Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mayoritas Calon Jemaah Haji (CJH) Butuh Pendamping Obat, Rata-Rata karena Tekanan Darah Tinggi

Fathoni Prakarsa Nanda • Kamis, 24 April 2025 | 19:53 WIB
Grafis hasil pemeriksaan kesehatan calon jamaah haji.
Grafis hasil pemeriksaan kesehatan calon jamaah haji.

MALANG RAYA – Pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji (CJH) di Malang Raya masih berlangsung.

Dari total 2.811 orang yang sudah diperiksa, 1.728 di antaranya atau 61 persen dinyatakan istithaah (mampu atau memenuhi syarat) dengan pendampingan obat.

Sementara 172 CJH dinyatakan istithaah dengan pendampingan orang. 

thaah dengan pendampingan obat terbanyak berasal dari Kabupaten Malang, yakni 974 orang. Disusul dari Kota Malang sebanyak 655 orang.

Sementara dari Kota batu terdata 98 orang (selengkapnya lihat grafis).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Husnul Muarif menjelaskan, pemeriksaan kesehatan dilakukan dalam tiga tahap.

Yang pertama pada saat masa tunggu sampai CJH mendapat nomor urut porsi.

”Sambil menunggu, mereka harus datang ke puskesmas dan rutin kontrol,” ucapnya.

Pemeriksaan tahap kedua dilakukan enam bulan menjelang keberangkatan. Lalu pemeriksaan ketiga saat CJH berada di embarkasi.

Pemeriksaan di embarkasi dilakukan untuk memastikan kondisi CJH benar-benar laik terbang.

Menurut Husnul, ada beberapa kondisi yang membuat CJH dinyatakan belum laik terbang.

Dia mencontohkan, tahun lalu ada CJH yang kekurangan hemoglobin.

Ada pula yang terjangkit demam berdarah.

”Kalau mengalami kondisi-kondisi itu biasanya akan dikirimkan ke rumah sakit haji dulu.

Kemudian mereka harus dirawat sampai pulih.

Baru bisa menyusul ke tanah suci,” imbuh dia.

Husnul melanjutkan, saat ini pemeriksaan yang sedang berlangsung adalah tahap kedua.

Di Kota Malang, pemeriksaan sudah dilakukan terhadap 957 orang.

Terdiri dari 458 laki-laki dan 499 perempuan.

”Ada dua orang yang sedang dievaluasi hasil pemeriksaannya dan lima orang belum selesai proses istithaah,” terang pejabat eselon II B Pemkot Malang tersebut.

Hasil pemeriksaan juga menemukan beberapa penyakit yang diderita CJH. 

Paling banyak hipertensi dengan jumlah 215 orang.

Disusul riwayat kolesterol sebanyak 210 CJH, riwayat kencing manis tipe 2 sebanyak 115 CJH, riwayat obesitas 78 CJH, riwayat pembesaran jantung 49 CJH, riwayat infeksi kemih 45 CJH, riwayat hiperlipidemia atau kolesterol tinggi 39 CJH, dan riwayat penyakit jantung hipertensi 29 CJH.

Untuk menjaga kondisi kesehatan CJH, dinkes rutin memberikan penyuluhan melalui manasik yang digelar Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang.

”Kami imbau mereka untuk rutin latihan fisik berupa jalan dalam rangka menjaga kebugaran,” tandasnya.

Tidak Lolos karena Penyakit Kronis Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Malang.

Hingga kemarin, jumlah CJH yang sudah menjalani pemeriksaan sebanyak 1.703 orang.

Sekitar 503 orang dalam proses pemeriksaan, dan 9 CJH yang data kesehatannya perlu dilakukan evaluasi.

Sub Koordinator Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang Suyatno menjelaskan, dari 1.703 orang yang sudah menjalani tes kesehatan, hanya 669 orang yang tergolong istithaah tanpa kendala.

Mereka bisa berangkat ibadah haji tanpa perlakuan khusus.

Sedangkan 1.006 CJH dinyatakan istithaah dengan perlakukan khusus.

“Seperti 32 orang yang membutuhkan pendamping orang dan 974 yang membutuhkan pendamping obat,” ujarnya.

CJH yang membutuhkan pendampingan orang ratarata berusia lanjut.

Mereka harus didampingi CJH lain yang berstatus anak kandung atau menantu dengan bukti Kartu Keluarga (KK), akta nikah, dan akta kelahiran yang relevan dan dilegalisir.

”CJH yang perlu pendampingan obat paling banyak juga lansia. Tapi yang di bawah 60 tahun juga ada yang membutuhkan pendamping obat. Mereka yang punya riwayat hipertensi, diabetes mellitus (DM), dan kolesterol,” imbuhnya.

Khusus untuk 16 orang yang dinyatakan tidak istithaah, mereka kedapatan memiliki penyakit kronis.

Seperti demensia (pikun) serta gagal ginjal stadium 4 dan 5.

”Sebagai antisipasi, kami menyediakan lima TKHI (Tim Kesehatan Haji Indonesia). Dengan rincian satu dokter dan empat perawat,” ucap Suyatno.

Setiap kelompok terbang (kloter) nantinya didampingi setidaknya tiga tenaga kesehatan. Terdiri satu dokter dan dua perawat.

Karena itu, nantinya juga ada tambahan lima orang TKHI dari provinsi.

Kota Batu Sudah Tuntas Dengan jumlah CJH yang hanya 151 orang, Kota batu sudah menuntaskan pemeriksaan kesehatan.

Seluruhnya dinyatakan isthitaah, meski 97 di antaranya membutuhkan pendampingan obat.

Pemeriksaan dilakukan bersama RS Karsa Husada dan lima pada 12-13 November 2024 lalu.

Kepala bidang (Kabid) Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Penanganan Bencana Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu dr Susana Indahwati mengatakan, 151 CJH yang diperiksa berasal dari beberapa kategori.

Yakni 112 CJH reguler, 5 CJH penggabungan, dan 19 CJH cadangan.

Ada juga beberapa CJH dari luar daerah yang ikut diperiksa sebanyak 11 orang.

Termasuk Petugas Haji Daerah (PHD) dan pembimbing masing-masing dua orang.

Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan melibatkan berbagai jenis tes.

Paling mendasar adalah pengukuran tinggi badan, berat badan, dan tekanan darah.

Kemudian tes darah lengkap, golongan darah, dan kimia darah.

“Juga tes elektrokardiogram (EKG), urine lengkap, thorax, dan sebagainya,” paparnya.

Susan menambahkan, pemeriksaan kesehatan sebagai syarat keberangkatan ibadah haji memang lebih kompleks.

Salah satu contohnya dilengkapi Hemoglobin A1c (HbA1c) untuk mengukur kadar gula darah yang kronis.

“Sejauh ini yang terbanyak adalah hipertensi,” tuturnya.

Para CJH juga menjalani tes kesehatan mental dengan Self Rating Questionnaire (SRQ) 20.

Tujuannya untuk menunjang mereka dalam menjalankan aktivitas sehari-hari selama beribadah.

“Pendampingan dan pengawasan tetap kami lakukan, terutama bagi CJH yang masuk kategori istithaah dengan syarat,” lanjutnya.

Para CJH juga diminta untuk menjaga kondisi kesehatan sebelum keberangkatan.

Mulai dari menjaga pola makan, istirahat yang cukup, serta berolahraga selama 30 menit per hari.

Untuk mendampingi para CJH di tanah suci, Kemenag Kota Batu menyediakan satu dokter dan satu perawat.

Menyusut dibanding tahun lalu yang terdiri dari satu dokter dan dua perawat.

Pengurangan tenaga kesehatan itu dilakukan sebagai imbas efisiensi berdasar Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025.

Kendati begitu, Susan menegaskan bahwa tenaga kesehatan yang diterjunkan masih mampu melayani para CJH. (mel/yun/ori/fat)

Editor : A. Nugroho
#Malang Raya #calon jemaah haji #Pemeriksaan Kesehatan #malang #jemaah haji