INTERNASIONAL - Presiden Donald Trump kini melakukan tekanan diplomatik terhadap India dan China, meminta kedua negara tersebut menghentikan pembelian dan perdagangan minyak Rusia yang dia sendiri menilai sebagai “pendukung perang” Rusia di Ukraina.
Ia menuduh India secara khusus mengambil keuntungan dengan membeli minyak murah lalu menjual kembali ke pasar global, sambil mengabaikan dampak kemanusiaan akibat konflik di Ukraina.
Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang mulai berlaku 1 Agustus 2025, memungut tarif impor 25% terhadap barang dari India, dan mengancam akan menaikkan sanksi lebih lanjut jika Moskow tidak menerima gencatan senjata dalam 10–12 hari mendatang. Sanksi lebih besar seperti tarif hingga 100% atas minyak impor dari negara yang terus membeli minyak Rusia juga menjadi opsi jika situasi tidak berubah.
Uni Eropa telah melarang sebagian besar impor minyak laut dari Rusia sejak Januari 2023, sehingga China dan India kini menjadi dua konsumen terbesar minyak Rusia, dengan nilai mencapai US$219 miliar untuk China dan US$133 miliar untuk India hingga pertengahan 2025. India memenuhi sekitar 40% kebutuhan minyak mentahnya dari Rusia, sementara China berada di posisi teratas sebagai pembeli terbesar.
Meskipun Trump mengklaim bahwa India telah berhenti membeli minyak Rusia ("good step"), pemerintah India membantah pengumuman itu secara resmi dan menegaskan bahwa keputusan pemilihan sumber energi tetap merupakan pertimbangan ekonomi dan strategis nasional, bukan hasil tekanan asing.
Reuters melaporkan bahwa beberapa perusahaan minyak milik negara India memang menunda pemesanan minyak baru dari Rusia, namun kebijakan nasional belum berubah secara formal.
Strategi ini sebenarnya bagian dari RUU bipartisan Amerika Sanctioning Russia Act 2025, yang mempersilakan presiden mengenakan tarif hingga 500% terhadap negara pembeli energi dan ekspor penting Rusia, jika Moskow tetap menolak gencatan senjata atau melakukan agresi baru di Ukraina.
Pasar minyak global merespons dengan tenang: harga Brent sempat turun lebih dari 1%, lalu stabil di kisaran US$71–72 per barel, karena kekhawatiran terhadap gangguan pasokan masih diimbangi oleh kekhawatiran terhadap permintaan global akibat lonjakan tarif dan kondisi makroekonomi.
Secara keseluruhan, Trump ingin menggunakan sanksi ekonomi terhadap India dan China sebagai lever diplomatik untuk memaksa Moskow menghentikan agresi di Ukraina. Namun hingga saat ini, baik Beijing maupun New Delhi bersikap kewaspadaan strategis dan menegaskan kebutuhan nasional tetap menjadi prioritas. (cj)
Editor : A. Nugroho