RADAR MALANG - Nilai tukar rupiah terus menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS, meskipun sempat menguat tipis di awal perdagangan.
Pada 26 Maret, 2025, pada pukul 09.10 WIB, rupiah berada di level Rp16.609 per USD, hanya naik 2 poin atau 0,01% dari penutupan sebelumnya.
Namun, data Yahoo Finance mencatat rupiah justru melemah 15 poin ke Rp16.604 per USD dibandingkan sesi sebelumnya.
Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran atas kebijakan fiskal dan ekonomi Indonesia.
Baca Juga: IHSG Sempat Anjlok untuk Pertama Kali Sejak Pandemi, Apa Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia?
Beberapa langkah yang diambil Presiden Prabowo Subianto, termasuk kebijakan populis seperti program makan siang gratis dengan anggaran USD30 miliar per tahun, membuat defisit anggaran mendekati batas 3 persen dari PDB.
Selain itu, pernyataan kontroversial Presiden tentang pasar saham sebagai bentuk perjudian telah menimbulkan ketidakpastian di kalangan investor.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti bahwa intervensi pemerintah dalam pasar modal membuat investor asing menarik dana mereka dari Indonesia.
“Investor ingin kebijakan yang stabil dan tidak diintervensi langsung oleh pemerintah. Ketidakpastian ini membuat mereka enggan bertahan di pasar modal Indonesia,” ujarnya.
Baca Juga: Mengapa Revisi UU TNI Menuai Sorotan? Pelajaran dari Kasus Marsinah
Dari sisi eksternal, ada ketegangan geopolitik yang turut berkontribusi pada pelemahan rupiah.
Amerika Serikat telah mengancam Iran dengan ultimatum terkait penghentian program nuklirnya, yang semakin meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.
Selain itu, dolar AS masih menunjukkan kekuatan di tengah kebijakan suku bunga The Fed yang tetap ketat, semakin membebani nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Pekan Islami Hari ke-11 : Kecamatan Tumpang, Jabung, dan Pakis
Tidak hanya kurs rupiah, pasar saham dan obligasi Indonesia juga mengalami tekanan.
Investor asing telah menarik dana lebih dari USD2 miliar sejak Februari, menyebabkan pelemahan indeks saham.
Obligasi Indonesia juga mencatatkan kinerja yang lebih buruk dibandingkan obligasi AS, dengan selisih imbal hasil obligasi 10 tahun mencapai level tertinggi sejak September 2024.
Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas rupiah dengan mempertahankan suku bunga acuannya dan melakukan intervensi di pasar.
Baca Juga: Dua Prajurit TNI AL Divonis Penjara Seumur Hidup atas Penembakan Bos Rental Mobil
Selain itu, pemerintah telah mewajibkan eksportir untuk menahan devisa mereka di dalam negeri guna memperkuat cadangan valas.
Dengan kondisi domestik dan global yang masih penuh ketidakpastian, investor kini menanti kebijakan selanjutnya dari Bank Indonesia serta langkah konkret pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memulihkan kepercayaan pasar.(NR)