Fenomena yang dialami Mesdiono cukup mengejutkan banyak pihak. Pencari rumput ini berhasil bertahan berhari-hari di dalam hutan tanpa bekal makan dan minum. Meski kondisinya lemas, dia ditemukan selamat.
MOH RIZAL
Suasana haru kepulangan Mesdiono, 35, masih terasa. Tapi keluarganya sudah bisa tidur dengan nyenyak usai sebelumnya terus dibuat khawatir dengan keberadaan Mesdiono. Baik kerabat maupun tetangga, ada saja bertamu di rumah yang beralamat di RT 21 RW 5, Dusun Bara'an Desa Pait, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang itu.
Kondisi Mesdiono ketika ditemui wartawan Jawa Pos Radar Malang sore tadi (20/3), sudah jauh lebih baik. Dia tak selemas ketika kembali ke rumah pertama kali Rabu lalu (19/3). Dia sudah bisa diajak bicara meski jawabannya singkat. Mesdiono masih terlihat linglung. Tatapannya kosong.
Sembari duduk di kursi ruang tengah rumahnya, dia dibantu keluarganya untuk menceritakan kejadian yang dialaminya. Sesekali Mesdiono ikut menimpali.
Cerita tersesatnya Mesdiono dimulai ketika dia hendak mencari rumput pada Kamis minggu lalu (13/3) sekitar pukul 09.30. Itu sudah jadi kegiatan rutin untuk memberi makan lima kambing peliharaannya.
Dengan membawa peralatan berupa karung dan arit dia menuju area persawahan dengan berjalan kaki. “Mungkin sekitar satu kiloan dari sini ke arah utara,” kata ayah korban, Kabul, 71.
Ketika mencari rumput itulah dia sudah tak begitu sadar dengan apa yang terjadi selanjutnya. Dari sisi sang ayah, menyadari anak kelimanya yang tak kunjung kembali ke rumah saat Magrib, dia mulai gusar. Pihak keluarga bersama warga langsung bergegas melakukan pencarian dan melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Kasembon.
Diperkirakan lebih dari 100 warga yang melakukan pencarian malam itu. Mereka membawa berbagai alat seperti kentongan, panci, hingga tampah untuk dipukul sembari melakukan pencarian. Penyisiran tak hanya dilakukan pada area persawahan tetapi juga sampai masuk kawasan hutan. “Kurang lebih lima kilometeran,” katanya. Pencarian terus dilakukan sepanjang malam hingga pagi harinya, namun tak ada petunjuk sama sekali.
Penelusuran terus dilakukan baik dari warga maupun tim search and rescue (SAR). Pencarian oleh tim SAR dilakukan dengan berbagai metode. Mulai dari pencarian jejak, susur jalan setapak, food trap, hingga menggunakan anjing pelacak. Hari berganti, namun kejelasan posisi Mesdiono belum ada kabar sama sekali. Kondisi itu membuat keluarga makin khawatir. “Mau tidur juga tidak bisa,” ujar salah satu kakak Mesdiono, Sukadi, 39.
Selama dalam pencarian itu, Mesdiono yang tersesat di tengah hutan merasa mengetahui jika dia dicari warga. Namun entah mengapa dia tak bisa berteriak. “Tidak bisa,” ungkapnya. Padahal saat malam, Mesdiono mengingat juga tidur di area terbuka. Jauh dari rerimbunan. “Alasnya tumpukan kayu,” ujarnya. Selama enam hari di hutan, dia merasa tak makan dan minum namun juga tak merasa lapar maupun haus.
Titik terang penemuan Mesdiono terjadi pada hari ke tujuh yakni pada Rabu (19/3). Ketika ketua RT 21/RW 5, Rusemin, 60, hendak pergi ke sawahnya. Sebelumnya terjadi hujan deras di kawasan tersebut, Rusemin sempat berpikir untuk tidak pergi ke sawah. Ketika perjalanan ke area gubuk, dia dibuat terperanjat dengan suara permintaan pinjam korek dari arah bawah. ”Nyambut korek e Pak Rus,” ujarnya menirukan suara Mesdiono. Perasaannya dibuat campur aduk antara kaget dan senang melihat Mesdiono baik-baik saja.
Dia kemudian mengajaknya ke gubuk dan istirahat di sana. Secara fisik dia melihat Mesdiono baik-baik saja dan tak terlihat lemas. Namun ketika diajak pulang, dia menolak dan meminta nanti saja. Saat itu yang terlintas di pikiran Rusemin adalah bagaimana cara membawa Mesdiono pulang. ”Lalu saya ajak dia merokok di rumah,” katanya.
Dia pun meminta korban membawa mambawa hasil panen terong untuk dibawa ke area parkiran. Sesampainya di parkiran sawah dia langsung membonceng korban menuju rumahnya. Sesampainya di rumah dan turun dari motor korban langsung lemas dan tak berdaya.
Rusemin sempat merasa janggal dengan apa yang barusan terjadi, sebab Mesdiono yang awalnya tadi kuat memanggul terong dan terlihat baik-baik saja, tiba-tiba lemas.
Menurut Sukadi ketika sampai di rumah, Mesdiono dalam kondisi pucat dan mulut seperti membiru. Untungnya tak ditemui luka-luka di sekujur tubuhnya. Setelahnya korban juga langsung mau diberi makan dan minum. Serta sudah bisa diajak berkomunikasi. ”Sebelum bertemu dengan Pak Rus itu, saya pingsan dua kali di sana,” ujarnya.
Sebelumnya Mesdiono juga pernah hilang. Namun dari tempo sehari, dia berhasil ditemukan di dusun sebelah. Pihak keluarga menyampaikan ucapan terimakasih kepada berbagai pihak yang turut dalam upaya pencarian tersebut.
Koordinator Unit Siaga SAR Malang Raya, Yoni Fariza, mengungkapkan korban ketika berada di hutan bergerak terus menerus. ”Ketika dicari, menjauh. Sudah dekat, menjauh lagi,” ujarnya. Hal itulah yang lanjut Yoni menyulitkan pencarian.
Terkait dengan alasan kenapa Mesdiono bisa survive? Yoni menjelaskan lokasi tempat hilangnya Mesdiono vegetasinya berupa perkebunan. Ada pohon alpukat, durian, juga ada tanaman umbi-umbian. Di sana, ada pula sumber mata air. Sehingga Mesdiono tampaknya memanfaatkan apa yang ada di alam tersebut untuk bertahan hidup. “Di satu titik pernah ditemukan satu tanaman mbothe yang digali,” ujarnya. (iza)
Editor : A. Nugroho