MALANG KOTA - Kesenian bantengan masih menjadi primadona event pawai Budaya di Malang Raya. Contohnya Kirab Budaya Cemorokandang 2025 kemarin (20/7). Dari 16 kelompok peserta yang berpartisipasi, mayoritas menampilkan seni bantengan. Bantengan yang ditampilkan pun diberi latar belakang cerita. Seperti kisah Putri Gunung Lawu dan legenda Ken Arok.
Ada juga peserta yang menampilkan modifikasi kostum dengan tema bantengan. Tampak tiga orang warga RW 5 Kelurahan Cemorokandang mengenakan kostum yang sangat mencolok. Salah satu di antaranya berupa kostum setinggi 2,5 meter dengan 5 buah kepala banteng di bagian atas. Tidak kurang dari 10 menit dia berlenggok-lenggok di depan panggung utama.
Ratusan penonton pun memadati pusat pertunjukan yang berada di gerbang masuk Perumahan Villa Bukit Buring, Jalan Raya Cemorokandang. Meskipun cuaca siang kemarin sangat terik, mereka tetap tak beranjak untuk menikmati rangkaian pertunjukan.
Lurah Cemorokandang Muhammad Abdul Aziz menjelaskan, 16 peserta yang mengikuti pawai merupakan warganya. Mereka berasal dari 11 RW di kelurahan tersebut. ”Pesertanya mayoritas dari kalangan anak muda yang peduli dan budaya,” ujarnya.
Menurut Aziz, Cemorokandang diyakini merupakan salah satu tempat persinggahan Ken Arok sebagai pendiri Kerajaan Singasari. Untuk mengingat dan mengenalkan sejarah itu, masyarakat menyimbolkan dengan kesenian bantengan dan tarian lainnya. ”Terbanyak memang menampilkan seni bantengan. Tahun ini kami sengaja membatasi hanya 16 peserta agar sebelum gagrib sudah selesai,” terangnya.
Acara tersebut juga dihadiri Wali Kota Malang Wahyu Hidayat. Dalam sambutannya, Wahyu menekankan larangan penggunaan sound horeg. Pemilik kursi N1 itu meminta masyarakat tetap suka cita dalam pelaksanaan pawai, tetapi tidak mengganggu kepentingan orang lain. ”Yang sewajarnya saja. Seperti atraksi yang mengganggu di Mulyorejo, itu sebenarnya sudah diingatkan. Akhirnya terjadi konflik,” ucap Wahyu.
Tak hanya sound horeg, pejabat yang kerap disapa Pak Mbois itu mengingatkan tentang kesopanan. Terutama kepada penari yang tampil. Diharapkan penampilannya tidak terlalu seksi atau tidak senonoh. ”Pakaian termasuk jogetan kami harap sesuai etika,” tegasnya. (adk/fat)
Editor : A. Nugroho