yang mendapat Bosda.
Jatah setiap sekolah tidak sama.
Sebagai contoh, ada sekolah dengan 700 siswa, tahun ini kemungkinan hanya mendapat jatah bagi 200 siswa.
“Jadi setiap sekolah berbeda-beda. Ada persentase masing-masing,” pungkas Adhim. (mel/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana