KEPANJEN – Jamaah haji asal Desa Dilem, Kepanjen, Sukardi, dilaporkan hilang di tanah suci Makkah kemarin (24/6). Dia tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 79, dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Wali Songo, Kepanjen.
Ketua KBIHU Wali Songo Muhammad Aminuddin membenarkan adanya laporan jamaahnya belum ditemukan. Sebelum dilaporkan hilang, Sukardi dalam keadaan sehat, sehingga masuk kategori istitha'ah.
Diperkirakan, begitu tiba di Arab Saudi, kondisinya menurun, terutama ingatannya. Karena itu, pria berusia 67 tahun itu diduga mengalami demensia. “Begitu tiba di sana (Arab), beliau sempat meminta pulang untuk bertemu teman dekatnya,” ucap Aminuddin di kantor KBIHU Wali Songo.
Namun kala itu dia masih bisa ditahan hingga melaksanakan ibadah. Karena kondisinya yang mengkhawatirkan, pada 28 Mei 2025, pembimbing dari KBIHU menyarankan untuk tidak mengikuti salat subuh di Masjidil Haram.
Dia disarankan untuk beribadah di hotel dengan ditemani satu orang rekannya. Sayangnya, temannya tersebut tertidur dan Sukardi keluar dari kamar hotel tanpa sepengetahuannya. “Dia keluar hanya membawa tas yang berisi identitas, seperti paspor. Koper-kopernya masih ada di kamar,” imbuhnya.
Sejak saat itu, dia mengatakan, pencarian mulai dilakukan dengan melibatkan petugas dari kloter, sektor, hingga perlindungan jamaah (linjam). Ketika linjam masih kurang mencakup area tanah haram, petugas haji pun melapor ke Kepolisian Arab Saudi. Hingga saat ini pencarian masih tetap dilakukan.
Terpisah, putri Sukardi, Khoridatul Hidayah menyebut, ayahnya sempat merasa bingung sejak di asrama haji Sukolilo, Surabaya. Ketika di rumah masih beraktivitas seperti biasanya, misalnya bersih-bersih, ke sawah, maupun ke tegal. Sedangkan ketika di Sukolilo, dia bingung karena tidak bisa beraktivitas seperti biasa. “Saat umrah wajib itu, bapak juga sempat terpisah sama rombongan, tapi terus ketemu. Hari Rabu itu katanya bapak nggak ke mana-mana dan kami masih komunikasi,” ucapnya.
Dia melanjutkan, keesokan harinya dia sama ayahnya tidak berkomunikasi. Dia pikir, ayahnya baik-baik saja. “Jumat saya telepon kok tidak diangkat, padahal biasanya kalau saya telepon pasti telepon balik,” imbuhnya.
Perempuan itu langsung menghubungi ketua regu, tetapi diarahkan ke ketua rombongan. Sayangnya dia tidak langsung mendapat jawaban. Malam harinya, dia baru mendapat informasi bahwa ayahnya telah terpisah dari rombongan.(yun/dan)
Editor : A. Nugroho