RADAR MALANG - Kunjungan Presiden China Xi Jinping ke tiga negara Asia Tenggara, yakni Vietnam, Malaysia, dan Kamboja, mendapat komentar pedas dari komentator politik konservatif Amerika Serikat, Bill O'Reilly.
Dalam sebuah video yang diunggah pada 15 April 2025, O'Reilly mengejek kondisi ekonomi negara-negara tersebut dengan menyatakan bahwa rakyat di Asia Tenggara "tidak punya uang" untuk membeli produk-produk China.
Ia menyebut kunjungan Xi sebagai upaya sia-sia karena pasar di kawasan itu dianggapnya lemah secara ekonomi.
Baca Juga: Menag Lobi Arab Saudi, Batas Usia Haji Dihapus Sementara, Indonesia Usulkan Kenaikan Batas Usia Jadi 90 Tahun
Selain itu, O'Reilly menyindir bahwa kunjungan Xi mungkin memiliki tujuan lain.
O'Reilly menduga bahwa kunjungan Xi Jinhping adalah langkah penyelundupan produk China dengan menggunakan label negara-negara Asia Tenggara agar bisa menghindari tarif impor tinggi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat.
"Mungkin dia mau selundupkan barang-barang China lewat label Vietnam, tapi itu mudah ketahuan," ujarnya dengan nada mengejek.
Baca Juga: Kebakaran di Kedung Rukem Surabaya Diduga dari Obat Nyamuk
Komentar ini muncul di tengah ketegangan perang dagang antara AS dan China.
Presiden Donald Trump sebelumnya telah memberlakukan tarif impor tinggi hingga 245 persen terhadap produk China.
Tarif impor yang melambunng tinggi ini memicu respons diplomatik dari Beijing, termasuk lawatan Xi Jinping ke Asia Tenggara untuk memperkuat hubungan dagang dan mencari pasar alternatif.
Baca Juga: Korban Arisan dan Investasi Bodong di Sidoarjo Potensi Bertambah
Pernyataan O'Reilly mendapat kecaman dari sejumlah pihak, terutama dari Malaysia.
Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, mengecam komentar tersebut sebagai bentuk arogansi dan ketidaktahuan terhadap kondisi ekonomi Asia Tenggara.
Anwar menilai pernyataan itu mencerminkan sikap rasis dan kurangnya pemahaman terhadap perkembangan ekonomi di kawasan.
Baca Juga: Indonesia dan Amerika Serikat: Negosiasi Kesepakatan Kebijakan Tarif Dagang
Situasi ini menambah dinamika ketegangan diplomatik dan ekonomi antara Amerika Serikat dan China, di mana Asia Tenggara menjadi arena persaingan pengaruh yang semakin sengit.
Kunjungan Xi Jinping ke kawasan ini dianggap sebagai langkah strategis China untuk memperkuat posisinya di tengah tekanan perdagangan dari AS, sementara komentar pedas dari kalangan AS mencerminkan ketegangan yang terus berlanjut antara kedua negara adidaya tersebut.(NR)
Editor : Aditya Novrian