RADAR MALANG - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memerintahkan pemecatan massal di Voice of America (VOA) dan sejumlah media lain yang didanai oleh pemerintah AS.
Langkah ini memperjelas niat Trump untuk memangkas lembaga penyiaran yang selama ini dianggap berperan penting dalam menyebarkan pengaruh AS di dunia.
Pemberhentian ini dikabarkan melalui email staf kontrak VOA setelah sehari seluruh karyawan diliburkan, email tersebut menginformasikan bahwa mereka akan diberhentikan pada akhir Maret.
Berdasarkan laporan AFP, email tersebut juga menegaskan bahwa para karyawan kontrak harus segera menghentikan semua pekerjaan serta tidak diperbolehkan mengakses gedung dan sistem agensi mana pun.
Baca Juga: Donald Trump Umumkan Kebijakan Larangan Negara Mayoritas Muslim Masuk AS
Sebagian besar tenaga kerja VOA terdiri dari pekerja kontrak, terutama mereka yang bertugas dalam layanan non-Inggris.
Banyak dari mereka juga bukan warga negara AS. Sementara itu, staf penuh waktu yang memiliki perlindungan hukum lebih kuat tidak langsung diberhentikan, tetapi tetap menjalani cuti administratif dan dilarang bekerja hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Sebelumnya, pada Jumat lalu, Trump menandatangani perintah eksekutif yang menargetkan US Agency for Global Media (USAGM) - badan yang menaungi VOA sebagai bagian dari kebijakan pemangkasan besar-besaran dalam birokrasi federal.
USAGM memiliki sekitar 3.384 karyawan pada tahun fiskal 2023 dan telah mengajukan anggaran sebesar US$950 juta untuk tahun fiskal 2025.
Baca Juga: Donald Trump Jadikan Bahasa Inggris sebagai Bahasa Resmi Amerika Serikat
Dampak dari pemotongan ini juga dirasakan oleh media lain yang berada di bawah naungan USAGM, seperti Radio Free Europe/Radio Liberty dan Radio Free Asia.
Kedua lembaga penyiaran tersebut sebelumnya berperan dalam menyediakan berita untuk negara-negara dengan akses media terbatas, seperti bekas Uni Soviet, China, dan Korea Utara.
Dilansir dari NPR, Minggu (16/3), direktur VOA, Michael Abramowitz, yang termasuk dalam 1.300 karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja, mengungkapkan keluh kesahnya yang diposting di akun Facebook pribadinya.
Baca Juga: PBB Tolak Rencana Trump Relokasi Palestina dari Gaza
“Saya sangat sedih karena untuk pertama kalinya dalam 83 tahun, Voice of America yang tersohor dibungkam,” tulisnya.
Abramowitz mengatakan memang VOA membutuhkan reformasi agar lebih baik, tapi keputusan ini justru menghambat misi VOA dalam menyampaikan berita dan program budaya kepada dunia.
Disisi lain, respon keras datang dari Kari Lake mantan pembawa berita yang merupakan loyalis Trump dan dinominasikan untuk menjabat sebagai direktur VOA, menyebut bahwa USAGM sebagai “pembusukan raksasa dan beban bagi pembayar pajak Amerika,” dan menyatakan bahwa lembaga tersebut harus dikerdilkan agar tidak menjadi beban yang berlebihan bagi negara.(NR)