RADAR MALANG - Bermain layang-layang masih menjadi hobi musiman di Malang Raya. Saat musim kemarau, tempat-tempat yang dikenal sebagai ‘markas’ sambitan selalu ramai. Produsennya juga terus meningkatkan angka produksi.
Sawah kotak di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang menjadi salah satu markas bagi penggemar layang-layang aduan. Setiap hari, anak kecil, remaja, hingga lansia berkumpul di sana untuk beradu kekuatan tali. Istilah yang familiar yakni sambitan.
Salah satu yang cukup rutin bertandang ke sana adalah Alfandi. Sekali datang, pria berusia 75 tahun itu bisa membawa puluhan layang-layang. “Sehari bisa bawa sampai 50 layangan,” kata warga Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang itu.
Kakek yang sudah dikaruniai lima cucu itu mengaku hanya kehilangan tiga sampai empat layangan saja dalam sehari. Sebaliknya, dia mampu memutus 10 sampai 15 layangan musuh. Teknik yang disukainya yakni jepret, yakni langsung menyambar tali layang-layang musuh dengan kecepatan tinggi.
Sudah 60 tahun bermain layang-layang, Alfandi mengaku tidak pernah membeli. Dia selalu membuat layangan yang dimainkannya. Sampai saat ini, dia konsisten membuat lima sampai tujuh layang-layang setiap hari. “Lebih murah kalau bikin sendiri. Kalau dihitung, sekitar Rp 1 ribu saja per layangan,” lanjut Alfandi.
Dia memilih menyablon sendiri kertas layangannya. Juga memotong dan merangkai kerangka layang-layang dari bambu. Alfandi mengakui bahwa peminat layangan makin meningkat akhir-akhir ini. Lapangan sawah kotak terasa semakin padat. Jumlah layangan yang diterbangkan bisa ratusan per hari.
Peningkatan peminat itu juga dirasakan Hariyanto, penjual layangan di sekitar sawah kotak. Pria asal Kelurahan Polehan, Kecamatan Blimbing itu mengaku bisa menjual hingga 500 layang-layang per hari. “Sekali beli, biasanya langsung lima biji, jadi cepat habis,” ujar pria yang akrab disapa Yanto itu.
Layang-layang seharga Rp 3 ribuan per biji jadi yang paling laris. Mayoritas pembelinya merupakan bapak-bapak berusia 35 tahun ke atas. Karena layangan kembali naik pamor, Yanto mengaku kerap kesulitan mencari stok. Sekali ada, pasti berebut dengan penjual lain. Dia harus berkeliling dari Kota Malang hingga Kabupaten Malang untuk memenuhi stok.