Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Cuaca di Malang Memanas: Ternyata Ada Bahaya Diam-diam di Balik Beton dan Bangunan!

Aditya Novrian • Kamis, 15 Mei 2025 | 22:03 WIB

Ilustrasi (freepik.com).
Ilustrasi (freepik.com).

RADAR MALANG – Jika Anda merasa Kota Malang tak lagi sedingin dulu, Anda tidak salah. Kota yang dahulu dikenal dengan udara sejuk khas pegunungan kini perlahan-lahan berubah menjadi kawasan yang lebih gerah. Data dari BMKG dan Badan Pusat Statistik (BPS) membuktikan bahwa suhu udara di Malang mengalami tren kenaikan signifikan dalam satu dekade terakhir, dan itu bukan sekadar perasaan semata.

Berdasarkan pengamatan suhu rata-rata tahunan, Malang mencatatkan peningkatan sekitar 0,8°C selama periode 2013–2019. Bahkan, pada Oktober 2024, Karangploso—salah satu wilayah di Malang Raya—mencatat suhu harian tertinggi mencapai 33,6°C, menjadikannya salah satu rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah pencatatan di kawasan tersebut. Tak hanya itu, sepuluh tahun terakhir (2015–2024) ditetapkan sebagai periode terpanas sepanjang sejarah Malang.

Baca Juga: Musim Kemarau Rasa Musim Hujan: Ada Apa dengan Cuaca Malang di Mei 2025?

BMKG menjelaskan bahwa perubahan iklim global menjadi salah satu faktor utama. “Sepuluh tahun terakhir merupakan periode terpanas dalam sejarah pencatatan,” ungkap BMKG dalam Catatan Iklim 2024. Namun, bukan hanya faktor global yang menjadi biang kerok. Di tingkat lokal, alih fungsi lahan dan pembangunan yang masif ikut memperburuk situasi.

Malang yang dahulu menyandang julukan “Kota Taman” kini menghadapi krisis ruang terbuka hijau. Perubahan tata ruang—baik untuk permukiman, sektor bisnis, hingga infrastruktur—telah menggerus vegetasi yang dulu menjaga kesejukan kota. Penelitian dari Unikama dan WALHI menunjukkan bahwa kepadatan penduduk menyumbang 49,6% terhadap kenaikan suhu udara, disusul oleh aktivitas transportasi dan industri.

Baca Juga: Pembibitan Cabai di Turen Terhambat Cuaca

Fenomena Urban Heat Island juga makin nyata. Permukaan kota yang dipenuhi aspal, beton, dan bangunan tinggi menyerap panas matahari dan melepaskannya kembali di malam hari. Alhasil, bahkan malam pun kini tak lagi sejuk seperti era 1990-an, di mana kabut dan udara dingin masih menyelimuti Malang hingga siang.

Masyarakat pun mulai merasakan dampaknya secara langsung. Keluhan soal panas menyengat dan kurangnya kenyamanan hidup makin sering terdengar. “Dulu pagi hari dingin sekali, sekarang buka jendela saja sudah hangat,” ujar Andri (51), warga Sawojajar.

Para pegiat lingkungan mendorong penguatan kebijakan penataan kota berwawasan lingkungan. Penambahan ruang hijau, penanaman pohon masif, hingga perlindungan kawasan resapan air menjadi langkah-langkah mitigasi yang terus disuarakan.

Kesimpulannya, Malang memang tak lagi sedingin dulu. Kenaikan suhu bukan sekadar isapan jempol, tapi fakta ilmiah yang tercermin dari data dan dirasakan langsung oleh warga. Jika tak ada langkah nyata, Malang yang dulu dikenal sejuk bisa berubah menjadi kota panas baru di dataran tinggi. (my)

Editor : A. Nugroho
#krisis iklim #alih fungsi lahan #malang #lingkungan #perubahan iklim #cuaca panas