Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Operasional Bus Trans Jatim Tunggu Kepastian Pemkot Malang

Mahmudan • Jumat, 10 Oktober 2025 | 17:23 WIB
PERLU FEEDER: Sebagian angkot yang beroperasi di Kota Malang akan terdampak Bus Trans Jatim. Mereka harus dicarikan solusi agar tetap bisa menafkahi keluarga
PERLU FEEDER: Sebagian angkot yang beroperasi di Kota Malang akan terdampak Bus Trans Jatim. Mereka harus dicarikan solusi agar tetap bisa menafkahi keluarga

MALANG KOTA – Progres operasional Bus Trans Jatim di Malang raya masih jalan di tempat. Meski fasilitas pendukung sudah mulai disiapkan, Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur belum berjalan. Alasannya, masih menunggu kepastian pengadaan feeder atau angkot pendukung dari Pemkot Malang.

Kepala Bidang Angkutan Jalan Dishub Provinsi Jawa Timur Ainur Rofiq memaparkan, pemprov tidak bisa mengakomodasi seluruh angkot yang nantinya terdampak rute bus Trans Jatim, sehingga memerlukan peran masing-masing pemda. ”Karena kewenangan kami hanya pada bus Trans Jatim sebagai angkutan aglomerasi yang menghubungkan antar-daerah seperti di Malang Raya," ucap Rofiq, kemarin (9/10).

Sementara feeder termasuk angkutan di tingkat lokal, sehingga pengadaannya masuk ranah pemda, termasuk Pemkot Malang.

Dishub Jatim berharap pemkot bisa melakukan pengadaan feeder secara mandiri. Menurut dia, pengadaan feeder bukan berarti harus membeli armada baru.

Namun bisa memanfaatkan angkot-angkot yang ada untuk menghubungkan pengguna di kawasan kecil ke halte atau rute Bus Trans Jatim.

”Kalau ada (armada) yang baru lebih bagus, tapi disesuaikan dengan kondisi fiskal pemkot saja,” tegas Rofiq. Rofiq melanjutkan, apabila ada kepastian mengenai feeder, pihaknya tinggal melakukan pengadaan 15 bus. Dia menyebut, rencananya armada akan dioperasikan oleh PT Bagong Dekaka Makmur.

Sementara untuk karoseri, dishub menjalin komunikasi dengan PT Tentrem Sejahtera.
Terkait kapasitas bus, Rofiq menyatakan bisa menampung 30 penumpang. Para penumpang nantinya bisa menggunakan 20 kursi dan 10 handle grip atau gantungan tangan yang tersedia di dalam bus.

Selain armada, dishub juga sudah menghitung kebutuhan untuk sopir. Ada 30 sopir yang dibutuhkan. Meliputi sopir utama dan sopir cadangan.

"Satu sopir tidak bekerja seharian penuh, tapi bergantian, karena mereka juga perlu beristirahat," imbuh Rofiq.

Untuk kebutuhan sopir bus, pihaknya berencana merekrut sebagian sopir angkot yang mau terlibat. Sementara sopir angkot lainnya bisa tetap menjalankan operasional seperti biasanya.

Rofiq menegaskan, pihaknya juga sudah beberapa kali menemui paguyuban sopir angkot. Dari pertemuan tersebut, sopir angkot setuju dengan beroperasinya Bus Trans Jatim. Di sisi lain, mereka berharap pemkot bisa memaksimalkan angkot sebagai angkutan pelajar.

Selanjutnya dari segi halte, pihaknya tinggal memasang rambu-rambu. Tujuannya sebagai penanda tempat pemberhentian bus di titik-titik tertentu. Namun titik-titik tersebut masih dimatangkan oleh Dishub Kota Malang.

”Sembari itu, kami juga akan membangun halte. Prosesnya cepat kok," terang pejabat eselon III A Pemprov Jawa Timur tersebut. Halte lain rencananya dibangun di tiga terminal. Yakni Terminal Hamid Rusdi, Terminal Landungsari, dan Terminal Kota Batu. Itu sesuai rute Bus Trans Jatim yang melintas dari Kota Malang ke Kota Batu.

Fasilitas juga akan dilengkapi seiring penerapan Bus Trans Jatim Koridor I Malang Raya. ”Yang terpenting sekarang, kami menunggu komunikasi dengan wali kota dulu. Karena 80 persen rute yang dilalui ada di Kota Malang,” sebutnya.

Sementara untuk Kabupaten Malang yang menginginkan kehadiran Bus Trans Jatim masih menunggu rampungnya koridor I. Nantinya terdapat dua koridor lain di Malang Raya. (mel/dan)

Editor : A. Nugroho
#operasional #Menunggu Kepastian #Malang Raya #feeder #Angkot #dishub #bus Trans Jatim