MALANG KOTA – Keberangkatan Calon Jemaah Haji (CJH) asal Kota Malang juga diwarnai perbedaan penempatan syarikah. Total ada 25 jemaah yang berpotensi berangkat terpisah. Itu setelah Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang melakukan upaya penyatuan kembali.
Semula ada 48 jemaah yang berpotensi terpisah penempatan maupun penerbangan. Kemudian pihakKemenag Kota Malang melakukan pengajuan penyatuan kembali ke Kanwil Kemenag Jatim.
Hasilnya, saat ini tersisa 25 jemaah yang terpisah penerbangan. Tapi mereka akan tetap bisa disatukan kembali saat tiba di Arab Saudi.
Humas Kemenag Kota Malang Muhammad Nur Hidayah menjelaskan, masalah seperti itu muncul karena Indonesia dilayani delapan syarikah atau lembaga yang bertanggung jawab terhadap masing masing jemaah haji. Hal itu sebenarnya sudah diketahui masing-masing jemaah karena tertera di dala visa.
CJH dari satu wilayah bisa terpisah penerbangan dan penempatan karena dilayani lebih dari satu syarikah. ”Pemerintah sebisa mungkin tidak menyengsarakan CJH dengan sistem syarikah. Karena itu, menjelang keberangkatan, pemerintah terus mencarikan solusi,” terangnya.
Total CJH asal Kota Malang mencapai 1.195 orang. Awalnya mereka terbagi menjadi empat kloter.
Yakni kloter 76 yang berisi 376 orang, kloter 77 berisi 376 orang, kloter 80 berisi 376 orang, dan kloter 81 berisi 67 orang. Kloter 76 dan 77 berangkat hari ini (23/5), sementara kloter 80 dan 81 berangkat besok (24/5).
Namun, hingga kemarin ada 25 CJH terpisah kloter akibat sistem syarikah. Terdiri dari 16 CJH yang ikut kloter 88, kemudian 2 CJH ikut kloter 89, dan 7 CJH ikut kloter 97. Mereka akan berangkat pada 27 Mei dan 29 Mei bersama CJH asal Kabupaten Pasuruan.
Kabag Kesra Pemkot Malang Ahmad Sholeh mengatakan, kemarin pihaknya membantu pengumpulan koper para CJH untuk dua kloter yang akan berangkat hari ini. ”Yakni kloter 76 pada pukul 09.00 sampai 11.00, sementara kloter 77 pukul 12.00 sampai 14.00,” katanya.
Editor : A. Nugroho