RADAR MALANG - Pendakian gunung sering dianggap sebagai aktivitas menantang dan menyegarkan jiwa, namun tak sedikit yang lupa: satu langkah keliru bisa berujung maut. Dalam beberapa bulan terakhir, deretan insiden tragis kembali membuka mata kita soal betapa berbahayanya kegiatan ini jika dilakukan tanpa persiapan matang.
Kasus terbaru menimpa seorang pendaki asal Malaysia yang tewas setelah jatuh ke jurang di jalur Torean, Gunung Rinjani. Ironisnya, korban diketahui melepas pegangan tali pengaman meski sudah diingatkan rekan sesama rombongan. Sebelumnya, dua pendaki juga kehilangan nyawa di awal 2025, satu di Gunung Agung, Bali, akibat jatuh, dan satu lagi karena hipotermia di Gunung Dempo, Sumatra Selatan. Insiden ini bukan hal baru, tetapi tetap saja terulang. Mengapa?
Baca Juga: Mbok Yem Pemilik Warung di Puncak Gunung Lawu Meninggal, Kenangannya Bikin Rindu para Pendaki
Faktor Kelalaian Masih Dominan
Analisis berbagai kasus menunjukkan 90 persen kecelakaan terjadi saat turun gunung. Kondisi tubuh yang kelelahan dan menurunnya konsentrasi membuat pendaki lengah. Keinginan untuk cepat sampai di bawah seringkali membuat mereka mengabaikan prosedur keselamatan. Seperti dalam tragedi di Rinjani, korban memilih melanjutkan jalur curam tanpa bantuan, mengabaikan tali pengaman, dan akhirnya terjatuh ke jurang.
Alam Tak Bisa Diprediksi, Tapi Bisa Diantisipasi
Cuaca ekstrem seperti kabut tebal, hujan deras, dan suhu dingin tak hanya mengganggu, tapi juga bisa mematikan. Hipotermia menjadi penyebab umum kematian di gunung, apalagi jika pendaki tidak membawa pakaian hangat atau perlengkapan yang sesuai. Belum lagi risiko longsor, erupsi mendadak, atau jalur yang licin akibat hujan.
Baca Juga: Estetik Dulu, Etika Belakangan : Alam Jadi Korban Pendaki Masa Kini
Minimnya Persiapan, Fatal Akibatnya
Banyak pendaki nekat naik gunung tanpa persiapan fisik dan mental yang cukup. Ada yang belum terbiasa medan berat, tidak paham teknik navigasi, hingga tidak membawa perlengkapan standar seperti headlamp, peta, atau GPS. Kesalahan teknis juga sering terjadi, seperti salah mengikat simpul tali atau tidak tahu cara memakai peralatan safety. Dalam kondisi darurat, kesalahan kecil bisa jadi penentu hidup dan mati.
Peringatan Keras: Pendakian Bukan Sekadar Gaya-Gayaan!
Para ahli dan relawan SAR mengingatkan: mendaki bukan tentang pencitraan, tetapi tentang kesadaran dan tanggung jawab. Berikut tips penting yang wajib diperhatikan para pendaki:
- Jangan remehkan prosedur keselamatan. Pakai alat pengaman, ikuti jalur resmi, dan jangan menolak bantuan.
- Persiapkan fisik dan mental jauh sebelum hari H.
- Lengkapi diri dengan pakaian hangat, peralatan navigasi, dan logistik cukup.
- Cek prakiraan cuaca dan kondisi jalur dari otoritas setempat.
- Jangan pernah mendaki sendirian! Informasikan rute dan jadwal pendakian ke keluarga atau petugas basecamp.
- Pelajari teknik survival dasar dan pertolongan pertama.
Baca Juga: Pendaki Arjuno Ditemukan Selamat
Lebih dari Sekadar Petualangan
Kematian demi kematian para pendaki bukan hanya angka, tetapi alarm keras bahwa mendaki gunung membutuhkan lebih dari sekadar semangat. Dibutuhkan ilmu, kesiapan, dan respek terhadap alam. Ingat, tujuan utama dari setiap pendakian adalah kembali ke rumah dengan selamat. Jangan biarkan euforia sesaat mengalahkan akal sehat. (my)
Editor : A. Nugroho