Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Menuju Pemilihan Paus Baru, Kardinal Suharyo Tiba di Vatikan: Indonesia Ikut Menentukan Arah Gereja Katolik Dunia

Aditya Novrian • Senin, 5 Mei 2025 | 21:40 WIB

Kardinal Ignatius Suharyo (wikipedia).
Kardinal Ignatius Suharyo (wikipedia).

RADAR MALANG – Perhatian umat Katolik dunia kini tertuju ke Kota Vatikan. Pasca wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April 2025 lalu, Gereja Katolik memasuki masa Sede Vacante, yakni kekosongan Tahta Suci. Dalam suasana duka namun penuh harapan, 127 kardinal dari berbagai penjuru dunia bersiap untuk memilih Paus baru, termasuk satu-satunya wakil Indonesia, Kardinal Ignatius Suharyo.

Pada Minggu pagi, 4 Mei 2025, Kardinal Suharyo tiba di Roma dan disambut hangat oleh Duta Besar RI untuk Vatikan, Trias Kuncahyono, serta para rohaniwan Indonesia di Italia. Kedatangannya lebih awal dari jadwal atas permintaan Dewan Kardinal untuk mengikuti persiapan konklaf yang akan dimulai secara resmi pada 7 Mei.

Apa Itu Kardinal dan Mengapa Penting?

Bagi banyak orang awam, istilah kardinal mungkin masih asing. Kardinal adalah pejabat senior dalam Gereja Katolik yang ditunjuk langsung oleh Paus. Tugas mereka meliputi memberi nasihat kepada Paus, memimpin keuskupan penting di berbagai negara, atau mengelola departemen di Vatikan (Kuria Romawi). Namun, peran terpenting mereka muncul saat terjadi kekosongan kepausan—yakni memilih Paus baru dalam konklaf.

Baca Juga: Sempat Sampaikan Belasungkawa ke Paus Fransiskus, Akun X Israel Kini Hapus Unggahan

Dewan kardinal sendiri terbagi dalam tiga tingkatan: kardinal uskup, kardinal imam, dan kardinal diakon. Mereka berasal dari berbagai latar belakang dan negara. Kata “kardinal” berasal dari bahasa Latin cardo yang berarti “poros” atau “inti”, menandakan peran sentral mereka dalam struktur Gereja Katolik.

Hanya kardinal yang berusia di bawah 80 tahun yang memiliki hak suara dalam konklaf. Kardinal Suharyo (lahir 9 Juli 1950) masih memenuhi syarat dan akan menjadi bagian dari proses penting ini.

Konklaf: Tradisi Kuno, Dampak Global

Konklaf adalah proses pemilihan Paus baru yang dilakukan secara tertutup di Kapel Sistina. Setelah Misa Pro Eligendo Pontifice di Basilika Santo Petrus, para kardinal berjalan dalam prosesi ke Kapel Sistina, menyanyikan Litani Para Santo, lalu mengucapkan sumpah kerahasiaan sebelum proses pemungutan suara dimulai.

Baca Juga: Dari Santo Petrus hingga Fransiskus: Bagaimana Pemilihan Paus Berikutnya?

Selama konklaf, setiap kardinal menuliskan nama kandidat pilihan pada surat suara bertuliskan “Eligo in summum pontificem” (Saya memilih sebagai Paus Tertinggi). Pemungutan suara dilakukan empat kali sehari (dua kali pagi dan dua kali sore) hingga ada calon yang mendapatkan dua pertiga suara. Jika tidak tercapai setelah 33–34 putaran, aturan mengizinkan pemilihan dengan mayoritas sederhana (50%+1).

Hasilnya diumumkan lewat asap dari cerobong Kapel Sistina: asap hitam berarti belum terpilih, sementara asap putih menandakan Paus baru telah terpilih. Dunia kemudian mendengar pengumuman “Habemus Papam!” dari balkon Basilika Santo Petrus, disusul berkat pertama dari Paus baru kepada umat Katolik di seluruh dunia.

Penginapan Khusus dan Keamanan Ketat

Selama proses konklaf, para kardinal tinggal di Domus Sanctae Marthae, tempat penginapan dalam wilayah Vatikan. Seluruh area konklaf diawasi ketat dan disterilkan dari alat komunikasi. Ponsel, internet, dan segala bentuk koneksi ke dunia luar dilarang keras guna menjaga integritas dan kerahasiaan pemilihan.

Indonesia dalam Sorotan Gereja Global

Kardinal Suharyo adalah Uskup Agung Jakarta sekaligus kardinal ketiga dalam sejarah Gereja Katolik Indonesia. Ia dikenal luas sebagai sosok yang sederhana, bijaksana, dan berwawasan lintas budaya—cerminan wajah Gereja Katolik Indonesia yang damai dan toleran di tengah masyarakat plural.

Baca Juga: Mengenal Pneumonia Ganda: Penyakit yang Menyerang Paus Fransiskus dan Tingkat Bahayanya

Keterlibatan Indonesia dalam konklaf bukan hanya simbol partisipasi global, tetapi juga menunjukkan bahwa suara umat Katolik di Asia Tenggara ikut menentukan arah masa depan Gereja yang beranggotakan lebih dari 1,3 miliar orang di seluruh dunia.

Sejarah Panjang dan Simbolisme Sakral

Konklaf pertama kali digelar tahun 1274 oleh Paus Gregorius X setelah vakum kepemimpinan selama hampir 3 tahun. Proses ini sarat simbolisme: Kapel Sistina tempat para kardinal memilih dikelilingi lukisan Penghakiman Terakhir karya Michelangelo, sebagai pengingat akan tanggung jawab spiritual yang besar.Rekor konklaf terlama terjadi pada 1268–1271 di Viterbo, Italia, yang berlangsung lebih dari dua tahun sembilan bulan.

Baca Juga: Dari Penjaga Klub Malam Hingga Pemimpin Umat Katolik Dunia: Perjalanan Hidup Paus Fransiskus yang Sarat Makna

Dengan konklaf yang segera berlangsung dan dunia menanti siapa yang akan menggantikan Paus Fransiskus, perhatian juga tertuju pada kontribusi Indonesia di antara barisan pemimpin spiritual dunia. Kini, jutaan mata menanti, siapa yang akan terpilih sebagai Paus berikutnya, dan bagaimana jejak Indonesia lewat figur Kardinal Suharyo akan dikenang dalam babak sejarah Gereja Katolik yang baru? (my)

Editor : Aditya Novrian
#kardinal suharyo #vatikan #Konklaf 2025 #pemilihan paus #gereja katolik #Paus Fransiskus wafat