RADAR MALANG – Dunia dikejutkan dengan terpilihnya seorang pria asal Amerika Serikat sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Kardinal Robert Francis Prevost, nama yang mungkin belum banyak dikenal publik Indonesia, kini resmi menjadi Paus Leo XIV setelah pemilihan pada 9 Mei 2025.
Penunjukannya menorehkan sejarah baru: ia adalah paus pertama yang berasal dari Amerika Utara, paus pertama dari Ordo Santo Agustinus sejak abad ke-15, serta salah satu paus dengan pengalaman misi yang luas di luar Eropa. Sosoknya disebut-sebut membawa angin segar dan harapan baru untuk umat Katolik dan masyarakat global.
Lahir di Amerika, Mengabdi di Peru
Robert lahir di Chicago, Amerika Serikat, pada 14 September 1955 dari pasangan berdarah campuran Prancis, Italia, dan Spanyol. Meski tumbuh di lingkungan religius di AS, jalan hidupnya membawanya jauh ke Peru, tempat ia menghabiskan lebih dari satu dekade untuk mengabdi sebagai misionaris dan pembina calon pastor.
Pengabdiannya yang begitu dalam membuatnya diberi kewarganegaraan Peru, dan ia dikenal dekat dengan masyarakat kecil di wilayah terpencil. Tak heran, banyak yang menjulukinya “Amerika, tapi bukan Amerika banget” karena gaya kepemimpinannya yang sederhana dan membumi.
Baca Juga: Popemobile, Hadiah Terakhir Paus Fransiskus untuk Anak-Anak Gaza yang Terluka
Jauh dari Kesan Megah, Dekat dengan Rakyat Kecil
Prevost dikenal sebagai pemimpin yang rendah hati dan menolak gaya hidup mewah. Ia sempat menegur para uskup yang hidup terlalu “kerajaan”. “Gereja bukan tempat untuk pangeran-pangeran kecil,” begitu salah satu kalimat yang sempat ia lontarkan di sebuah pertemuan.
Sebelum menjadi paus, ia menjabat sebagai Uskup Chiclayo di Peru, dan terakhir menjabat di Vatikan sebagai Prefek Dikasteri untuk Para Uskup—jabatan penting yang menangani urusan penunjukan uskup di seluruh dunia.
Langsung Terpilih Setelah Tiga Putaran
Dalam konklaf, yakni pemilihan tertutup para kardinal di Vatikan, nama Prevost muncul sebagai sosok yang mampu menyatukan suara dari berbagai blok. Dari 133 kardinal pemilih, ia terpilih hanya dalam tiga putaran—tanda kuat bahwa banyak pihak menaruh harapan besar padanya.
Dengan latar belakang misionaris, pemahaman hukum gereja, dan pengalaman lintas budaya, ia dianggap sebagai figur yang mampu menjembatani perbedaan budaya di dalam Gereja yang semakin global.
Membawa Harapan Baru di Era Modern
Sebagai Paus Leo XIV, ia melanjutkan semangat reformasi yang telah dicanangkan oleh Paus Fransiskus. Fokus utamanya disebut-sebut akan berada pada inklusivitas, keadilan sosial, dan solidaritas lintas bangsa dan budaya. Ia juga dikenal memperjuangkan isu migran dan kaum tertindas, hal yang semakin penting di tengah tantangan sosial global saat ini.
Bagi banyak umat Katolik dan bahkan masyarakat umum, kehadiran Leo XIV menjadi simbol bahwa Gereja Katolik sedang bergerak ke arah yang lebih terbuka, merangkul semua kalangan, dan siap menghadapi dunia yang terus berubah. (my)
Editor : Aditya Novrian