RADAR MALANG - Israel secara resmi mengumumkan dimulainya operasi militer darat berskala besar di Jalur Gaza pada Minggu (18/5), hanya beberapa jam setelah perundingan tidak langsung dengan Hamas di Qatar kembali menemui jalan buntu.
Langkah ini menandai fase baru dalam konflik yang telah berlangsung selama 20 bulan, dengan tujuan merebut kendali operasional atas sejumlah wilayah di Gaza yang telah hancur akibat perang.
Dalam pernyataan resminya, militer Israel menyebut operasi ini sebagai “Operasi Kereta Perang Gideon”, melibatkan pengerahan besar pasukan aktif dan cadangan di wilayah utara dan selatan Gaza.
Baca Juga: Francis Karel, Musisi Indonesia yang Berkontribusi dalam Album Solo Jin BTS
Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, mengklaim pasukan mereka telah “menghabisi puluhan teroris” dan menghancurkan infrastruktur milik Hamas.
Israel juga mengklaim kini telah berada di posisi strategis untuk menekan kelompok militan tersebut.
Namun, gelombang serangan udara dan darat ini menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Baca Juga: Lukisan Raden Saleh Muncul di MV Jin BTS: Fakta Menarik di Balik Lukisan “Kebakaran Hutan”!
Data dari petugas medis dan penyelamat di Gaza menyebut sedikitnya 130 warga Palestina tewas dalam waktu kurang dari 24 jam terakhir, mayoritas perempuan dan anak-anak.
Rumah sakit di Gaza, termasuk di Khan Younis, melaporkan kewalahan menangani lonjakan korban, sementara kekurangan pasokan medis semakin memperparah situasi.
“Rumah sakit kewalahan dengan jumlah korban yang terus meningkat, sebagian besar adalah anak-anak. Kami juga menghadapi kekurangan pasokan medis yang akut,” ujar Khalil al-Deqran, juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza.
Baca Juga: Kemhan Beberkan Rencana TNI Siapkan Fasilitas Produksi Obat untuk Dukung Ketersediaan Obat Nasional
Selain menghantam bangunan rumah, serangan juga menyasar tenda-tenda pengungsi.
Banyak korban ditemukan di Khan Younis, di mana lebih dari separuh korban yang dibawa ke Rumah Sakit Nasser adalah perempuan dan anak-anak.
Kisah pilu datang dari warga Beit Lahiya, Fatima al-Rahal, yang menggambarkan situasi sebagai “mimpi buruk” dan menyatakan, “Kami tidak bisa tidur karena ketakutan.
Suara bom sangat mengerikan. Situasi kami lebih buruk dari kata-kata. Ini benar-benar bencana. Kami hanya berharap perang ini segera berakhir.”
Sementara itu, Basel al-Barawi kehilangan 10 anggota keluarganya, hanya menyisakan satu anak berusia enam tahun yang selamat.
Di tengah operasi militer, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan akan mengizinkan sedikit pasokan makanan masuk ke Gaza untuk mencegah krisis kelaparan.
Namun, Netanyahu menegaskan bahwa Israel hanya akan menerima kesepakatan jika mencakup penghentian total kekerasan, pembebasan seluruh sandera, pengasingan para pemimpin Hamas, dan perlucutan senjata di Gaza-syarat-syarat yang berulang kali ditolak Hamas.
Sementara itu, negosiasi di Doha masih difokuskan pada upaya mencapai gencatan senjata dua bulan, dengan pertukaran pembebasan sandera dan tahanan, serta pencabutan blokade atas Gaza. Namun hingga kini, belum ada kemajuan berarti.
Baca Juga: Warga Desa Sidorahayu Keluhkan Jalan Jurang Akhir Gelap dan Rusak
Sejak Oktober 2023, lebih dari 53.000 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan Israel di Gaza, mayoritas perempuan dan anak-anak.
Rumah sakit di seluruh wilayah tersebut kini beroperasi di ambang kolaps, dengan kekurangan tenaga, pasokan, dan kapasitas tempat tidur.
Organisasi pangan global memperingatkan lonjakan kasus malnutrisi akut pada anak-anak, dan menegaskan bahwa setiap penundaan bantuan kemanusiaan berisiko menambah korban jiwa.(NR)
Editor : Aditya Novrian