MALANG RAYA – Pembangunan skytrain yang mengintegrasikan transportasi Malang Raya memang akan dibangun oleh pemerintah pusat. Tapi, tiga pemerintah daerah selaku pemilik wilayah juga dibebani tugas. Yaitu menyiapkan sarana yang akan menjadi penunjang sistem transportasi massal tersebut.
Misalnya tugas untuk Pemkab Malang. Pada awal koordinasi sebelum terjadi pandemi Covid-19, Pemkab Malang diminta menyiapkan terminal bus pariwisata. Terminal tersebut akan dibangun di dekat gerbang tol Pakis. ”Wisatawan yang ingin berwisata ke Malang Raya, bus pariwisata atau kendaraan wisatanya bisa diparkir di sana,” kata Bupati Malang Sanusi kemarin (31/7).
Terminal tersebut juga akan terintegrasi dengan rest area. Tapi, rencana pembangunan rest area akan dibahas lebih lanjut ketika proyek skytrain mulai ada kesepakatan. ”Rest area itu nanti sebagai penunjang operasional skytrain. Fungsinya juga sebagai pusat terminal untuk bus pariwisata,” imbuh politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu.
Karena masih dalam tahap awal, rencana pembebasan lahan untuk pembangunan terminal dan rest area belum ditentukan. Tapi, Sanusi sudah punya perkiraan kebutuhan lahan yang mencapai 10 hektare di Kecamatan Pakis. Di wilayah Kabupaten Malang bagian timur sebenarnya juga sudah ada dua rest area. Yakni rest area Wringinanom dan Gubugklakah yang lokasinya sama-sama di Kecamatan Poncokusumo. Biasanya dimanfaatkan wisatawan yang akan menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Di sisi utara juga ada rest area, yakni berada di Karang Ploso. Biasanya dimanfaatkan wisatawan yang akan pergi ke Kota Batu.
Rencana pembangunan terminal bus wisata dan rest area di Kecamatan Pakis diharapkan bisa semakin mempermudah wisatawan yang ingin berpindah moda transportasi. Sanusi mengaku dalam waktu dekat akan konsultasi ke Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono. Konsultasi itu dilakukan bersama Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dan Wali Kota Batu Nurochman. Surat permohonan konsultasi sudah dikirim dan sedang menunggu penjadwalan.
”Kalau sudah bertemu menteri, baru nanti kami mendapat arahan dan tindak lanjutnya secara teknis,” pungkasnya.
Segera Bentuk Pokja
Langkah lain yang juga dilakukan pemda di Malang Raya adalah membentuk Tim Koordinasi Kerja Sama Daerah (TKKSD). Wali Kota Batu Nurochman mengatakan, hingga saat ini pembentukan tim masih dalam koordinasi. Sebagai gambaran awal, tim tersebut akan memiliki peran masing-masing mengenai penyusunan realisasi skytrain. Mulai dari pemetaan trase, kebutuhan anggaran, hingga menunjuk pihak ketiga untuk merealisasikan usulan tersebut.
Pemetaan tim akan disesuaikan dengan bidang keahlian agar eksekusinya lebih optimal. Setelah terbentuk, upaya selanjutnya dengan penerbitan Surat Keputusan (SK) untuk melegalkan forum diskusi tersebut. ”Ini tidak mudah, sehingga kami perlu waktu yang cukup panjang,” ungkapnya.
Pria yang akrab disapa Cak Nur itu juga mengatakan perlunya sinkronisasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Hal itu bertujuan untuk memudahkan penentuan titik mana saja yang bisa dilalui skytrain. ”Jika tidak ada kendala, tim bisa terbentuk akhir tahun ini agar proyek skytrain bisa segera terealisasi,” terang Cak Nur.
Kabid Perencanaan Pembangunan, Perekonomian, Sumber Daya Alam, Infrastruktur dan Kewilayahan (P3SDAIK) Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kota Batu Rizaldi menambahkan, pembentukan tim memang perlu pemikiran yang lebih matang. Utamanya dalam menambahkan unsur yang memiliki kecakapan di bidang transportasi.
Dia mencontohkan program yang sudah berjalan di Yogyakarta. Mereka memiliki tim sekretariat bersama untuk membahas proyek antardaerah. Tim itu tidak hanya melibatkan para pegawai di lingkungan pemerintahan. Tapi juga menggandeng para ahli tata wilayah, pemerhati lingkungan hingga akademisi. Dengan begitu, segala proyek yang terkoneksi antardaerah bisa tereksekusi dengan baik.
Dengan konsep serupa, Rizaldi optimistis proyek skytrain yang digagas di Malang Raya tidak hanya memudahkan transportasi terintegrasi. Namun juga mengoneksikan paket pariwisata antardaerah. Itu juga sekaligus mendongkrak angka kunjungan wisata dan meningkatkan perputaran ekonomi yang kian masif
Satu Terminal di Kota Malang
Belum ada tugas spesifik yang akan dijalankan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang dalam pembangunan skytrain. Dari tiga daerah, Kota Malang termasuk wilayah yang paling akhir mengetahui rencana pembangunan moda transportasi massal terintegrasi tersebut.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Malang Dwi Rahayu menerangkan, pertemuan tiga daerah di Kota Batu merupakan langkah awal untuk membuktikan komitmen nyata. Bahwa tiga kepala daerah membutuhkan moda transportasi baru berupa skytrain.
”Dari pertemuan kemarin kami belum diminta menyiapkan rancangan fasilitas khusus. Mungkin sambil berjalan, nanti akan terus dikomunikasikan,” ujarnya.
Berdasar penjelasan sementara, rute skytrain yang berada di wilayah Kota Malang panjangnya enam kilometer. Kemungkinan Pemkot Malang harus menyiapkan satu lahan terminal untuk naik-turun penumpang. Titik itu juga masih akan dibahas dengan pemerintah pusat
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang Widjaja Saleh Putra mengatakan, untuk mewujudkan skytrain, tiga daerah telah membentuk satuan khusus. Yakni Kelompok Kerja (Pokja) Transportasi. Pokja itu juga membahas kelanjutan pembangunan jalan tol dan realisasi bus Trans Jatim.
Setelah pertemuan antara tiga kepala daerah, pihaknya masih menunggu koordinasi Pokja Transportasi. ”Sejauh ini belum ada arahan secara spesifik untuk mendukung pembangunan skytrain,” tandasnya. (yun/ori/adk/fat)
Editor : A. Nugroho