RADAR MALANG - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterapkan di Indonesia memiliki perbedaan signifikan dibandingkan dengan program makan siang bersama di Jepang.
“Yang membedakan program MBG Indonesia dengan Jepang adalah Indonesia tidak memulai dari kelompok kecil, melainkan serentak langsung pada semua kelompok sasaran. Pekerjaan luar biasa yang butuh dukungan semua pihak,” ujar Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN, Nyoto Suwigyo, dalam seminar ilmiah di Jakarta pada Kamis (6/2).
Nyoto juga menekankan bahwa keberanian pemerintah untuk menjalankan program ini secara serentak didukung oleh kekompakan antara pemerintah, pihak swasta, perguruan tinggi, hingga media.
Pada 6 Januari 2025 dengan uji coba langsung yang difokuskan untuk meningkatkan status gizi anak-anak hingga ibu hamil.
Langkah ini bertujuan untuk menunjang keberhasilan dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Kami sadari Jepang berhasil, karena itu uji coba MBG di Indonesia yang baru saja kita mulai ini, harus berhasil. Jadi prinsipnya trial and success, bukan trial and error. Kita cari bagusnya sehingga pelaksanaan MBG di Indonesia, uji coba langsung yang terbaik,” jelas Nyoto.
MBG tengah berfokus pada tiga aspek utama regulasi yang tepat, administrasi yang baik, dan pembangunan infrastruktur pendukung.
Pemerintah bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk TNI/Polri, Kementerian Kesehatan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), serta Kantor Staf Presiden (KSP), untuk memastikan regulasi yang mendukung program ini.
Pengelolaan dana MBG dilakukan dengan sistem administrasi yang ketat guna memastikan bantuan sampai ke sasaran yang tepat.
Selain itu, penyediaan dapur gizi menjadi prioritas, dengan saat ini sudah tersedia 246 dapur dari target awal 932.
Target ini akan terus meningkat hingga mencapai 5.000 dapur dan selanjutnya 30.000 dapur yang tersebar di seluruh Indonesia.
MBG bukan sekadar program pembagian makanan, tetapi juga memastikan kandungan gizi sesuai dengan standar Kementerian Kesehatan.
“Rujukan yang dilakukan Jepang, kami coba kombinasikan dan akhirnya tujuan MBG seperti itu,” kata Nyoto.
Selain itu, setiap menu dalam MBG disusun oleh ahli gizi di masing-masing daerah dan dirancang untuk satu atau dua minggu ke depan agar bahan baku dapat disiapkan dengan baik.
Makanan juga dikemas dalam wadah standar keamanan pangan untuk menjaga kesehatan masyarakat dan mencegah risiko keracunan.
Badan Gizi Nasional akan melakukan pemantauan berkala setiap tiga bulan dan enam bulan sekali.
Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur progres dan mengidentifikasi hal-hal yang perlu diperbaiki dalam pelaksanaan MBG di seluruh Indonesia.(FD)
Editor : Aditya Novrian