Di UB, Pembelajaran Juga Digelar secara Daring dan Luring
MALANG KOTA - Pembukaan program studi (prodi) baru jadi salah satu dasar dua kampus negeri di Kota Malang menambah kuota jalur mandiri. Contohnya Universitas Brawijaya (UB), yang membuka dua prodi anyar untuk mahasiswa baru (maba). Yang pertama yaitu Prodi Bioinformatika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
Tahun ini, prodi itu memiliki daya tampung 60 maba. Selanjutnya ada Prodi Industri Peternakan Cerdas di Fakultas Peternakan. Prodi tersebut berdaya tampung 100 maba. Sementara di Universitas Negeri Malang (UM), jumlah prodi barunya lebih banyak. Totalnya ada sembilan.
Mulai dari Prodi Hukum, Gizi, Arsitektur, Keperawatan, Kebidanan, Pariwisata, Aktuaria, Sains Aktuaria, hingga S3 Akuntansi. Kesembilan prodi baru itu memiliki daya tampung 100-an maba (selengkapnya baca grafis). Seperti diberitakan, tahun ini UB dan UM menerima tambahan 5.123 maba dari jalur mandiri.
Terbanyak di UB dengan tambahan 3.603 maba dibanding tahun sebelumnya. Sementara di UM ada tambahan 1.520 maba dari jalur tersebut. Saat ini, total keseluruhan mahasiswa di UM berjumlah 45 ribu. Mereka tersebar di tiga kampus dengan gedung induk di Jalan Semarang, Kecamatan Lowokwaru.
Banyaknya jumlah mahasiswa itu membuat jumlah ruang perkuliahan semakin terbatas. ”Kami menyiasati keterbatasan ruang perkuliahan itu dengan memberlakukan kuliah malam,” ujar Wakil Rektor II UM Prof Dr Puji Handayati SE Ak MM CA CMA. Tahun sebelumnya, jadwal perkuliahan luring maksimal pukul 18.00. Setelah itu gedung-gedung perkuliahan mulai dipadamkan dan disterilkan dari mahasiswa.
Pada tahun ini UM memperpanjang sesi perkuliahan hingga pukul 20.30. Sebab, mereka memberlakukan aturan kuliah 100 persen luring. Tidak ada pembelajaran daring seperti yang diterapkan saat Pandemi Covid-19 dulu. Langkah itu diambil UM karena rasio dosen dan mahasiswa sudah sesuai kriteria.
Dasarnya yakni Permenristekdikti Nomor 2 Tahun 2016 tentang registrasi pendidik pada perguruan tinggi. Serta Surat Edaran BAN-PT Nomor 1041/BANPT/LL/2020. Rasio dosen dan mahasiswa untuk rumpun sains dan teknologi (saintek) yakni 1:30. Sementara rumpun sosial dan humaniora (soshum) 1:45.
”Dosen kami saat ini ada 1.326 yang aktif, ditambah 400 dosen dari praktisi mengajar,” lanjut Puji. Melihat angka itu, jumlah tenaga pengajar dianggap mencukupi. Hanya ruang perkuliahan saja yang terbatas. Sehingga mereka harus memperpanjang sesi perkuliahan sampai malam hari.
Sebagai contoh di Gedung Kuliah Bersama (GKB) terdapat 164 ruang kelas yang bisa digunakan. Tahun ajaran sebelumnya, ruang-ruang itu hanya digunakan untuk 1 sampai 4 sesi perkuliahan. Saat ini bisa digunakan 5 hingga 6 sesi perkuliahan.
Serupa dengan UM, jumlah dosen dan mahasiswa di UB juga diklaim ideal. Totalnya ada 2.500 dosen yang bertugas. Sementara jumlah mahasiswanya mencapai 72 ribu. Untuk menyiasati banyaknya mahasiswa, UB juga memberlakukan perkuliahan hingga malam hari. Batas maksimalnya sampai pukul 21.00.
Aktivitas hingga malam hari itu juga belum bisa menampung seluruh kebutuhan jam perkuliahan mahasiswa. Karena itu, UB mengeluarkan kebijakan untuk membebaskan skema perkuliahan. Persentasenya 50 persen luring dan 50 persen daring. Aturan itu disadur dari Permendikbudristek Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.
Dalam pasal 14 ayat 1 disebutkan bahwa pelaksanaan pembelajaran bisa diselenggarakan dengan memberikan fleksibilitas. Salah satunya membebaskan pembelajaran dilakukan tatap muka, jarak jauh termasuk daring, atau kombinasi tatap muka dan jarak jauh. ”Asal porsinya seimbang dan tetap memenuhi ketentuan per SKS (Sistem Kredit Semester),” ujar Arif Hidayat SKom MM, Sekretaris Direktorat Administrasi dan Layanan Akademik (DALA) UB.
Tiap SKS sama dengan 45 jam pembelajaran dalam satu semester. Dengan rincian, 2,8 jam per minggu untuk praktikum atau keterampilan klinis dan 100 menit per minggu untuk tatap muka. UB juga memiliki tiga kampus aktif yang tersebar di Kota Malang dan Kediri. Sementara satu kampus lagi masih dalam proses pembangunan di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.
Kampus I UB yang berada di Jalan Veteran, Kecamatan Lowokwaru yang paling kewalahan menampung mahasiswa. Luas kampus di tengah Kota Malang itu 48 hektare. Namun sudah tidak ada lahan lagi untuk memperluas bangunan. Sementara di dua kampus lain juga sudah penuh meski tidak sampai kuliah malam. ”Apalagi kalau kampus I itu dibangun ke atas, tentu tidak memungkinkan karena gedung kami sudah tinggi-tinggi,” papar Arif.
Sembari menunggu pembangunan kampus baru, pihaknya terpaksa memberlakukan sistem perkuliahan secara daring dan luring. Di samping itu, pihaknya juga memantau reaksi mahasiswa yang sudah terbiasa kuliah daring. Namun Arif menekankan proses perkuliahan itu juga melibatkan persetujuan mahasiswa.
Di tempat lain, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UB Azka Rasyad Alfatdi mengaku belum menemukan permasalahan mahasiswa yang protes terkait persentase perkuliahan luring dan daring. Sebab itu sudah disosialisasikan pada momen orientasi mahasiswa baru atau dikontrak awal masa kuliah. ”Kalau di fakultas saya maksimal pukul 18.00 perkuliahan, tapi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) ada yang sampai jam delapan malam,” kata Azka.
Dia memastikan bahwa pihaknya tetap memantau proses perkuliahan yang baru terlaksana lagi pada dua pekan ini. Dia juga berjanji bakal terus mengakomodir laporan apabila di kemudian hari ada dosen yang melebihi batas maksimum perkuliahan daring-luring. Meski agak padat, dari pantauannya semua perkuliahan berjalan lancar.
Di tempat lain, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) menambah empat prodi baru untuk program sarjana. Yang pertama ada prodi teknik elektronika dengan kuota 81 mahasiswa. Kemudian prodi teknik lingkungan dengan kuota 91 maba. Selain itu ada teknik mesin yang memiliki kuota 84 maba dan teknik sipil dengan kuota 95 maba.
Dikutip dari laman resmi UIN Maulana Malik Ibrahim, tahun ini mereka menerima total 5.362 maba. ”Kalau total mahasiswa tahun akademik 2025/2026 sebanyak 21.265 orang,” kata Kepala Bagian Keuangan dan Akuntasi UIN Maliki Hanik Tasnida. Secara umum, saat ini kapasitas kelas masih mencukupi.
Hanik menyebut, kalau kampus satu memiliki kapasitas untuk 4 ribu mahasiswa. Lalu kampus 2 berkapasitas 200 mahasiswa. Sedangkan kampus 3 kapasitasnya 1.500 mahasiswa. Para mahasiswa juga masuk secara bergantian, sehingga fasilitas yang ada masih mencukupi. ”Kegiatan perkuliahan pun sampai sekarang bisa dilakukan secara daring,” imbuh Hanik. (aff/mel/by)
Editor : A. Nugroho