RADAR MALANG - Wakil Presiden Filipina, Sara Duterte, melontarkan kecaman keras terhadap penangkapan ayahnya, mantan Presiden Rodrigo Duterte, oleh Kepolisian Filipina berdasarkan surat perintah Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Rodrigo Duterte kini telah diterbangkan ke Belanda untuk menghadapi persidangan terkait kebijakan kontroversialnya dalam kampanye melawan narkoba.
Sara Duterte menyatakan bahwa tindakan tersebut adalah bentuk penindasan serta penganiayaan, sekaligus penghinaan terhadap kedaulatan Filipina.
“Ini adalah penghinaan terang-terangan terhadap kedaulatan kita dan terhadap setiap warga Filipina yang percaya pada kemerdekaan negara kita,” pernyataan ini dikutip dari laporan kantor berita lokal Rappler.
Baca Juga: Cetak Gol Cepat Lewat Conor Gallagher, Atletico Madrid Malah Tersingkir, El Real Lolos Adu Penalti
Meskipun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Filipina telah menyetujui pemakzulan terhadapnya pada Februari 2025, Sara Duterte tetap menjalankan tugasnya sebagai wakil presiden karena proses tersebut masih menunggu persidangan di Senat.
Keputusan akhir mengenai posisinya akan ditentukan setelah sidang Senat selesai.
Penangkapan Rodrigo Duterte terjadi di Bandara Internasional Manila saat ia kembali dari Hong Kong.
Keluarga Duterte mengaku tidak diberitahu mengenai pemindahan mantan presiden tersebut ke Belanda.
Baca Juga: Ian Maatsen Sumbang Gol, Aston Villa Lolos 8 Besar Liga Champions Disaksikan Pangeran William
Putri bungsu Duterte, Veronica Duterte, melalui media sosialnya mengungkapkan kekesalannya dan mendesak masyarakat untuk menyadari situasi ini.
“Mereka mengambil ayah kami, menempatkannya di pesawat, dan tidak memberi tahu kami ke mana. Orang-orang bangunlah,” tulis Veronica di Instagram, menyertakan foto sebuah bus kecil di lapangan terbang.
Sara Duterte dilaporkan telah berangkat ke Amsterdam pada Rabu, 12 Maret, untuk mengatur tim hukum yang akan membela ayahnya dalam persidangan ICC.
Sementara itu, Veronica Duterte berencana mengajukan permohonan habeas corpus ke Mahkamah Agung Filipina guna memaksa pemerintah membawa kembali Rodrigo Duterte ke tanah air.(NR)
Editor : Aditya Novrian