MALANG – Jauh sebelum teks proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan pada 17 Agustus 1945, Soekarno menuliskan langsung naskah tersebut dengan tangan. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa naskah proklamasi tulisan tangan Bung Karno ini sempat hampir hilang dan nyaris tidak tercatat sebagai bukti sejarah.
Bagi masyarakat Malang dan generasi muda pada umumnya, penting mengetahui cerita di balik penyelamatan dokumen penting ini. Naskah proklamasi itu bukan hanya secarik kertas, tapi simbol perjuangan kemerdekaan yang lahir di tengah tekanan dan ketegangan masa penjajahan Jepang.
Malam sebelum pembacaan proklamasi, Soekarno menuliskan konsep naskah berdasarkan hasil diskusi bersama Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo. Proses ini dilakukan di rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jakarta, yang saat itu menjadi tempat berkumpul para tokoh kemerdekaan.
Diselamatkan dari Tempat Sampah oleh BM Diah
Usai menulis naskah dengan tangan di atas sobekan kertas buku catatan bergaris biru, Soekarno menyerahkannya kepada Sayuti Melik untuk diketik ulang. Setelah diketik, naskah tulisan tangan tersebut sempat ditinggalkan begitu saja di dekat mesin tik.
Sayuti Melik mengira naskah itu hilang atau bahkan telah dibuang ke tempat sampah. Namun beruntung, BM Diah yang juga hadir di ruangan itu menyelamatkan dokumen tersebut secara diam-diam dan menyimpannya selama puluhan tahun.
Berbekal kesadaran sejarah, BM Diah akhirnya menyerahkan naskah proklamasi tulisan tangan asli Soekarno kepada pemerintah Indonesia pada tahun 1990-an.
Diarsipkan di Arsip Nasional RI
Kini, naskah proklamasi asli tersebut disimpan secara resmi di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Naskah itu menjadi dokumen penting negara dan dapat diakses untuk kepentingan edukasi serta pelestarian sejarah.
Bagi warga Malang yang ingin melihat langsung naskah tersebut, kunjungan ke ANRI atau Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jakarta bisa menjadi bagian dari wisata edukatif yang sarat nilai nasionalisme.
Cerita ini mengingatkan bahwa perjuangan kemerdekaan tak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga melalui keputusan, tulisan, dan keberanian menyelamatkan sejarah di tengah situasi genting. (id)
Editor : A. Nugroho