Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Lima Kawasan di Kota Malang Rawan Banjir, Pemkot Malang Lakukan Ini

A. Nugroho • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 16:53 WIB

SOLUSI BANJIR: Box culvert ditanam di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta, Lowokwaru untuk mengalirkan genangan air yang merendam ruas jalan setiap musim hujan.
SOLUSI BANJIR: Box culvert ditanam di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta, Lowokwaru untuk mengalirkan genangan air yang merendam ruas jalan setiap musim hujan.

 

MALANG KOTA – Jelang musim hujan, warga Malang patut waspada. Terutama yang bermukim di kawasan langganan banjir.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang mengungkap, masih ada lima kawasan rawan banjir.

Angkanya menyusut dibanding beberapa tahun lalu sebelum Pemkot Malang menerapkan masterplan drainase anti-banjir (selengkapnya baca grafis)

 

Banjir dari Tahun ke Tahun

Tahun Bencana Banjir

2022 98 kejadian

2023 224 kejadian

2024 139 kejadian

2025 81 kejadian (Januari-Maret)

 

Ancaman Banjir

 

Kawasan Rawan Banjir Besar

 

Titik Banjir yang Terurai

 

Kepala BPBD Kota Malang Prayitno mengatakan, penyebab lima kawasan rawan banjir karena drainase tidak optimal dalam menyerap air hujan. Kondisi serupa terlihat di Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Kedawung, dan beberapa titik lain.

"Drainase di Soehat (Jalan Soekarno-Hatta) sedang proses pengerjaan,” ujar Prayit kemarin. ”Untuk kawasan lainnya bisa diminimalkan risiko banjir dengan pengerukan sedimen pada saluran drainase," tambah pejabat eselon II B Pemkot Malang itu.

Sedangkan untuk Jalan Galunggung, dia melanjutkan, penyebab banjir karena berada di cekungan. Ditambah dengan belum berfungsinya drainase jacking di Jalan Bondowoso, sehingga memperparah keadaan di Jalan Galunggung. 

Prayit menuturkan, BPBD memiliki tugas dan fungsi (tusi) untuk mitigasi dan penanganan bencana.

Yang berfokus pada sisi masyarakat. Untuk teknis pengurangan genangan, penanggung jawab teknis adalah Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang.

"Penanganan banjir terus berproses melalui DPUPR. Setelah Soehat, pengajuan bantuan dilakukan di Jalan Letjen Sutoyo dan Jalan Bondowoso,” kata dia. 

Selain lima kawasan tersebut, dia menyebut dua kawasan terancam banjir besar. Yaitu permukiman di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas dan Sungai Amprong. Untuk Brantas, terjadi luapan banjir besar pada 2022 lalu.

Sedangkan di Sungai Amprong, banjir besar menerjang pada Desember 2024. "Tahun ini petugas akan kami siagakan memantau dua aliran sungai tersebut," papar Prayit. 

BPBD juga telah melakukan pelatihan mitigasi kepada warga yang tinggal di kawasan atau permukiman rawan banjir.

Tahun ini dia menggelar dua kali pelatihan. Selanjutnya pelatihan akan dilakukan di lokasi bekas kejadian bencana.

"Lokasi banjir 2024 lalu di Gang Mirej (Lesanpuro), akan menjadi lokasi pelatihan. Agar masyarakat tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga praktik di lapangan," tandasnya. 

Berbeda dengan BPBD, DPUPRKPK menyebut ada delapan titik rawan banjir. Jumlahnya menyusut dibanding dua tahun sebelumnya, yakni 36 titik. Penyusutan terjadi karena banyak titik banjir yang ditanggulangi setelah masterplan drainase anti-banjir berlaku.

Analis Sumber Daya Air Bidang Bina Marga DPUPRPKP Kota Malang Yocky Agus Firmanda menjelaskan, penyebab banjir yang masih belum teratasi karena berbagai faktor. Di antaranya aliran air setiap musim hujan yang berasal dari Kota Batu.

"Karena di atas (Kota Batu) banyak dibangun villa, tangkapan air atau catchment area semakin berkurang," kata Yocky. Alhasil aliran air dari Sengkaling kiri maupun Sengkaling kanan meluap ke Kota Malang.

Selain karena luapan dari Kota Batu, dia mengatakan, juga karena kondisi drainase di Kota Malang yang perlu ditingkatkan kapasitasnya. Kondisi drainase ada yang penuh dengan sampah, sedimen, hingga bentuknya tidak seragam.

Ada drainase yang mengalami bottleneck atau terhalang oleh komponen lain. Oleh karena itu, pemkot merampungkan masterplan drainase anti-banjir pada 2022.

Tujuannya untuk memetakan drainase yang kapasitasnya harus ditingkatkan maupun lokasi yang membutuhkan drainase baru.

Untuk mengatasi air dari Sengkaling kiri, pemkot membuat pemetaan drainase agar air bisa mengalir dari kawasan Soekarno-Hatta, Jalan Sulfat, dan berakhir di Sawojajar. Sementara air dari Sengkaling kanan diarahkan menggunakan jaringan drainase yang menuju kawasan Dieng.

  "Namun dalam mengoptimalkan jaringan drainase, membutuhkan proses secara bertahap," tegas Yocky. 

Sebagai contoh pada 2023, ada sekitar 35 titik drainase yang ditingkatkan kapasitasnya maupun mendapat drainase baru.

Di antaranya drainase di Jalan Peltu Sujono (Gang Matahari), Jalan Langsep, Jalan Kalpataru, Jalan Raya Tlogowaru, dan Jalan Buring. Selain drainase, pemkot juga membangun bozem di Tunggulwulung.

Pembangunan bozem di Jalan Angklung, Tunggulwulung itu untuk menanggulangi banjir di kawasan Kemirahan dan sekitarnya. Bozem tersebut memiliki kapasitas 2.871 meter kubik.

"Jika jaringan drainase di kawasan Soekarno-Hatta dan sekitarnya rampung, luapan air tidak mengarah ke kawasan Kemirahan atau ke monumen pesawat," imbuh Yocky.

Namun saat ini jaringan drainase lain masih berproses. Jika seluruh jaringan sudah rampung, Kota Malang diharapkan bisa bebas banjir pada 2028. 

Terpisah, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, ada dua hal yang menjadi kunci dalam penanganan banjir. Pertama, harus ada kesadaran masyarakat. Hal itu ditunjukkan dengan perilaku tidak membuang sampah sembarangan.

"Meskipun drainase diperbaiki, kalau sampah menumpuk akhirnya tidak berfungsi maksimal. Saya pernah jumpai di Soehat, sedimen sangat tebal ya sama saja," ungkapnya.

Kunci kedua, dia melanjutkan, komunikasi intens pemerintah dengan masyarakat. Menurut dia, perlu kontribusi warga untuk memberikan peringatan dini jika terdapat potensi bencana banjir besar.(adk/mel/dan)

Editor : A. Nugroho
#Banjir #Hujan #titik #lima #malang #kota #Suhat #kawasan