Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Resesi AS Bayangi Ekonomi Global, Rupiah Punya Peluang Menguat

Aditya Novrian • Minggu, 13 April 2025 | 20:50 WIB

Ilustrasi uang (wirestock / freepik.com).
Ilustrasi uang (wirestock / freepik.com).

RADAR MALANG - Nilai tukar rupiah diprediksi menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), seiring pelemahan mata uang Negeri Paman Sam yang mencapai level terendah sejak Juli 2023. 

Baca Juga: Rupiah Melemah! Dollar AS Sentuh Rp17.000, Terendah Sejak Pandemi

Menurut Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, situasi ini dipicu oleh kekhawatiran resesi yang muncul akibat meningkatnya ketegangan dagang antara AS dan China.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang anjlok ke level terendah sejak Juli 2023 oleh kekhawatiran resesi di AS dari perang dagang dan eskalasi tarif AS-China,” di kutip dari salah satu Media, Jumat (11/4).

Ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia kembali meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump, menaikkan tarif impor barang dari China. 

Awalnya, pada Rabu (10/4), tarif dinaikkan dari 104 persen menjadi 125 persen. 

Namun, sehari kemudian, Kamis (11/4), Trump kembali memperbesar tekanannya dengan menaikkan tarif menjadi 145 persen.

Langkah Trump ini memicu respons keras dari China. Presiden Xi Jinping sebelumnya juga telah menetapkan tarif balasan sebesar 84 persen terhadap produk asal AS. 

Saling balas menaikkan tarif tersebut memperburuk tensi dagang global dan meningkatkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap ekonomi Amerika.

Ketegangan dagang yang terus meningkat memperbesar peluang terjadinya resesi di AS. 

Berdasarkan analisis terbaru, Goldman Sachs memperkirakan potensi resesi mencapai 65 persen, sementara JP Morgan memperkirakan sebesar 60 persen. 

Hal ini turut mendorong investor global beralih ke aset aman, dan membuat dolar AS melemah.

Baca Juga: Rupiah Terpuruk! Sentuh Level Terendah Sejak Krisis 1998, Ada Apa?

Tak hanya tekanan dari sisi eksternal, pelemahan dolar AS juga diperparah oleh meningkatnya spekulasi pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed). 

Data inflasi terbaru menunjukkan tren penurunan signifikan. Inflasi bulanan AS turun dari 0,2 persen menjadi -0,1 persen (month-to-month), sementara inflasi tahunan turun dari 2,8 persen menjadi 2,4 persen (year-on-year).

Mengacu pada polling CME FedWatch, lebih dari 50 persen pelaku pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 75 hingga 100 basis poin (bps) dalam waktu dekat.

Meski prospek rupiah terlihat membaik, Lukman mengingatkan bahwa penguatannya akan terbatas. Hal ini dikarenakan masih kuatnya sentimen “risk-off” di pasar ekuitas global yang membuat investor berhati-hati dalam mengambil risiko. “Namun, penguatan (rupiah) diperkirakan akan terbatas di tengah sentimen risk off di pasar ekuitas,” jelas Lukman.

Berdasarkan proyeksi terbaru, nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.900 per dolar AS dalam waktu dekat.

Baca Juga: Sejak diluncurkan Cek Kesehatan Gratis, PCO Klaim Masyarakat Indonesia Hemat Hingga Jutaan Rupiah

Di sisi lain, rupiah menunjukkan tren positif pada pembukaan perdagangan Jumat pagi (11/4) di Jakarta. 

Rupiah menguat sebesar 18 poin atau 0,11 persen, dari posisi sebelumnya Rp16.823 menjadi Rp16.805 per dolar AS. 

Pergerakan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap kondisi eksternal yang memengaruhi nilai tukar.(fd)

Editor : Aditya Novrian
#Krisis ekonomi #ekonomi global 2025 #rupiah melemah #resesi amerika