KABUPATEN Lubang di jalan layang atau flyover Lawang menyita perhatian relawan dari Komunitas Arek-Arek Lawang (Arela).
Sebab, setiap malam hampir selalu ada pengendara sepeda motor yang terperosok dan jatuh.
Mereka pun berinisiatif menambal lubang pada Kamis malam (6/2), mulai pukul 22.30 sampai tengah malam.
Delapan relawan dikerahkan untuk menambal lubang-lubang jalan.
Ada yang bertugas menabur pasir dan koral, ada juga yang mengatur arus lalu lintas.
Sebanyak 20 lubang di tandai dengan cat lebih dulu, kemudian ditutup dengan aspal.
“Sekali kegiatan penambalan habis sekitar Rp 700 ribu. Dananya dari swadaya teman-teman. Kebetulan tadi malam ada kontraktor penggarap jalan. Jadi aspalnya dari mereka,” kata Ketua Komunitas Arela Bastian Nova Pratama ketika dihubungi kemarin (7/2).
Bastian menjelaskan, kedalaman lubang di jembatan layang itu bervariasi.
Ada yang sekitar 5 sentimeter saja.
Tapi juga ada yang sampai 15 sentimeter.
Cukup untuk membuat pelek ban motor bengkok dan mengunci satu roda mobil.
Sebenarnya, pendataan dengan menandai lubang jalan sudah dilakukan tahun lalu.
Tapi, penambalan secara swadaya baru mulai dilakukan sekitar sebulan lalu.
”Awalnya ditambal menggunakan semen. Kemudian ada kontraktor jalan yang melapisi tambalan dengan aspal buton. Ternyata, tiga hari berikutnya rusak lagi dan tambah dalam,” papar Bastian.
Terkikisnya aspal yang hanya melapisi corcoran itu juga merusak tambalan swadaya dari Komunitas Arela.
Faktor hujan dan kendaraan bertonase besar menjadi penyebab utama rusaknya tambalan itu.
”Sudah banyak kecelakaan yang terjadi akibat lubang di jalan layang tersebut. Setidaknya dalam satu malam bisa sampai dua sepeda motor yang terperosok dan jatuh,” ungkap dia.
Sebenarnya, jalan di bawah fly over Lawang juga banyak yang berlubang.
Tapi, pihaknya masih memantau dulu apakah tambalan aspal di jalan layang awet atau tidak sampai tiga hari ke depan.
”Kalau rusak lagi ya akan kami tambal lagi,” tandasnya. (biy/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana