Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ikuti Jejak Ayah, Lucky Koleksi Banyak Prestasi Lomba Layangan

A. Nugroho • Minggu, 27 Juli 2025 | 21:59 WIB
BERPENGALAMAN: Lucky Maulana (atas, dua dari kanan) meraih medali emas bersama kontingen layangan aduan Jawa Timur di Fornas VII di Bandung, 2023 lalu.
BERPENGALAMAN: Lucky Maulana (atas, dua dari kanan) meraih medali emas bersama kontingen layangan aduan Jawa Timur di Fornas VII di Bandung, 2023 lalu.

RADAR MALANG - Sejak kecil, Lucky Maulana sudah akrab dengan permainan layang-layang. Kecintaannya tumbuh berkat mendiang ayahnya yang dulu merupakan pemain layang-layang andal. Dari rutinitas sambitan di kampung, dia mulai rutin mengikuti galatama antar-kampung.

Pertama kali pria berusia 39 tahun itu mengikuti perlombaan terjadi pada tahun 2000. Saat itu dia turun mengikuti lomba di Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Sebagai debutan, dia tampil mengesankan dan langsung menjuarai lomba layangan aduan pertamanya.

“Setelah itu banyak ikut lomba lokal di sekitar Malang Raya dan di wilayah lain di Indonesia,” kata dia. Di perlombaan lokal, namanya cukup dikenal di kalangan penyelenggara. Sebab dia sering menjuarai event perlombaan. Bahkan dia sempat beberapa kali ditolak mengikuti turnamen, lantaran kemampuannya dianggap tidak bisa diimbangi kontestan lain.

Karena situasi itu, dia mulai melebarkan sayap di wilayah lain. Di antaranya di Bandung, Kalimantan, Sulawesi, sampai Bali. Meski harus pergi jauh, hadiah utama hampir selalu dibawa pulang.

Prestasi terbaiknya terjadi pada 2005 lalu. Saat itu dia mengikuti turnamen layang-layang aduan internasional di Tanah Lot, Bali. Menghadapi 32 peserta dari berbagai negara, dia berhasil menjadi nomor satu. Mengalahkan kontestan asal Bandung di babak final.

Sebelum turun di turnamen, pria yang juga membuka toko layangan itu sering melakukan sparring dengan kawannya. Mengasah manuver layangannya untuk menyerang, bertahan, sekaligus melepaskan diri dari lawan. Biasanya dia melatih keterampilannya selama dua sampai empat jam setiap harinya.

Sebagai seorang pelayang, teknik andalan yang dia lakukan kerap berganti-ganti, tergantung dengan jenis layangan dan benang yang digunakan. “Kalau dulu saya lebih suka bermain agresif, membuat lawan tidak bisa bergerak banyak,” paparnya.

Di Malang Raya sendiri, kejuaraan layangan aduan memiliki beberapa tingkatan. Mulai dari antar-kampung sampai regional. Untuk tingkat nasional, event yang pertama kali digelar Lucky bersama Komunitas Pelayang Malang (PALMA) bernama Malang Open 2025, Juli lalu.

Jumlah hadiah yang diperoleh dari perlombaan layangan aduan bervariasi, tergantung total uang pendaftaran yang diterima. Mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. “Saya pernah dapat paling tinggi Rp 15 juta saat lomba di Jember 2019 lalu,” tambahnya.

Sebagai pelayang yang sering mengikuti lomba selama 25 tahun, Maulana mendapat berbagai pengalaman unik. “Pernah ketika lomba di Jakarta, slot lawan yang saya hadapi dijual ke orang karena takut melawan saya,” cerita dia.

Editor : A. Nugroho
#prestasi #malang #lomba