SUHU di Tokyo, Jepang, pada Minggu 2 Maret 2025 mencapai 10 derajat Celsius.
Sekitar pukul 09.10, 37 ribu pelari sudah memadati Tokyo Metropolitan Goverment.
Titik start event Tokyo Marathon 2024 berada di antara gedung-gedung pencakar langit di sana.
Event itu masuk jajaran atas dan menjadi pembuka rangkaian event marathon bergengsi di dunia.
Di antaranya Boston Marathon, London Marathon, Berlin Marathon, Chicago Marathon, dan New York Marathon.
Ada beberapa artis nasional yang ikut ambil bagian dalam ajang tersebut.
Misalnya Ariel Noah, Chef Arnold, dan Tara Budiman.
Mantan atlet sepak bola nasional Atep juga berpartisipasi.
Puluhan ribu pelari itu menempuh jarak 42,19 kilometer.
Dengan titik finish berada di Tokyo Station.
Dalam ajang itu, selain mengukur kemampuan pelari, hal yang paling penting adalah keselamatan.
Ali Haedar menjadi salah satu orang yang bertanggung jawab atas keselamatan 37 ribu peserta.
Dalam event Tokyo Marathon, dia ditempatkan di pusat komando medis.
Tugasnya mengoordinasikan penanganan medis ketika terjadi insiden.
Divisi medis di ajang itu dibagi dalam tiga bagian.
Pertama, relawan tenaga kesehatan yang ditempatkan di pos-pos kesehatan sepanjang jalur marathon.
Tugas mereka memberikan pertolongan pertama.
Kemudian divisi kedua adalah tim medis mobile.
Mereka menggunakan sepeda angin untuk memberikan tindakan lanjutan ketika ada insiden terjadi.
Terakhir, paramedis yang bertugas di pusat komando.
Divisi itu cukup krusial, karena harus memastikan tindakan medis sesuai protokol pemerintah Jepang.
”Pusat komando yang mengoordinir mulai dari ambulans, relawan tim medis, tim medis mobile hingga rumah sakit rujukan. Kemudian juga berkoordinasi dengan pemadam kebakaran Tokyo,” tutur Haedar.
Di divisi itulah Haedar bertugas.
Dalam event kali ini, tidak semua peserta berada dalam kondisi fit.
Perubahan suhu yang drastis meningkatkan risiko dehidrasi.
Pada pagi hari suhunya 10 derajat Celsius.
Kemudian meningkat pada siang hari menjadi 20 derajat Celsius.
Ada dua peserta yang mengalami henti jantung mendadak.
”Dua kasus itu akhirnya bisa ditangani tim mobile dengan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation). Tindakan yang cepat membuat pasien bisa bernapas kembali,” ujar bapak satu anak itu.
Jika tidak tertangani dengan benar, henti jantung mendadak bisa menyebabkan kematian dalam rentang empat sampai sepuluh menit.
Dari Tokyo Marathon 2025, Haedar memetik banyak pelajaran yang bisa diaplikasikan di Indonesia.
Di antaranya manajemen komunikasi agar bisa memastikan kondisi puluhan ribu peserta tepat terjaga.
Kemudian, penentuan pos medis berdasar analisis risiko.
”Paling penting yang bisa dipelajari adalah komunikasi antar-instansi di Jepang. Komunikasinya sangat cepat meskipun berbeda lembaga. Untuk menyukseskan event skala besar ini, membutuhkan persiapan dan logistik skala besar,” papar dokter spesialis dan dosen emergency medic itu.
Sebelum mengemban tugas di Tokyo Marathon 2025, Haedar pernah bertugas di beberapa event besar.
Seperti Superbike World Championship dan MotoGP Mandalika.
Kemudian menjadi direktur medis PON Papua klaster Merauke.
Selanjutnya menjadi tim medis di Piala Dunia U-17 yang digelar di Indonesia. Berlanjut ke event Moriya Half Marathon di Prefektur Ibaraki, Jepang, pada Februari 2020.
”Untuk ajang yang terbaru ini, bermula dari menempuh studi doktoral di Kokushikan University, Tokyo. Kemudian diajak dosen saya ikut ambil bagian Tokyo Marathon 2025,” papar pria berusia 45 tahun itu.
Dosennya ada pria berdarah Minang, bernama Prof Hideharu Tanaka.
Pria itu menjadi direktur medis atau pimpinan tertinggi paramedis Tokyo Marathon 2025. (*/by)
Editor : A. Nugroho