Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mengupas Isu Gender dalam Film Conclave yang Sempat Viral Usai Wafatnya Paus Fransiskus

Aditya Novrian • Selasa, 29 April 2025 | 21:40 WIB

Poster film Conclave 2024 (www.aboutamazon.com).
Poster film Conclave 2024 (www.aboutamazon.com).

RADAR MALANG - Wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April 2025 membawa duka mendalam bagi umat Katolik di seluruh dunia. Namun di tengah suasana berkabung, film Conclave (2024) justru kembali menjadi sorotan. Disutradarai Edward Berger dan dibintangi aktor papan atas seperti Ralph Fiennes, Stanley Tucci, John Lithgow, dan Isabella Rossellini, Conclave mengalami lonjakan penonton hingga 283 persen hanya dalam satu malam.

Film ini bukan hanya menawarkan ketegangan pemilihan Paus di balik pintu Vatikan. Lebih dari itu, Conclave menguliti struktur kekuasaan gereja Katolik dari perspektif feminisme modern, sebuah terobosan berani yang mengundang refleksi tentang eksklusi gender, maskulinitas toksik, dan harapan akan kesetaraan.

Baca Juga: Sempat Sampaikan Belasungkawa ke Paus Fransiskus, Akun X Israel Kini Hapus Unggahan

Berlatar di lingkungan Vatikan yang kental dengan nilai-nilai patriarkal, Conclave menampilkan realitas di mana seluruh proses konklaf dikendalikan sepenuhnya oleh pria. Perempuan hanya hadir di latar belakang: biarawati-biarawati yang berperan sebagai pelayan. Visualisasi ini tidak hanya memperlihatkan ketimpangan gender, melainkan juga menjadi kritik tajam atas minimnya peran perempuan dalam struktur kekuasaan religius.

Namun Conclave tidak berhenti di kritik visual. Film ini menghadirkan gebrakan besar dengan memperkenalkan twist mengejutkan: Kardinal Benitez, sosok yang terpilih menjadi Paus baru, ternyata adalah seorang interseks. Lahir dengan karakteristik biologis campuran, Benitez dibesarkan sebagai laki-laki tanpa mengetahui kondisi dirinya. Keputusan film untuk menghadirkan pemimpin tertinggi Gereja dengan identitas non-biner menjadi simbol kuat bahwa norma gender tradisional bisa, dan seharusnya, dipertanyakan.

Baca Juga: Dari Santo Petrus hingga Fransiskus: Bagaimana Pemilihan Paus Berikutnya?

Ketegangan moral yang muncul setelah pengungkapan identitas Benitez digarap dengan empati, terutama melalui karakter Cardinal Lawrence. Alih-alih mengungkap rahasia tersebut dan meruntuhkan kredibilitas Benitez, Lawrence memilih melindunginya demi kebaikan umat. Sebuah narasi progresif tentang kemanusiaan di atas dogma.

Film ini juga cerdik membalik stereotip gender melalui karakterisasi. Cardinal Lawrence digambarkan dalam posisi pasif, penuh kontemplasi, dan sering mengambil sikap yang lebih "feminin" dalam narasi klasik. Sementara itu, perempuan, meski secara jumlah minor, digambarkan sebagai sosok tegas, tajam, dan berdaya, menciptakan dinamika gender yang segar di dalam cerita.

Baca Juga: Duka Dunia: Vatikan Jelaskan Penyebab Wafatnya Paus Fransiskus

Di tengah lanskap sinema yang masih sering meminggirkan isu kesetaraan gender, Conclave muncul sebagai oase. Pesannya jelas: kepemimpinan sejati tak mengenal batasan biologis atau norma sosial kuno. Kepemimpinan sejati berbicara tentang visi, integritas, dan keberanian menerima keberagaman.

Dengan membongkar ketabuan lama Gereja dan mengusulkan masa depan yang lebih inklusif, Conclave tak hanya mengguncang layar lebar, tetapi juga mengetuk hati para penonton untuk merenungkan kembali: sudah sejauh mana institusi kita, baik agama, politik, maupun masyarakat, membuka pintu bagi kesetaraan sejati? Melalui narasi penuh ketegangan dan lapisan makna yang dalam, Conclave (2024) membuktikan bahwa bahkan di balik tembok Vatikan yang kokoh, suara perubahan tetap bisa bergema. (my)

Editor : Aditya Novrian
#Conclave #kesetaraan gender #review film #feminisme #Paus Fransiskus wafat #isu gender