Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Hancurnya Raja Ampat Menjadi Ancaman Besar Bagi Kehidupan Perempuan Papua

Aditya Novrian • Senin, 9 Juni 2025 | 18:10 WIB

Ilustrasi (freepik).
Ilustrasi (freepik).

RADAR MALANG - Kerusakan lingkungan di Raja Ampat kini bukan sekadar wacana, tetapi kenyataan yang mengkhawatirkan. Tambang dan eksploitasi sumber daya alam menggerus kawasan konservasi yang selama ini disebut sebagai surga dunia. Di balik krisis ini, perempuan Papua-lah yang paling dulu menanggung dampaknya.

Perempuan Papua memiliki keterikatan kuat dengan alam. Mereka bukan hanya pengguna, tetapi juga penjaga lingkungan, terutama laut yang menjadi nadi kehidupan mereka. Ketika laut dan hutan rusak, mereka kehilangan sumber pangan, air bersih, hingga ancaman terhadap kesehatan dan keberlangsungan hidup keluarga.

Ketika Perempuan Bicara: “Merusak Alam, Merusak Kehidupan Kami”

Desakan untuk menghentikan aktivitas tambang di Raja Ampat bukan hanya datang dari aktivis lingkungan. Perempuan Bangsa Papua Barat Daya kini angkat suara lantang. Mereka menyebut perusakan lingkungan sama saja dengan merampas masa depan dan identitas perempuan Papua.

Baca Juga: Menteri LH Klaim Dampak Tambang Nikel di Raja Ampat Belum Serius, Namun Pengawasan Diperketat

"Ketika Raja Ampat rusak, perempuan Papua kehilangan ruang hidup, sumber pangan, dan identitas budayanya," tegas Tati Tirtawati, Ketua DPW Perempuan Bangsa Papua Barat Daya. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, tetapi cermin dari realitas pahit yang dialami komunitas perempuan adat yang selama ini hidup berdampingan dengan alam.

Ekofeminisme: Alam dan Perempuan Sama-sama Dieksploitasi

Dalam perspektif ekofeminisme, kerusakan lingkungan dan penindasan terhadap perempuan adalah dua sisi dari sistem yang sama. Patriarki dan kapitalisme kerap menempatkan perempuan dan alam sebagai objek yang bisa dieksploitasi demi keuntungan.

Di Raja Ampat, efek sistemik ini terlihat jelas. Perempuan tidak hanya kehilangan sumber penghidupan, tetapi juga ruang untuk berperan aktif dalam komunitas. Mereka kerap tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan tentang pengelolaan sumber daya alam, padahal mereka adalah pihak yang paling terdampak langsung.

Peran Perempuan dalam Menjaga Alam Dikesampingkan

Tradisi seperti Sasi, aturan adat untuk menjaga ekosistem laut adalah bukti bahwa perempuan Papua punya pengetahuan lokal dalam konservasi. Mereka menjalankan patroli pesisir, mengajarkan nilai-nilai ekologis kepada generasi muda, dan menjaga tradisi leluhur.

Namun kini, tradisi itu kian terancam. Pembatasan akses terhadap lahan dan laut oleh perusahaan tambang membuat perempuan kehilangan kontrol atas pengetahuan dan budaya yang mereka warisi. Identitas mereka sebagai penjaga alam pun mulai terkikis.

Menyelamatkan Alam Adalah Menyelamatkan Perempuan

Kerusakan Raja Ampat bukan hanya isu ekologi, tapi juga persoalan keadilan sosial dan gender. Ketika alam dihancurkan, perempuan kehilangan lebih dari sekadar sumber daya, mereka kehilangan ruang hidup, peran, dan martabat.

Baca Juga: Aktivis dan Warga Raja Ampat Gelar Protes di Konferensi Indonesia Critical Minerals

Gerakan ekofeminisme mengingatkan kita bahwa upaya penyelamatan lingkungan harus melibatkan suara dan kepemimpinan perempuan. Tanpa itu, konservasi hanyalah proyek teknis yang tidak menyentuh akar masalah. Raja Ampat tak bisa diselamatkan tanpa menyelamatkan perempuan Papua.

Ekologi Adalah Isu Feminis

Kini saatnya melihat krisis lingkungan dengan kacamata yang lebih luas. Menyelamatkan Raja Ampat bukan hanya tentang terumbu karang dan ikan langka. Ini tentang mempertahankan kehidupan dan martabat manusia, terutama perempuan yang menjadi penjaga alam sejak dulu.

Raja Ampat tak bisa terus dibisukan oleh kepentingan industri. Ketika perempuan Papua bicara, dunia seharusnya mendengar. Karena menjaga alam berarti menjaga kehidupan itu sendiri. (my)

Editor : Aditya Novrian
#Save Raja Ampat #perempuan papua #ekofeminisme #keadilan gender #krisis lingkungan #Raja Ampat rusak