Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pendidikan Rutin Picu Inflasi di Kota Malang pada Juli-Agustus

Aditya Novrian • Senin, 11 Agustus 2025 | 16:20 WIB
BELI BARU: Seorang pelajar SD mencoba seragam didampingi orang tuanya. BPS mencatat sektor pendidikan selalu memicu inflasi bulan Juli dan Agustus tiap tahunnya.
BELI BARU: Seorang pelajar SD mencoba seragam didampingi orang tuanya. BPS mencatat sektor pendidikan selalu memicu inflasi bulan Juli dan Agustus tiap tahunnya.

MALANG KOTA – Sektor pendidikan konsisten menjadi penyumbang inflasi di Kota Malang setiap bulan Juli dan Agustus dalam lima tahun terakhir. Tren ini terus berulang seiring datangnya tahun ajaran baru, mulai dari lonjakan bia ya pendidikan hingga peralatan sekolah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang menunjukkan, puncak andil pendidikan terhadap inflasi terjadi pada Juli 2022, mencapai 0,12 persen. Sebelumnya, Juli 2021 tercatat 0,02 persen, disumbang biaya pendidikan tingkat SMA. Pada Juli 2023, andil SMA turun ke 0,02 persen, tetapi digantikan SD dengan kontribusi 0,03 persen.

“Tahun 2024, biaya pendidikan SD masih tinggi terhadap inflasi bulan Juli, mencapai 0,04 persen,” kata Kepala BPS Kota Malang, Umar Sjaifuddin, kemarin (10/8). Tahun ini, andilnya sedikit turun menjadi 0,03 persen.

Secara month-to-month pada Juli 2025, inflasi disumbang 0,09 persen dari sektor pendidikan. Rinciannya, biaya SD 0,03 persen, TK 0,03 persen, dan kursus bahasa asing 0,02 persen. “Permintaan pasar otomatis melonjak, seperti kebutuhan seragam, biaya pendaftaran sekolah, hingga biaya les,” ujar Umar.

Lonjakan harga ini disebutnya wajar karena tiap tahun selalu ada penyesuaian biaya pendidikan, dipengaruhi inflasi dan kondisi ekonomi global. Akibatnya, sektor pendidikan menjadi “langganan” penyumbang inflasi di pertengahan tahun.

Namun, tak semua pihak diuntungkan. Toko Buku Togamas Malang, yang biasanya panen penjualan peralatan sekolah, justru mengalami penurunan omzet. “Pembelian tas, buku, hingga pensil turun 60 persen dibanding tahun lalu,” kata Manager Store Togamas Dieng, Majad.

Biasanya, puncak keramaian terjadi sepekan setelah masuk sekolah. Tapi tahun ini lebih sepi. Majad menduga penurunan daya beli masyarakat akibat tekanan ekonomi global menjadi penyebab utama. (aff/adn)

Editor : A. Nugroho
#BPS Kota Malang #pendidikan #inflasi