Dulu orang sering berseloroh, jika iklan sirup sudah mulai sering lewat di televisi, itu pertanda bahwa Ramadan sudah dekat.
Tim kreator iklannya tentu sudah melakukan survei mendalam, mengapa membuat konten iklan yang demikian.
Ada alasan alasan yang kuat di baliknya.
Mungkin itu berkaitan dengan tradisi yang hidup di masyarakat kita setiap Ramadan tiba.
Maklum, Ramadan memang bukan momentum biasa.
Ini ibadah kolosal yang dilakukan selama sebulan penuh di negeri yang muslimnya menjadi mayoritas.
Siangnya berpuasa, malamnya beribadah.
Semua dila kukan bersamasama, beramai - ramai.
Makanya di bulan itu suasananya terasa benar benar berbeda.
Karena istimewa itulah, keluarga dan komunitas muslim sering menyiapkan hal-hal yang istimewa pula untuk menyambutnya.
Untuk buka puasa–yang menjadi waktu yang paling ditunggu-tunggu, misalnya, hidangannya dibuat berbeda dibanding hari-hari biasa diluar Ramadan.
Tidak perlu mewah.
Sederhana pun cukup.
Seperti kolak, yang isiannya bisa berganti-ganti tiap hari: kacang ijo, pisang, atau ketela.
Itu adalah hidangan istimewa yang selalu saya tunggu tiap menjelang buka puasa sambil menanti suara blanggur dari Masjid Jamik Malang waktu masih kecil dulu.
Di rumah, di langgar, di masjid, banyak yang menyediakannya.
Kalau pun bukan kolak, minumnya harus manis.
Teh pun cukup.
Fenomena inilah yang sepertinya ditangkap oleh tim kreator iklan di tivi-tivi itu.
Makanya, tiap menjelang Ramadan, iklan-iklan sirup, kecap, santan, atau bahan bahan masakan lain semakin rajin berseliweran.
Menawarkan berbagai produk yang bisa menjadi alternatif bagi umat Islam untuk menjadikan momentum Ramadan terasa lebih istimewa.
Namun, bukan tentang iklan itu yang ingin saya bahas lebih jauh.
Melainkan soal frasa “istimewa yang tidak perlu harus mewah atau megah untuk mewujud kannya”.
Berpuluh, bahkan beratus ta hun, kita sudah diajari ten tang hal itu setiap Ramadan di negeri ini.
Para leluhur kita mengajarkannya lewat kolak.
Kolak dibuat dari bahanba han yang bisa didapat dari kebun sendiri.
Pisang, ketela, terkadang nangka, adalah bahan isian yang tak perlu harus ke pasar untuk menda patkannya.
Demikian pula santannya yang bisa diperas dari kelapa di belakang rumah.
Toh, itu sudah bisa mem buat seisi rumah bahkan kampung semringah.
Ramadan tahun ini, kita akan menjalaninya dengan situasi yang agak berbeda di banding tahun lalu.
Yaitu dengan terbatasnya anggaran yang dimiliki oleh pemerintah.
Termasuk yang ditransfer ke daerah.
Karena itulah kita harus bisa lebih bijaksana dalam menyikapinya.
Yang membuat bersyukur, alhamdulillah, kita mengawali pemerintahan kali ini tepat menjelang Ramadan tiba.
Ada banyak nilai di dalamnya yang bisa kita ambil dan implementasikan bersama untuk mewujudkan Kota Malang Mbois Berkelas ditengah tan-tangan keterbatasan anggaran yang demikian.
Yang utama, tentu soal efisiensi sebagaimana di gaungkan Presiden Prabowo Su bianto.
Ini selaras dengan salah satu nilai etik dalam Ramadan, yai tu menahan diri.
Seperti di sampaikan para ulama, itulah hakikat puasa sesungguhnya.
Mereka yang tidak mampu menahan diri, nilai puasanya bisa jatuh.
Bahkan tidak bernilai sama sekali, kecuali sekadar haus dan lapar.
Saya dan para kepala daerah lain yang sedang menjalani retret kali ini juga sedang dilatih untuk menahan diri itu.
Nilai etik kedua adalah empati atau kepedulian.
Bukankah puasa mengajarkan kita untuk ikut merasakan penderitaan kaum papa?
Dalam konteks pesan presiden diatas, anggaran harus benar benar dialokasikan untuk program prioritas menyejahterakan rakyat.
Saya sendiri bersama Sam Ali Muthohirin, wakil wali kota, sudah bersepakat bahwa program-program prioritas untuk rakyat yang menjadi janji kami tidak akan terkena efisiensi.
Seperti beasiswa, seragam siswa gratis, seribu event untuk membangkitkan UMKM, dan penyelesaian problem perkotaan.
Efisiensi diarahkan untuk halhal lain.
Yang ketiga, nilai etik yang bisa kita petik dari Ramadan adalah kesederhanaan.
Walaupun berbuka puasa adalah saat yang paling ditunggu tunggu, kita dilarang untuk berlebihan dalam mengonsumsi makanan.
Bahkan walaupun kita mampu untuk membeli hidangan yang mewah dalam jumlah banyak sekalipun.
Apalagi di saat kita harus berhemat anggaran seperti sekarang.
Dalam hal ini, sekali lagi, kolak adalah contoh “sederhana tapi istimewa” dari para leluhur kita.
Apalagi jika itu dibuat dari bahan-bahan yang bisa diambil sendiri dari kebun belakang rumah (hal yang diinginkan pula oleh pemerintahan di bawah Presiden Prabowo sekarang: swasembada pangan).
Sederhana tapi istimewa.
Dengan semangat ini, insya Allah kita bisa mewujudkan Kota Malang Mbois Berkelas Bersama-sama.
Selamat menyambut Ramadan!
Lembah Tidar, Magelang,
27 Februari 2025
Dr Ir H Wahyu Hidayat MM
Wali Kota Malang
2025-2030
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana