BATU – Angka kehamilan usia dini di Kota Batu terbilang tinggi. Sepanjang tahun ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat ada 31 kasus kehamilan anak. Namun, angka tersebut lebih rendah dibanding tahun lalu yang jumlahnya mencapai 43 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu, dr Susana Indahwati, mengatakan mayoritas kehamilan berada di usia berkisar 15 tahun.
Mirisnya, kasus kehamilan anak kerap baru terkuak saat usia kandungan sudah banyak. “Bahkan beberapa baru diketahui menjelang persalinan,” ungkapnya.
Susan menyebut ada beberapa risiko dari kehamilan di usia yang belum matang. Misalnya berpotensi terjadinya komplikasi seperti hipertensi, preeklamsia, hingga pendarahan hebat saat persalinan.
Kondisi itu menyebabkan potensi besar kelahiran bayi prematur atau Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) hingga kematian. Untuk itu, peran orang tua sangat penting dalam mengontrol pergaulan anak dan aktivitas dalam media sosial.
“Orang tua juga perlu memberikan edukasi tentang seks dan kesehatan reproduksi sejak dini,” jelasnya.
Susan mengaku pihaknya melakukan upaya serupa, seperti menggelar workshop di berbagai satuan pendidikan. Menurutnya, guru juga memiliki peran dalam mengedukasi siswa terkait pentingnya menjaga diri sendiri, terutama mencegah anak-anak terjerumus ke pergaulan bebas.
Dengan begitu, fenomena tersebut mendapat perhatian dari segala pihak.
Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Batu, Amida Yusiana, mengaku baru mencatat satu kasus kehamilan anak pada tahun ini.
Sebab, tidak semua kasus dilaporkan ke Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga). Anak yang mengalami kehamilan tidak diinginkan akan mendapatkan pendampingan baik secara fisik maupun psikologis.
Hal itu dilakukan untuk memberikan kontrol kesehatan hingga persalinan. Bahkan, Amida juga mengaku kerap membantu hingga pengurusan dispensasi nikah pascamelahirkan.
Angka kehamilan usia anak masih tinggi lantaran peran orang tua yang semakin berkurang. “Misalnya, tidak mendapat perhatian penuh karena broken home. Sehingga, mereka mencari kesenangan di luar dan akhirnya kebablasan,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho