Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kontroversi Program Barak Militer untuk Anak Nakal oleh Dedi Mulyadi

A. Nugroho • Selasa, 13 Mei 2025 | 15:35 WIB
Verrell Bramasta memberikan komentar terhadap Kebijakan Dedi Mulyadi tentang program pendidikan karakter berbasis barak militer
Verrell Bramasta memberikan komentar terhadap Kebijakan Dedi Mulyadi tentang program pendidikan karakter berbasis barak militer

RADAR MALANG - Program pendidikan karakter berbasis barak militer yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. 

Program tersebut memiliki tujuan untuk membina anak-anak yang dianggap "nakal" dengan pendekatan disiplin ala militer. 

Akan tetapi, banyak pihak mempertanyakan efektivitas dan dampak psikologis dari metode tersebut.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Bakal Kirim Siswa Problematik ke Barak Militer Selama 6 Bulan

Pendukung program ini berpendapat bahwa pendekatan militer dapat membantu membentuk karakter anak-anak yang sebelumnya sulit diatur. 

Kang Dedi Mulyadi mengklaim bahwa anak-anak yang mengikuti program ini menunjukkan perubahan positif, seperti pola tidur yang lebih teratur dan berhenti merokok.

Selain itu, banyak orang tua yang secara sukarela menitipkan anak mereka ke barak militer karena merasa kesulitan dalam mendidik mereka di rumah. 

Baca Juga: Tagar #Vasektomi Trending, Usulan Dedi Mulyadi Soal KB Pria Jadi Syarat Penerimaan Bansos Tuai Polemik

Mereka berharap bahwa metode ini dapat memberikan dampak positif bagi masa depan anak-anak mereka.

Di sisi lain, kritik terhadap program ini datang dari berbagai pihak, termasuk Anggota DPR Verrell Bramasta, yang menilai bahwa pendekatan militeristik tidak cukup untuk menyelesaikan akar masalah kenakalan remaja. 

Ia berpendapat bahwa faktor psikologis, tekanan sosial, dan dinamika keluarga juga harus diperhatikan dalam pembinaan anak-anak.

Baca Juga: Pendaftaran Sekolah Rakyat Dimulai, Puguh Anggota DPRD Jatim Harapkan Program Bisa Tepat Sasaran

Selain itu, beberapa pihak menyoroti bahwa program ini berpotensi melanggar hak anak, terutama jika mereka tidak diberikan pilihan lain selain mengikuti pendidikan di barak militer. 

Kritik juga muncul terkait kurangnya aspek pendidikan akademik dalam program ini, yang membuat anak-anak lebih fokus pada kedisiplinan fisik daripada pengembangan intelektual.

Menanggapi kritik yang dilontarkan oleh Verrell Bramasta, Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, menantangnya untuk menangani 15 siswa dengan metode yang berbeda. 

Ia mengusulkan agar Verrell membuktikan efektivitas pendekatan alternatif dibandingkan dengan metode barak militer.

Metode ini masih menjadi perdebatan langsung, apakah benar-benar efektif atau justru perlu dikaji ulang.

Hasil dari program ini akan menjadi penentu apakah pendekatan militer dapat menjadi solusi bagi kenakalan remaja di Indonesia. (fi)

Editor : A. Nugroho
#program pendidikan karakter #Kontroversi #program barak militer #dedi mulyadi