Selalu ada pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa besar. Secara tidak langsung, poin itu ditekankan Ketua Umum PSSI Erick Thohir dalam podcast bersama Neal Petersen dari The Haye Way, beberapa waktu lalu.
”Saat itu ada masalah besar setelah tragedi Kanjuruhan. Banyak orang mengalami masalah, 135 orang meninggal dunia. Saya rasa itu adalah tragedi mendalam bagi sepak bola kami. Dan, karena hal itu, pemerintah dan FIFA setuju mencari cara untuk mentransformasikan sepak bola kami dengan serius,” begitu petikan pernyataan Erick pada awalawal podcast.
Sebagai pengingat, Erick menjadi Ketua Umum PSSI kurang dari lima bulan setelah tragedi memilukan itu. Di bawah komando dia, upaya transformasi sepak bola Indonesia mulai dilakukan.
”Kami saat itu mulai mempelajari apa saja yang dilakukan KNVB (PSSI-nya Belanda) dan apa yang dilakukan oleh Jepang,” kata Erick.
Baca Juga: Stadion Kanjuruhan Steril PKL selama Pertandingan
Dukungan dari FIFA menambah semangat pengurus PSSI untuk berbenah. Dari sana bisa diasumsikan bahwa tragedi Kanjuruhan jadi salah satu alasan di balik perkembangan sepak bola Indonesia saat ini.
Setidaknya itu tergambar dalam sikap dan langkah Erick Thohir yang mewakili PSSI. Terbaru, ada sinyal larangan suporter melakukan away bakal diperpanjang. Tidak hanya berlaku untuk Liga 1 musim ini saja.
Musim depan bisa jadi diterapkan lagi. Bisa dipahami bila pengurus PSSI dan operator Liga 1 masih ’trauma’ pada tragedi Kanjuruhan tersebut.
Sikap hati-hati itu juga terlihat dalam beberapa hari terakhir. Pada 6 Mei lalu, Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto bersama tiga Kapolres di Malang Raya bersilaturahmi dengan Aremania di Pendapa Agung Kabupaten Malang.
Baca Juga: Perspektif: Mengakhiri Prahara Tabung Gas
Itu jadi salah satu sarana persiapan menyambut kembalinya Arema FC ke Stadion Kanjuruhan, hari ini (11/5).
Ya, setelah 2,5 tahun harus jadi tim nomaden, Singo Edan bakal kembali berkandang di Stadion Kanjuruhan.
Tak penting siapa yang menjadi lawannya. Itu adalah momen yang sangat emosional. Khususnya bagi para keluarga korban. Beberapa hari setelahnya, tepatnya 25 Mei nanti, Arema FC bakal kembali berkandang di sana sebagai laga terakhir Liga 1 musim ini.
Pemerintah dan aparat sudah memberi lampu hijau bagi Singo Edan untuk menggunakan venue yang menyedot dana renovasi senilai Rp 357 miliar itu. Tak perlu terburu-buru bangkit dari memori kelam yang tak mungkin terlupakan.
Semua pihak hanya perlu belajar menahan diri. Sebab, sejarah mencatat, tempat lain yang menjadi lokasi tragedi sepak bola juga butuh waktu panjang untuk berbenah. Estadio Nacional di Peru yang jadi saksi bisu meninggalnya 328 suporter pada 1964 juga mengalami beberapa tahap renovasi.
Dilakukan pada 1992, 1996, 2004, dan 2010. Kapasitasnya kini menyusut. Dari 53 ribu penonton, turun jadi 42 ribu penonton. Semua dilakukan karena mereka tak ingin memori kelam terulang.
Stadion Olahraga Accra di Ghana juga mengalami hal serupa. Venue yang sebelumnya bernama Stadion Ohene Djan itu jadi tempat terakhir 126 suporter mengembuskan napas, 9 Mei 2001 lalu. Setelah tragedi itu, sepak bola di Ghana berbenah.
Mereka mempelajari serangkaian program pelatihan manajemen krisis, keamanan stadion, perbaikan gerbang di lapangan, hingga fasilitas P3K yang lebih baik.
Baca Juga: Stadion Kanjuruhan Malang Punya Pekerjaan Rumah terkait Kualitas Rumput
Stadion Hillsborough di Inggris juga jadi trigger atau pemicu pembenahan sistem keamanan di sana.
Setelah tragedi kelam pada 15 April 1989 yang membuat 96 suporter meninggal dunia, desain stadion dipelototi.
Tempat penonton dibuat all-seater atau single seat. Itu diterapkan secara menyeluruh empat tahun setelah tragedi. Pagar yang berada di sekeliling lapangan juga diganti dengan barikade rendah.
Perubahan yang menyeluruh memang sulit dilakukan dalam waktu singkat. Saat ini, manajemen Singo Edan juga mendapat beberapa tekanan karena kebijakan menjual tiket secara online.
Baca Juga: Arema FC Tidak Sediakan Tiket On The Spot di Stadion Kanjuruhan Malang
Semua calon penonton diimbau mendaftar Kartu Tanda Anggota (KTA) Aremania Utas terlebih dahulu. Kabarnya itu jadi bagian dari jaminan asuransi dan kemudahan mendata identitas penonton.
Kalau memang tujuannya baik, silakan dilanjutkan. Yang penting konsisten. Sistemnya juga harus benar agar tak menyulitkan.
Saat ini, semua pihak hanya perlu memahami kondisi. Dalam pandangan Aristoteles, tragedi bukan sekadar cerita sedih.
Itu juga menjadi wahana untuk memahami sifat manusia. Khususnya mengenai kekuatan takdir dan kemungkinan untuk belajar dari kesalahan.
Setelah 1 Oktober 2022, atmosfer persepakbolaan di Malang tak akan sama lagi. Tragedi itu tak akan pernah terlupa. Bagi para pemangku kebijakan, harap diingat bahwa suporter bukanlah dewa, yang bisa dengan mudah memaafkan kesalahan-kesalahan oknum. (*)
Editor : Aditya Novrian