"Dulu, di Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing ada dua stasiun. Pada masa kolonial Belanda, kedua stasiun tersebut menjadi tempat transit barang dan penumpang dari arah Tumpang, Gondanglegi, menuju Bangil (Pasuruan), dan Surabaya. Pada 1968, salah satu stasiun ditutup. Jejak bangunannya kini menjadi permukiman warga." - BIYAN MUDZAKY HANINDITO
Berjarak sekitar 25 meter dari Stasiun Blimbing, dulu ada layanan Kereta Api (KA) yang bisa membawa penumpang ke beberapa tujuan.
Bisa ke pusat Kota Malang, Singosari, atau Tumpang.
Saat ini, bangunannya berubah menjadi kompleks pertokoan dan permukiman warga.
Area itu masuk wilayah RW 10, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing.
Masuk lebih dalam ke gang, bakal didapati rumah kuno panjang menyerupai mess pegawai.
Bangunan itu kini dibagi menjadi empat rumah.
Indikasi bahwa bangunan tersebut adalah bekas Stasiun Blimbing trem atau Blimbing Malang Stoomtram Maatschappij (MS) terlihat dari kayu penyangga di bagian langit-langitnya.
Kayu itu berbentuk garis-garis seperti yang ditemukan di bangunan stasiun peninggalan MS lainnya.
Seperti di Dampit, Gondanglegi, dan Jagalan.
Sayangnya, sebagian besar warga tidak mengetahui bahwa bangunan tersebut dulunya adalah bekas stasiun KA.
”Itu mess pegawai KA, sudah sejak lama,” kata salah seorang lansia perempuan di lingkungan tersebut.
Sisa empat rel di sisi timur bangunan tersebut kini sudah tertimbun aspal dan perkampungan warga.
Bekas jalur trem ke arah Tumpang kini beralih fungsi menjadi jalan yang kini dikenal sebagai Gang Bakti dan Stasiun.
Dokumentasi bangunan di era kolonial juga minim.
Yang tersedia hanya foto udara kawasan Blimbing yang menampakkan dua stasiun yang sama-sama mengarah ke utara (Singosari).
Humas Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya, Alfaviega Septian Pravangasta, membenarkan bahwa rumah kuno di sana adalah bekas Stasiun Blimbing trem.
Letaknya bersebelahan dengan Stasiun Blimbing yang kini masih beroperasi karena dua bangunan itu milik dua perusahaan yang berbeda.
”Yang masih aktif sampai sekarang itu peninggalan dari perusahaan Staatspoorwagen (SS) milik negara. Dibangunnya sekitar tahun 1878 dan beroperasi setahun setelahnya,” terang dia.
Baca Juga: Rekomendasi Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Singosari, Wajib Coba
Untuk stasiun yang dioperasikan MS, beroperasi mulai 27 April 1901.
Rute yang dilalui dua KA dari stasiun itu juga berbeda.
Stasiun Blimbing SS melayani KA jurusan Surabaya, Pasuruan, dan Blitar.
Sedangkan MS melayani rute ke Singosari, Tumpang, dan Jagalan melewati Kajoetangan.
Dari Stasiun Jagalan, akan diteruskan menuju ke Malang Kotalama, Gondanglegi, dan Dampit.
Alfaviega menyebut, lalu lintas dan okupansi kedua stasiun tersebut terbilang ramai ketika keduanya masih beroperasi.
Karena, dua stasiun dengan jarak sangat dekat itu cukup ideal untuk tempat transit atau interchange barang dan penumpang meski kedua stasiun tersebut tidak terhubung rel langsung.
”Jadi hasil bumi yang dari daerah Malang Timur akan dibawa ke Blimbing. Kemudian dipindahkan ke gerbong barang punya SS di sana,” imbuh dia.
Pada awal pembangunannya, Stasiun Blimbing MS hanya berupa halte kayu.
Seiring waktu, banyak perubahan yang dilakukan karena ramainya okupansi penumpang.
”Tahun 1915 di sekitar Stasiun Blimbing MS dibangun rumah dinas untuk kepala atasiunnya,” kata pegiat Sejarah Kereta Api dari Komunitas Begandring Soerabaia, Navy Pattiruhu.
Karena menjadi tempat transit, jadwal KA antar-jurusan juga dibuat tidak lama.
Itu tampak dari jadwal dalam buku Officieele Reisgids der Spoor en Tramwegen en Aansluitende Automobieldiensten op Java en Madoera terbitan N.V. Sie Dhian Ho tahun 1926.
Terdapat tiga pemberangkatan pulang pergi untuk jurusan Blimbing–Tumpang.
Sedangkan untuk yang di Blimbing SS, ada lima perjalanan KA dari arah Malang Kotabaru menuju Bangil dan Surabaya.
Untuk arah sebaliknya hanya empat.
Untuk trem jurusan Jagalan lewat Kajoetangan ada tujuh kali pemberangkatan ulang alik.
Baca Juga: Libur Lebaran, Stasiun Malang Catat Peningkatan Penumpang
Penumpang dari arah Tumpang bisa menyambungkan perjalanan ke Surabaya pada trem dengan waktu kedatangan Blimbing pukul 06.25, dan 11.55.
Mereka akan berpindah stasiun dengan jalan kaki dan menunggu pemberangkatan KA pukul 07.20 dan 12.51 yang berjalan dari arah Blitar dan Malang menuju ke Surabaya.
Sementara untuk penumpang dari arah Surabaya menuju ke Tumpang, akan menggunakan KA dengan jadwal ketibaan Blimbing pukul 07.42 dan 10.47.
Mereka akan menyambung perjalanan ke Tumpang pakai trem dengan jadwal pemberangkatan pukul 08.35 dan 13.35.
Bagi penumpang dari Surabaya yang mau ke tengah kota pakai trem, jadwalnya lebih fleksibel.
Setelah beroperasi selama 67 tahun, Stasiun Blimbing MS ditutup pada 1968.
Sebagai dampak dari ekspansi jalan aspal di wilayah Malang Raya.
Moda transportasi trem kemudian digantikan mobil dan bus. (*/by)
Editor : A. Nugroho