Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Grebeg Suro Haul Mbah Sogol, Ribuan Warga Gondanglegi Berebut Tumpeng

Mahmudan • Selasa, 8 Juli 2025 | 16:00 WIB
HORMATI LELUHUR: Warga berebut tumpeng di sekitar makam Mbah Sogol Desa Gondanglegi Wetan, Kecamatan Gondanglegi kemarin (7/7).
HORMATI LELUHUR: Warga berebut tumpeng di sekitar makam Mbah Sogol Desa Gondanglegi Wetan, Kecamatan Gondanglegi kemarin (7/7).

GONDANGLEGI – Ribuan warga Gondanglegi, mulai anak-anak hingga dewasa, berebut tumpeng kemarin (7/7). Aksi rebutan tumpeng berisi berbagai jenis makanan dan jajan tersebut merupakan bagian dari grebeg suro. Tujuannya untuk memperingati haul leluhur, yakni Mbah Sogol yang dikenal sebagai pendiri Gondanglegi.

Penata Grebeg Suro Haul Mbah Sogol 2025 Muhammad Mansyur memaparkan, kegiatan tersebut dilaksanakan rutin setiap tahun sejak 2015 silam. Hingga kini pelaksanaannya sudah kesebelas kali. “Arak-arakan dimulai dari Kantor Kecamatan Gondanglegi ke lokasi makam yang lama, kemudian dibawa ke makam yang baru,” ujarnya kemarin.

Awalnya, Mbah Sogol dimakamkan di kawasan Pasar Gondanglegi. Kemudian, kata Mansyur, pada 1974, makam dipindahkan karena ada kebijakan dari pihak pasar. Makam yang baru terletak di Jalan Hayam Wuruk, Desa Gondanglegi Wetan.

Pengamatan Jawa Pos Radar Kanjuruhan kemarin, warga memakai pakaian adat saat mengarak nasi tumpeng tersebut. Mulai dari yang berukuran besar, sedang, hingga kecil. Sementara anak-anak membawa jajanan pasar yang ukurannya lebih kecil dan ringan. Ada juga yang membawa gunungan berisi sayur-sayuran dan buah-buahan.

Mereka berbaris sesuai urutan. Misalnya di bagian paling depan, ada pasukan merah putih yang diadopsi dari tradisi Yogyakarta. “Kami menghormati Mbah Sogol, karena beliau dulu berasal dari Kerajaan Mataram,” kata dia.

Di antara barisan tersebut, ada gunungan yang berisi nasi sogol. Yakni nasi yang dimasak menggunakan bambu. Bambu yang digunakan berukuran panjang sekitar 20 sentimeter dengan diameter sekitar 4-5 sentimeter. Nasi tersebut digantung dan ditata melingkar di salah satu gunungan. “Dulu pada zamannya Mbah Sogol, belum ada alat penanak nasi. Jadi menggunakan bambu,” ucap Mansyur.

Begitu tiba di depan makam baru, isi gunungan tersebut diperebutkan  hampir seluruh peserta arak-arakan. Ada dua gunungan yang diperebutkan. Gunungan pertama berisi jajanan pasar dan gunungan kedua berisi nasi sogol dan sayur-sayuran. “Kalau ditotal, ada sekitar 20 tumpeng, baik berupa gunungan, tumpeng besar, atau tumpeng yang isinya polo pendem (umbi-umbian, red),” pungkasnya. (yun/dan)

Editor : A. Nugroho
#mbah sogol #gondanglegi #tumpeng #grebek suro #Arak arakan