MALANG KOTA - Skema operasional Bus Trans Jatim di Malang Raya terus dimatangkan. Rutenya terus digodok. Begitu juga dengan komunikasi bersama paguyuban sopir angkot. Sebab, ada rencana melibatkan sopir angkot sebagai pengemudi Bus Trans Jatim.
Rencana itu mencuat setelah perwakilan paguyuban sopir angkot mempertanyakan kompensasi yang diberikan jika Bus Trans Jatim mengaspal di Malang Raya. Sebelumnya, Ketua Serikat Sopir Indonesia (SSI) Kota Malang Stefanus Hari Wahyudi menyampaikan kalau adanya Bus Trans Jatim harus disertai dengan mekanisme yang jelas. Dia juga menanyakan kompensasi bagi sopir angkot.
Contoh kompensasinya bisa melalui subsidi BBM, pemutihan, kemudahan uji KIR, hingga keterlibatan angkot menjadi feeder (angkutan pengumpan). Dengan demikian, angkot yang masih ada bisa tetap hidup. Menanggapi pernyataan Stefanus, Kepala Bidang (Kabid) Angkutan Jalan Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur Ainur Rofiq menjelaskan kalau pihaknya terus menyusun skema agar keberadaan Bus Trans Jatim bermanfaat.
Terutama untuk masyarakat dan tidak mematikan angkot yang eksisting. ”Kami tetap mengutamakan dampak sosial,” ucapnya. Kompensasi atau win-win solution itu, lanjut Rofiq, akan disesuaikan dengan kondisi yang ada. Sebagai contoh, memberi kesempatan bagi sopir angkot untuk menjadi sopir Bus Trans Jatim atau sopir feeder.
”Nanti kami didik mengenai cara berlalu lintas dan SIM-nya akan disesuaikan,” tambah Rofiq. Selain menentukan solusi bagi sopir angkot, dalam waktu dekat pihaknya juga berencana melakukan tracing atau mencari rute yang tepat untuk dilewati Bus Trans Jatim.
Menurut Rofiq, Kota Malang menjadi daerah yang paling banyak bersinggungan dengan rute Bus Trans Jatim. Persentasenya mencapai 80 persen jika dibandingkan dengan Kota Batu dan Kabupaten Malang. Dia memberi contoh, untuk Kabupaten Malang yang terdampak hanya sebagian kawasan di jalan Desa Landungsari, Kecamatan Dau.
Selanjutnya mereka akan mendata trayek yang ada di Malang Raya yang berpotensi bersinggungan dengan rute Bus Trans Jatim. Selain itu, juga ada rencana menyusun skema rerouting atau pengalihan rute beberapa trayek angkot. ”Pekan ini kami mulai proses tracing,” ungkap Rofiq.
Rofiq berharap, Agustus ini pihaknya sudah mendapat skema pasti. Sehingga koordinasi dengan penyedia bus bisa segera dilakukan. Terpisah, Stefanus atau yang biasa disapa Sam Obek menilai kalau kesempatan menjadi sopir Bus Trans Jatim akan menyusahkan sopir angkot.
Sebab menjadi sopir bus tentu perlu penyesuaian SIM, usia, hingga persyaratan lainnya. ”Paling tidak kami dilibatkan sebagai feeder dengan menggunakan kendaraan yang sudah ada,” kata Sam Obek. Selebihnya, dia meminta Dishub Kota Malang dan Dishub Provinsi Jawa Timur melakukan sosialisasi kepada paguyuban sopir mengenai mekanisme Bus Trans Jatim. (mel/by)
Editor : A. Nugroho