Rekrut Anggota dengan Jalan Kaki Keliling Desa
Dari bilik kecil di Losmen Kawi, enam seniman merintis Pondok Seni Batu. Komunitas seni yang lahir pada 1982 itu kini menjadi rumah bagi perupa di Kota Batu hingga menggagas berdirinya Galeri Raos. Dengan karya-karya mereka, tersimpan kisah perjuangan yang tak pernah lekang oleh waktu.
LANGIT senja mulai merunduk di atas Kota Batu. Angin dari lereng Gunung Panderman menyusupi celah-celah dinding Losmen Kawi, bangunan lawas yang berdiri setia di tengah denyut kota. Di sebuah bilik bernomor 16, enam lelaki berkumpul.
Kuas dan cat di tangan mereka bukan sekadar alat, tapi perpanjangan rasa yang menari-nari di atas kanvas putih. Waktu itu tahun 1982. Mereka berbincang hangat tentang seni lukis, tentang mimpi, tentang perlunya ruang bersama untuk bernaung.
Bilik kecil itu menjadi saksi lahirnya sebuah komunitas yang kelak menjadi tonggak sejarah seni rupa di Kota Batu, Pondok Seni Batu. Enam seniman itu adalah Andri Suhelmi Soeid, Djoeari Soebardja, Badrie, Mohammad Watoni Soeid, Syamsu Soeid, dan Helmy.
Dalam cahaya lampu temaram dan aroma cat minyak yang lekat, satu gagasan terbit. Gagasan sederhana, namun dengan nyala yang panjang. Mendirikan sebuah wadah bagi para pencinta lukisan di Batu.
Ide itu dilontarkan oleh Andri Suhelmi Soeid. Disambut anggukan tanpa banyak pertimbangan. Sejak saat itu, mereka menyebut diri sebagai Pondok Seni Batu.
Tak ada pelatihan formal. Tak ada pendanaan. Bahkan tidak ada tempat tetap. Namun mereka punya satu hal yang sama, cinta pada seni rupa. Dari Losmen Kawi, mereka menapaki jalan panjang, bukan hanya secara simbolis, tapi sungguh-sungguh dengan berjalan kaki.
Mohammad Watoni Soeid yang saat itu masih duduk di bangku SMA Negeri 1 Malang mengingat betul bagaimana ia dan kawan-kawan mengelilingi desa demi desa. Dari satu rumah ke rumah lainnya. Mereka mencari tanda-tanda keberadaan sesama pencinta seni. Rumah yang dindingnya memajang lukisan atau jendela yang menampakkan kuas dan kaleng cat, selalu menjadi petunjuk awal.
”Kalau ada rumah dengan pajangan lukisan, kami datangi. Tanyakan siapa pelukisnya. Siapa yang suka menggambar. Dari situ kami ajak bergabung,” tutur Watoni mengenang masa awal penuh semangat itu.
Kegiatan itu mereka lakukan bergiliran, kadang berdua, kadang bertiga. Jalan kaki berkilometer, dari pusat Kota Batu hingga pinggiran Kecamatan Bumiaji dan Desa Sidomulyo. Perlahan, jumlah anggota bertambah. Pada tahun 1990, tercatat sudah ada sekitar 25 anggota aktif.
Tak ada tanggal resmi berdirinya komunitas ini. Namun agar mudah diingat dan tetap terhubung dengan semangat nasionalisme, 17 Agustus 1982 dipilih sebagai hari lahir Pondok Seni Batu.
Nama "Pondok Seni Batu" sendiri dicetuskan oleh Djoeari Soebardja. Pilihan kata "pondok" tak sembarangan. Bagi mereka, pondok bermakna rumah yang penuh kasih, tempat berlindung sekaligus belajar. Tempat di mana seni bukan hanya soal teknik, tapi tentang hati, spiritualitas, dan keterikatan antar insan.
”Kalau ada yang sakit, kami pasti tahu. Langsung jenguk, bantu sebisanya. Sudah seperti keluarga,” ujar Watoni.
Langkah awal mereka dalam menunjukkan karya ke publik tak selalu mulus. Pameran pertama digelar di MTs Hasyim Asy’ari, sekolah yang letaknya tak jauh dari pusat kota. Karya yang dipajang jumlahnya tak sampai sepuluh. Bahkan beberapa hanya puisi dan sketsa seadanya. Namun dari sinilah mereka mulai dikenal.
Di sela perjuangan, mereka juga pernah mengamen. Masih dengan jalan kaki. Mereka membawa gitar dan puisi menyusuri jalan dari Losmen Kawi ke Desa Sidomulyo. Kadang hingga ke Pesanggrahan.
Hasilnya tak seberapa. Tapi cukup untuk membeli cat merek Greco dan makan bersama. ”Dulu belum ada toko cat lukis di Batu. Saya yang ke (Kota) Malang untuk beli,” tutur Watoni sambil tersenyum.
Puncak pertama dari jerih payah itu hadir pada 1992. Tahun itu, pameran besar pertama mereka digelar di Galeri Raos, sebuah gedung tua bekas Kantor Departemen Penerangan. Berkat inisiatif Maskuri, kepala kantor waktu itu, gedung tersebut difungsikan sebagai pusat seni. Raos, yang dalam bahasa Jawa berarti "rasa" menjadi simbol tempat bernaung bagi ekspresi dan perasaan para seniman.
Galeri Raos bukan hanya tempat pameran. Ia menjadi ruang diskusi, workshop, hingga pertemuan rutin komunitas. Di sanalah, selama lebih dari tiga dekade, seniman-seniman Pondok Seni Batu terus tumbuh dan beregenerasi.
Kini, komunitas yang dulu bermula dari enam orang itu telah menjadi yayasan resmi sejak 2020. Keanggotaannya terus bertambah. Ada sekitar 60 orang, dengan 25 di antaranya aktif dan produktif berkarya. Beberapa bahkan telah melanglang buana ke berbagai negara. Djoeari Soebardja sempat berpameran di Amerika Serikat. Watoni ke Malaysia dan Vietnam.
Namun, nama Pondok Seni Batu kadang masih tenggelam di balik reputasi para anggotanya. ”Sering kali senimannya dikenal, tapi nama komunitasnya tidak,” ujar Watoni sambil terkekeh.
Meski demikian, tidak ada keluh di balik ucapannya. Bagi mereka, seni adalah napas. Dan Pondok Seni Batu adalah rumah. Rumah yang dibangun dari kepingan mimpi, dari kerja keras, dari langkah kaki yang tak pernah lelah menyusuri kampung-kampung demi satu hal, menghidupkan seni di jantung Kota Batu.
Kini, puluhan tahun setelah bilik kecil itu menjadi saksi perbincangan hangat di tahun 1982, nyala Pondok Seni Batu belum padam. Bahkan semakin terang. Menerangi generasi baru seniman yang terus tumbuh di kota yang tak pernah kehabisan warna. (*/adn)
Editor : A. Nugroho