MALANG KOTA – Pekan Olahraga Provinsi Jatim 2025 akan digelar akhir Juni atau awal Juli mendatang.
Tiga pemerintah daerah (Pemda) di Malang Raya dipercaya menjadi tuan rumah dan menyiapkan venue untuk seluruh cabang olahraga.
Hingga kemarin proses persiapan terus berjalan, dan hanya satu venue saja yang akhirnya dinyatakan tidak layak.
Total ada 84 venue olahraga yang disiapkan.
Kota Malang menjadi tuan rumah yang menyediakan tempat penyelenggaraan terbanyak, yakni 36 venue.
Termasuk tempat diselenggarakannya pembukaan Porprov Jatim 2025 di Stadion Gajayana.
Sementara itu, Kabupaten Malang menyediakan 32 venue dan Kota Batu 15 venue.
Tidak semua venue yang disiapkan bakal bisa digunakan.
Di Kota Malang ada satu venue yang sudah dinyatakan tidak layak.
Di Kabupaten Malang ada dua venue yang masih dalam proses penentuan tempat.
Sementara di Kota Batu dua venue dinilai belum layak.
Terkait persiapan venue di Kota Malang, pemda mengklaim saat ini sudah menyentuh 80 persen.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang Baihaqi menuturkan, persiapan venue di Kota Malang sudah mencapai 80 persen.
Empat di antaranya memang masih dalam tahap pengerjaan di Stadion Gajayana.
Di antaranya lintasan lari, lompat galah, lempar lembing, dan tolak peluru.
Pengerjaan lintasan lari sudah dilakukan pengecoran.
Selanjutnya dilakukan pemasangan lateks atau lapangan sintetis.
Dia optimistis semua persiapan dan perbaikan selesai sesuai jadwal.
Yaitu paling lambat awal bulan Juni 2025.
”Setelah perbaikan venue juga dilakukan perbaikan lain di Stadion Gajayana. Seperti penambahan penerangan dan pengecatan tribun stadion,” ujar Baihaqi.
Tak hanya menggunakan aset Pemkot Malang, pertandingan Porprov Jatim di Kota Malang juga menyewa venue pihak ketiga.
Di antaranya GOR Bima Sakti, Universitas Negeri Malang, Politeknik Negeri Malang, Universitas Brawijaya, dan Universitas Islam Malang.
”Venue di kampus sudah dipastikan memenuhi standar. Apalagi beberapa waktu lalu di gunakan untuk ASEAN University Games,” papar Baihaqi.
Total ada 40 cabang olahraga yang digelar di Kota Malang.
Termasuk seluruh nomor atletik.
Terkait venue yang tidak layak, Baihaqi membantah isu lebih dari satu.
Sebelumnya sempat dikabarkan venue panjat tebing dan voli pantai yang berlokasi di GOR Ken Arok tidak bisa di gunakan untuk Porprov Jatim.
Menurut dia, dari awal pemkot tidak mengusulkan panjat tebing di titik tersebut.
”Kami tidak pernah mengusulkan venue panjat tebing di GOR Ken Arok karena memang belum lengkap,” tuturnya.
Menurutnya, di GOR Ken Arok hanya ada satu papan panjat tebing yang tersedia yaitu untuk lead.
Sedangkan pada gelaran Porprov Jatim harus ada tiga papan.
Dua lainnya untuk nomor boulder dan speed.
Baihaqi menjelaskan, cabor panjat tebing akan digelar di Polinema.
Saat ini masih dila kukan negosiasi terkait harga sewa.
”Di Polinema rencananya disewa selama enam hari,” ucap dia.
Satu-satunya venue yang tidak layak adalah lapangan voli pantai.
Lapangan yang baru dibangun di GOR Ken Arok itu tidak menggunakan pasir pantai, melainkan pasir sungai.
Alasan pemkot tidak menggunakan pasti laut karena dikhawatirkan melanggar aturan Pasal 35, Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.
”Kami berpedoman dengan undang-undang. Dan saran dari PBVSI (Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia) Jatim boleh menggunakan pasir sungai,” terang Baihaqi.
Namun ternyata setelah ditinjau KONI Jatim, lapangan voli pantai itu dinyatakan tidak memenuhi syarat.
Karena menggunakan pasir sungai.
Tambahan Cabor
Persiapan juga dilakukan Pemkab Malang yang menyediakan 33 venue.
Mayoritas berada di kompleks Stadion Kanjuruhan.
Peninjauan terakhir dari technical delegate (TD) masing-masing cabang olahraga (cabor) sudah dilakukan.
Dam secara keseluruhan dinyatakan berfungsi dengan baik dan siap untuk digunakan.
“Hasil peninjauan TD tersebut dilaporkan ke KONI Jatim dan tembusannya ke Dispora (Dinas Pemuda dan Olahraga) Kabupaten Malang,” Sekretaris Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Malang Muhammad Rosuli.
Dia mengakui memang masih ada yang memerlukan pemeliharaan minor.
Seperti pengecatan atau perbaikan titik-titik atap yang bocor yang menjadi tanggung jawab Pemkab Malang melalui dispora.
Penerangan juga menjadi salah satu hal yang masih perlu diperbaiki.
Lintasan sepatu roda yang ter letak di bagian depan gerbang masuk Stadion Kanjuruhan juga memerlukan perawatan.
Secara fungsi, lintasan itu dapat digunakan.
Biasanya pun masih ada anak-anak yang sedang bermain sepatu roda di sana.
Namun, catnya mulai memudar.
Stadion Kanjuruhan pun sudah siap digunakan.
Terdapat beberapa cabor yang akan menggunakan venue di area stadion.
Seperti senam, hapkido, taekwondo, renang, hoki outdoor, sepatu roda, hingga atletik.
Menurutnya, lintasan atletik di stadion tersebut sudah sesuai dengan standar nasional, sehingga layak untuk dijadikan venue perlombaan.
Nantinya, Stadion Kanjuruhan juga akan digunakan sebagai venue pertandingan final sepak bola.
Sedangkan babak penyisihan direncanakan menggunakan lapangan sepak bola Stadion Kahuripan, Desa Talok, Kecamatan Turen.
Sebenarnya, per 31 Januari lalu Kabupaten Malang mempersiapkan 32 venue.
Tapi ada tambahan untuk menjadi tuan rumah cabang olahraga anyar, yakni surfing ombak.
Namun, Pemkab Malang belum memutuskan lokasi yang akan digunakan.
“Pilihan kami antara Pantai Lenggoksono atau Wediawu. Bergantung pada kondisi cuaca saat itu,” kata Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Malang M. Hidayat.
Dia menjelaskan, letak dua pantai itu berada di selatan dan memiliki ombak yang cukup besar.
Jika terjadi cuaca buruk bisa membahayakan atlet yang sedang berlaga.
Ini menjadi pertimbangan besar dari Hidayat dan koleganya untuk memilih venue.
Saat ini, Dispora sedang berupaya untuk berkoordinasi dengan berbagai pihak, seperti Pemerintah Daerah Kabupaten Malang dan KONI Jawa Timur untuk mempersiapkan venue tersebut.
Termasuk soal anggaran.
“Karena untuk anggaran tahun ini sudah closed,” tambah dia.
Selain cabor surfing ombak, Dispora juga masih menentukan venue yang pas untuk aeromodelling.
Hidayat meluruskan, bahwa venue tersebut masih belum final.
”Karena di sejumlah tempat yang sebelumnya dipilih seperti di Gondo Mayit, setelah dilihat masih belum pas,” papar dia.
Dia menjelaskan terdapat sejumlah opsi yang bisa dipakai.
Seperti Lapangan Senggreng dan area timur Stadion Kanjuruhan.
”Di situ ada tanah kosong seluas 4.000 meter jadi bisa saja dipakai,” tambah dia.
90 Persen di Batu
Sementara itu, persiapan venue di Kota Batu sudah mencapai 90 persen.
Ada yang dilaksanakan di aset Pemkot Batu.
Ada juga yang di tempat wisata milik swasta.
Misalnya venue untuk cabor akuatik atau loncat indah yang akan digelar di Taman Rekreasi Selecta, Grass track di Jalibar Oro-Oro Ombo, balap sepeda MTB di Game Ground Kusuma Agrowisata, dan aerosport atau paralayang digelar di Gunung Banyak.
Beberapa cabor ada yang digelar di hotel.
Seperti bridge di Hotel Zamzam, catur di Hotel Selecta, gate ball di Hotel Kusuma Agro, dan futsal di Hotel Jambuluwuk.
Kemudian cabor berkuda di Stadion Gelora Brantas, esport di Lippo Plaza Batu, dan tinju di Pasar Induk Among Tani Batu.
Tiga cabor lain seperti gulat, sambo, dan tenis meja akan digelar di GOR Gajah Mada.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu M. Chori mengatakan ada beberapa perubahan ve ue yang telah ditetapkan sebelumnya.
Itu lantaran perbaikan GOR Ganesha sudah tuntas.
Seperti cabor tinju yang semula akan digelar di Pasar Induk Among Tani Batu menjadi di GOR Ganesha.
Kemudian tarung derajat akan digelar di Hotel Ciptaningati.
Chori mengaku sedang mengusulkan cabor sepak bola untuk digelar di Stadion Gelora Brantas.
Sebab, kondisi stadion tersebut sudah cukup representatif.
Pemkot sudah menganggarkan biaya perawatan sebesar Rp 500 juta.
”Apalagi sudah dipakai untuk gelaran Liga 4 dan PSSI juga mengusulkan itu,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua KONI Kota Batu Sentot Ari Wahyudi menilai ada beberapa hal yang dinilai kurang representatif untuk diusulkan venue.
Seperti sepak bola yang diusulkan di Stadion Gelora Brantas.
”Kondisi rumputnya belum memenuhi standar,” katanya.
Sentot mengatakan bahwa perbaikan rumput di Stadion Gelora Brantas membutuhkan anggaran yang besar.
Dengan luas lapangan sekitar 5 hektare, anggaran perbaikan rumput diprediksi menelan biaya sekitar Rp 2 miliar.
”Padahal anggaran untuk perbaikan itu juga tidak ada. Anggaran Porprov juga terbatas,” paparnya.
Kendala venue lainnya adalah untuk cabor balap sepeda BMX.
Sebelumnya, Pemkot Batu telah mengusulkan kawasan Songgoriti sebagai venue cabor tersebut.
Namun, hingga kini proses pembuatan venue tersebut juga belum jelas.
”Saya sudah peringatkan sejak tahun 2024 lalu. Namun hingga kini masih belum fixed,” tutur dia.
Kendati dibangun saat ini, venue tersebut akan mustahil terpakai.
Sebab, pengujian kelayakan venue tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
“Kemungkinan terburuknya adalah menggeser cabor itu ke tempat lain. Kota Malang misalnya yang lebih representatif,” tegas Sentot. (adk/ yun/ori/wb-4/fat)
Editor : A. Nugroho