Radar Malang – Varian baru COVID-19 yang dikenal sebagai JN.1 tengah menjadi sorotan dunia setelah mencatatkan peningkatan tajam dalam kasus infeksi di sejumlah negara Asia, seperti Singapura, India, Hong Kong, dan Thailand. Varian ini merupakan turunan dari subvarian Omicron BA.2.86 dan mulai terdeteksi sejak akhir Agustus 2023.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan JN.1 sebagai Variant of Interest pada 18 Desember 2023, menyusul lonjakan penyebarannya yang signifikan dan sifatnya yang lebih mudah menular dibandingkan varian sebelumnya.
WHO menyatakan bahwa meskipun gejala yang ditimbulkan umumnya ringan, potensi penyebaran yang cepat menjadikannya ancaman tersendiri, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan individu dengan penyakit bawaan.
Baca Juga: Peneliti China Temukan Virus Baru pada Kelelawar, Mirip COVID-19
Di India, Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 250 kasus aktif JN.1 per Mei 2025, dengan penyebaran tertinggi di negara bagian Kerala, Maharashtra, dan Tamil Nadu.
Sementara itu, di Singapura, lonjakan kasus mingguan tercatat dari 11.100 menjadi 14.200 dalam rentang waktu akhir April hingga awal Mei 2025. Di Hong Kong, tercatat 31 kematian dalam satu minggu akibat infeksi JN.1.
Varian ini memiliki mutasi L455S pada protein spike-nya, yang meningkatkan kemampuannya untuk menghindari antibodi dari infeksi maupun vaksinasi sebelumnya. Hal ini menjadi perhatian serius dalam hal efektivitas vaksin yang telah ada.
Namun, lembaga seperti FDA (Food and Drug Administration) di Amerika Serikat telah menyarankan pembaruan formulasi vaksin untuk tahun 2025–2026 agar lebih efektif melawan subvarian JN.1 dan turunannya, termasuk LP.8.1 yang kini mendominasi kasus di AS.
Baca Juga: Peneliti China Temukan Virus Baru pada Kelelawar, Mirip COVID-19
Gejala yang ditimbulkan oleh JN.1 antara lain demam, batuk kering, sakit tenggorokan, pilek, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, hingga gangguan pencernaan seperti diare. Beberapa pasien juga dilaporkan mengalami hilangnya indera penciuman dan perasa, meskipun lebih jarang dibandingkan varian awal COVID-19.
Pemerintah di berbagai negara mengimbau masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti penggunaan masker di ruang publik, mencuci tangan secara berkala, menghindari kerumunan, dan memastikan ventilasi ruangan yang baik. Vaksinasi dan booster juga tetap menjadi perlindungan utama dalam mengurangi risiko gejala berat akibat infeksi.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan terus memantau perkembangan varian ini, termasuk kemungkinan masuk dan menyebar di wilayah Nusantara. Meski belum ada laporan resmi mengenai lonjakan JN.1 di Indonesia, masyarakat diminta untuk tetap waspada dan tidak mengabaikan gejala-gejala ringan yang menyerupai flu biasa.
Dengan potensi lonjakan kasus di musim perjalanan dan perayaan, masyarakat diimbau untuk tidak lengah dan terus mengikuti perkembangan informasi dari sumber-sumber resmi. Pencegahan, kesiapan, dan kolaborasi menjadi kunci utama dalam menghadapi gelombang baru penyebaran COVID-19 yang terus bermutasi. (Rizz)
Editor : Aditya Novrian