Bekas Makam Belanda, Sempat Jadi Opsi untuk Pasar Besar
Bayu Mulya Putra• Rabu, 7 Mei 2025 | 18:35 WIB
Area dalam eks Terminal Pattimura kini berubah menjadi deretan ruko. Bus dengan beragam jurusan sempat memenuhi Terminal Pattimura pada era 1970 sampai 1980-an. (BIYAN MUDZAKY hANINDITO/ RADAR MALANG)
Sebelum ada Terminal Arjosari, terminal bus besar di Kota Malang berlokasi di Jalan Pattimura, Kecamatan Klojen. Terminal yang beroperasi pada era 1970 an itu memanfaatkan lahan kerkhoff atau makam Belanda. Operasionalnya dipindah karena lalu lintas di sekitarnya semakin ramai.
BIYAN MUDZAKY HANINDITO
AdA 15 rumah toko (ruko) yang kini berdiri di lahan eks Terminal Pattimura atau di seberang garasi Perusahaan Otobus (PO) Gunung Harta.
Ada yang dijadikan gudang jasa ekspedisi, koperasi, kafe, dan kantor.
Beberapa bangunan masih kosong.
Di pojok utara lahan tersebut, ada sebuah rumah kecil.
Jawa Pos Radar Malang belum menemukan satu pun orang di sana yang mengetahui riwayat tanah tempat mereka berpijak adalah bekas terminal.
Dalam beberapa sumber, kawasan ruko tersebut dulunya adalah tempat yang sarat lalu lalang orang pada era 1970an.
Area dalam eks Terminal Pattimura kini berubah menjadi deretan ruko. Bus dengan beragam jurusan sempat memenuhi Terminal Pattimura pada era 1970 sampai 1980-an. (BIYAN MUDZAKY hANINDITO/ RADAR MALANG)
Terminal yang berada di bawah pengelolaan Pemkot Malang itu dulu menjadi terminal pusat.
Dengan pelayanan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), Antar Kota Dalam Pro vinsi (AKDP), dan angkutan kota (angkot) atau yang dulu dikenal sebagai bemo.
”Operasionalnya singkat, tidak sampai 15 tahun,” kata Sejarawan Kota Malang Agung Harjaya Buana.
Terminal tersebut beroperasi antara tahun 1977 sampai 1988.
Pada masa kolonial, sekitar tahun 1920, kawasan tersebut adalah kerkhoff atau tempat pemakaman khusus bagi warga Belanda.
Itu berkaitan dengan rencana pengembangan Kota praja Malang atau Bouwplan I.
Dulu, kawasan di sekitar Jalan Pattimura atau sebagian besar Kelurahan Klojen merupakan kawasan permukiman khusus orang kulit putih.
Kawasan itu dulu dikenal dengan Oranjebuurt, yang sekarang berada di Jalan Diponegoro.
Sedangkan lahan makam pada zaman dulu hanya berada di kawasan yang ditinggali warga Tionghoa.
Tepatnya di sisi barat Makam Kuthobedah.
Pemakaman khusus orang Belanda itu terbilang luas.
Ujung selatan berada di Jalan Pajajaran (V. Heutsz Straat), utara di Pattimura (Klodjen Lor).
Sementara baratnya di Suropati (Idenburg Straat), dan timurnya di Trunojoyo (Goedang Weg).
Seiring waktu, karena wilayah Klojen semakin ramai dengan aktivitas pasar dan stasiun, makam tersebut akhirnya dipindah ke Kecamatan Sukun sekitar tahun 1930.
”Ada sekitar 100 makam yang dipindah waktu itu,” imbuh dia.
Bekas makam Belanda itu pun dibersihkan.
Meninggalkan lahan kosong yang tak terpakai.
Pemerintah saat itu memiliki rencana pemanfaatan tanah eks kuburan tersebut.
Salah satunya untuk pembangunan Pasar Kotapraja atau Pasar Besar.
Agung menyebut, dulu ada dua tempat yang jadi opsinya.
Selain di eks kerkhoff Pattimura, juga di dekat tempat yang sekarang menjadi Wisma Tumapel, atau di sekitar Jalan Maja pahit.
Tapi, rencana pembangunan di dua lokasi tersebut tidak direalisasikan.
Sebab, ada protes dari pengusaha Tionghoa dan Arab yang menge luh terlalu jauh dari tempat mereka berada.
Agung menyebut, para pemilik usaha tersebut sebelumnya telah membentuk pasar swasta di yang sekarang menjadi Pasar Besar.
”Seiring waktu, pasar swasta atau partikelir pada masa itu diambil alih pemerintah,” ujar Agung.
Lahan bekas makam itupun mangkrak lagi.
Sebab, orang Tionghoa, Arab, Pribumi, dan Belanda samasama percaya kalau tanah bekas makam tidak cocok untuk berbisnis.
Sampai pada 1960an, Pemkot Malang mulai membangun terminal di sana.
Itu sebagai langkah tindak lanjut pemindahan Terminal Sawahan yang semakin padat.
”Tapi baru bisa beroperasi tahun 1970an. Sempat terhambat karena waktu itu kondisi politik sedang memanas dan terdampak G30S PKI,” tambah Agung.
Seluruh kawasan di tanah bekas makam menjadi terminal.
Sebagian besar area dalam adalah tempat parkir dan ngetem bus dengan beragam jurusan.
Gedung utama terminal berada di sisi Trunojoyo.
Seiring berjalannya waktu, terminal pun makin ramai.
Bus jurusan Malang-Surabaya semakin banyak frekuensi perjalanannya.
Sejumlah PO terkenal pernah ber operasi di sana.
Seperti Menggala, HAZ, AKAS, Restu, Adam, Baruna, Pelita Mas, dan DAMRI.
Memasuki era 1980an, kawasan di sekitar terminal semakin ramai.
Saat itu juga dilakukan pembangunan di Jalan Panji Suroso.
Akhirnya, Pemkot Malang mulai menginisiasi pembangunan Terminal Arjosari di wilayah utara atau Kecamatan Blimbing.
Tempat baru itu pun mulai beroperasi pada 1989.
Setahun sebelumnya, tepatnya 1988, operasional Terminal Pattimura resmi ditutup.
Beberapa tahun berselang, kawasan disana mulai jadi lokasi pembangunan ruko.
Itu bertahan sampai saat ini.
Tidak ada tanda-tanda terminal yang tersisa.
Namun di sekitarnya masih ada tanda bahwa di sana pernah berdiri terminal.
Sebab, ada garasi bus Tiara Mas dan Gunung Harta di Jalan Pattimura.
”Itu sudah ada sejak zaman Terminal Pattimura beroperasi. Memang di dekat terminal pasti ada garasi atau pool bus,” tandas dia. (*/by)